Arsip Kategori: film

Cara Distribusikan Film ke Bioskop: Aturan Penting

Proses Distribusi Film ke Bioskop dan Persyaratan yang Harus Dipenuhi

Film animasi Merah Putih: One For All saat ini sedang menjadi sorotan di berbagai media sosial. Banyak netizen mengkritik film ini karena dinilai kurang cocok untuk ditayangkan di bioskop. Selain alur ceritanya, kualitas visual animasi yang dianggap kurang memuaskan juga menjadi salah satu faktor perdebatan. Hal ini membuat banyak orang penasaran tentang bagaimana proses distribusi film ke bioskop.

Apakah cukup menyerahkan file film dan bisa langsung tayang di layar lebar? Ternyata, tidak semudah itu. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses pendistribusian film di Indonesia, penting bagi para sineas atau produser untuk memahami persyaratan yang harus dipenuhi sebelum film bisa ditayangkan.

Cara Mendistribusikan Film ke Bioskop

Ada beberapa jalur yang umum digunakan oleh produser untuk membawa filmnya ke layar lebar. Berikut beberapa cara utama:

  1. Melalui Festival Film

    Jalur ini sering digunakan oleh produser yang ingin memperkenalkan filmnya ke pasar global. Film bisa dikirimkan ke festival-festival dalam maupun luar negeri. Jika lolos seleksi, film akan diputar di festival tersebut dan dilihat oleh para distributor. Dari sini, peluang untuk mendapatkan kontrak distribusi ke berbagai bioskop akan semakin besar.

  2. Pendekatan Langsung ke Bioskop

    Bagi film yang belum masuk festival besar atau belum memiliki agen penjualan, produser bisa langsung menghubungi distributor film. Caranya adalah dengan mengidentifikasi distributor yang biasa menangani film dengan genre atau target pasar serupa. Selanjutnya, mereka perlu mengirimkan pitch berisi sinopsis singkat, alasan mengapa film cocok untuk mereka, trailer, hingga materi promosi lainnya.

  3. Self-Distribution (Distribusi Mandiri)

    Pendekatan ini biasanya dilakukan oleh sineas independen dengan menghubungi bioskop langsung tanpa melalui distributor. Produser harus menyiapkan semua kebutuhan teknis seperti Digital Cinema Package (DCP), materi promosi, serta strategi pemasaran mandiri. Dokumen-dokumen seperti sertifikasi sensor dan biaya pemutaran juga perlu disiapkan.

Syarat Bioskop Menerima Film

Selain cara distribusi, bioskop Indonesia juga memiliki ketentuan khusus sebelum memutuskan sebuah film layak tayang. Beberapa syarat utama antara lain:

  • Surat Tanda Lulus Sensor (STLS)

    Setiap film yang akan ditayangkan harus memiliki STLS dari Lembaga Sensor Film (LSF). Sertifikat ini mencantumkan klasifikasi usia penonton seperti SU (Semua Umur), 13+, 17+, atau 21+. Selain itu, semua elemen dalam film harus memiliki hak cipta yang sah.

  • Format Digital

    Bioskop Indonesia hanya menerima film dalam format digital sesuai standar perfilman, yaitu Digital Cinema Package (DCP). Distributor wajib menyerahkan file DCP kepada bioskop tujuan melalui kurir yang kemudian dihubungkan ke sistem manajemen teater (TMS) untuk tayang sesuai jadwal.

  • Kualitas Trailer

    Trailer sangat penting karena menjadi media pertama yang memperkenalkan cerita dan daya tarik film kepada calon penonton maupun pihak bioskop. Trailer adalah kesan pertama yang menjadi bahan pertimbangan awal tim pemrograman bioskop.

  • Waktu Penayangan Strategis

    Saat musim liburan, kompetisi antar rumah produksi untuk mendapatkan slot tayang di bioskop, terutama di Cinema XXI, sangat tinggi. Rekam jejak produksi sebelumnya menjadi salah satu faktor penentu.

Ketentuan Film Animasi yang Layak Masuk Bioskop

Saat ini, film animasi memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemar film di Indonesia. Kehadiran film animasi seperti Jumbo yang sukses menjadi film terlaris sepanjang sejarah perfilman Indonesia membuat banyak film animasi Indonesia mulai dilirik. Namun, film animasi Merah Putih: One For All yang akan tayang pada 14 Agustus 2025 menuai pertanyaan publik.

Film animasi tetap harus memenuhi ketentuan yang sama seperti film non-animasi. Hanya saja, ada tambahan beberapa standar teknis, seperti memiliki STLS dari Lembaga Sensor Film dan mematuhi penggolongan usia. Konten film juga harus sesuai norma, tidak mengandung kekerasan berlebihan, ujaran kebencian, atau muatan yang melanggar hukum.

Dari sisi teknis, spesifikasi rinci seperti resolusi, frame rate (FPS), audio, enkripsi/KDM, dan subtitle akan diminta sesuai kebijakan masing-masing jaringan bioskop atau post house yang melakukan mastering. Umumnya, produser diminta menyiapkan DCP dengan resolusi 2K/4K dan audio 5.1 atau 7.1 sesuai permintaan teater. Sebelum tayang, akan dilakukan pengecekan menyeluruh pada sinyal audio, color space, tingkat loudness, dan keterbacaan subtitle.

Hak cipta untuk film animasi juga dilindungi oleh UU Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 yang mengakui karya sinematografi termasuk film kartun atau animasi. Jadi, jangan ragu untuk mulai berkarya.

6 Karakter Anak Paling Berani dalam Film Horor 10 Tahun Terakhir

Bocah-Bocah Pemberani di Dunia Film Horor

Dalam dunia film horor, anak-anak sering kali digambarkan sebagai tokoh yang lemah dan membutuhkan perlindungan. Namun, tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi pahlawan dengan keberanian luar biasa. Keberanian ini muncul dari ketangguhan dan kecerdasan yang melampaui usia mereka, menciptakan kisah-kisah yang menarik dan menginspirasi.

The Losers Club dalam It (2017)

The Losers Club adalah salah satu contoh terbaik dari bocah-bocah pemberani dalam film horor. Tujuh anak ini berani melawan Pennywise, badut iblis yang menyeramkan. Mereka tidak menggunakan senjata canggih, tetapi bergantung pada persahabatan dan keberanian. Aksi mereka membuktikan bahwa kepolosan tidak selalu identik dengan kelemahan.

6 Bocah Pemberani Lainnya dalam Film Horor Terbaru

Selain The Losers Club, ada beberapa bocah lain yang berhasil mencuri perhatian dengan aksi heroik mereka. Berikut ini adalah enam karakter yang layak diperhitungkan:

1. Cole Johnson dalam The Babysitter (2017) dan The Babysitter: Killer Queen (2020)

Cole Johnson, diperankan oleh Judah Lewis, awalnya tampak seperti anak biasa yang sering menjadi korban bullying. Namun, ia memiliki nyali yang luar biasa. Dalam film pertama, ia mengetahui bahwa pengasuhnya ternyata anggota kultus. Dengan kecerdasannya, ia berhasil mengalahkan pemimpin kultus tersebut. Di sekuelnya, ia kembali bertarung demi melindungi seorang gadis.

2. Regan Abbott dalam A Quiet Place (2018) dan A Quiet Place: Part II (2020)

Regan Abbott, diperankan oleh Millicent Simmonds, adalah gadis tuli yang hidup dalam dunia di mana suara bisa berarti kematian. Ia memanfaatkan kondisinya untuk menyelamatkan keluarganya. Dalam film kedua, ia menjadi pemimpin sejati yang nekat meninggalkan keluarganya demi mencari sumber siaran radio misterius.

3. Becky Hopper dalam Becky (2020) dan The Wrath of Becky (2023)

Becky Hopper, diperankan oleh Lulu Wilson, adalah contoh bocah pemberani yang tak kenal takut. Ia menghadapi geng Neo-Nazi dan kelompok ekstremis dengan cara-cara kreatif dan brutal. Dalam film pertama, ia berubah dari anak marah menjadi pejuang tangguh. Senjata sederhananya seperti penggaris atau mesin pemotong rumput berhasil membuat musuhnya kalah.

4. Finney Blake dalam The Black Phone (2021)

Finney Blake, diperankan oleh Mason Thames, adalah bocah yang hidup dalam situasi terdesak. Setelah diculik oleh pembunuh berantai, ia menemukan telepon hitam misterius yang membantu komunikasi dengan korban sebelumnya. Dengan keberaniannya, ia berhasil kabur dan menghadapi sang pembunuh.

5. Kassie dalam Evil Dead Rise (2023)

Kassie, diperankan oleh Nell Fisher, adalah bocah cilik yang harus menyaksikan keluarganya berubah menjadi Deadite. Meski ketakutan jelas terlihat, ia menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia nekat melawan kakaknya yang sudah kerasukan dan membantu menghabisi makhluk menyeramkan.

6. Alex Lilly dalam Weapons (2025)

Alex Lilly, diperankan oleh Cary Christopher, adalah satu-satunya murid yang selamat setelah 17 teman sekelasnya hilang. Ia dipaksa menjadi antek penyihir Gladys demi menyelamatkan keluarganya. Namun, ia tidak hanya patuh, tetapi juga mencari celah untuk menang. Akhirnya, ia berhasil memancing anak-anak yang terhipnotis untuk menyerang Gladys.

Kesimpulan

Bocah-bocah ini membuktikan bahwa keberanian bisa datang dari tubuh kecil dengan tekad besar. Dari Cole hingga Alex, mereka semua menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu terletak pada ukuran, tetapi pada semangat dan keberanian. Jika kamu adalah penonton sekaligus jurinya, bocah mana yang akan kamu beri gelar pahlawan horor terbaik?

Sinopsis Film Sitaare Zameen Par, Kemanusiaan di Lapangan Basket

Film Sitaare Zameen Par: Kembalinya Aamir Khan dengan Pesan Kemanusiaan yang Menginspirasi

Film terbaru Sitaare Zameen Par menandai kembalinya Aamir Khan ke layar lebar setelah tiga tahun vakum. Film ini membawa kisah yang memadukan semangat olahraga dan kehangatan kemanusiaan, menghadirkan pesan yang dalam dan menyentuh hati penonton.

Disutradarai oleh R.S. Prasanna, film ini menyoroti perjalanan seorang pelatih basket yang awalnya enggan melatih tim beranggotakan pemain berkebutuhan khusus. Alur cerita mengikuti transformasi sang pelatih dari sikap sinis menjadi penuh empati, menemukan arti kemenangan yang sesungguhnya.

Pemain yang Membawa Warna di Sitaare Zameen Par

Film ini menghadirkan 10 aktor berkebutuhan khusus yang memerankan anggota tim basket. Mereka adalah Aroush Datta, Gopi Krishna Varma, Samvit Desai, Vedant Sharma, Ayush Bhansali, Ashish Pendse, Rishi Shahani, Rishabh Jain, Naman Mishra, dan Simran Mangeshkar. Berbeda dari banyak film yang menjadikan karakter disabilitas sebagai figuran atau latar belakang, di sini mereka menjadi inti cerita. Setiap tokoh memiliki latar belakang, kepribadian, dan konflik pribadi yang menambah kedalaman narasi.

Selain itu, Genelia D’Souza juga hadir sebagai Suneeta, mantan istri Gulshan, yang terlibat dalam salah satu perubahan penting di hidup sang pelatih.

Kisah Utama Film Sitaare Zameen Par

Kisah Sitaare Zameen Par berpusat pada Gulshan Arora (Aamir Khan), asisten pelatih basket di Delhi Sports Association. Karakternya digambarkan arogan, temperamental, dan kurang menghargai orang lain. Kehidupannya berubah drastis ketika, dalam sebuah pertandingan National Basketball League, ia berselisih dan memukul pelatih kepala, Paswan. Akibatnya, Gulshan diskors. Masalahnya semakin runyam ketika di hari yang sama, dalam keadaan mabuk, ia menabrak mobil polisi.

Di pengadilan, hakim memutuskan hukuman pengabdian masyarakat. Tugasnya: melatih sebuah tim basket yang anggotanya adalah orang-orang neurodivergen, termasuk penyandang autisme dan down syndrome. Awalnya, Gulshan memandang tim ini dengan sinis. Baginya, mengajar mereka bukan hanya sulit, tapi sia-sia. Namun, seiring waktu, interaksi yang terjadi mulai mengubah pandangannya. Dari hubungan yang canggung menjadi keakraban yang tulus, ia belajar bahwa kekuatan sejati tak selalu datang dari keterampilan, tapi dari hati yang mau memahami.

Perbedaan dengan Taare Zameen Par

Banyak yang mengira Sitaare Zameen Par adalah kelanjutan dari Taare Zameen Par (2007), film Aamir Khan yang ikonik. Namun, hubungan keduanya hanya sebatas semangat tematik: sama-sama mengangkat isu kemanusiaan dan inklusivitas. Jika Taare Zameen Par cenderung emosional dengan nada sedih, Sitaare Zameen Par membawa pesan yang lebih ringan dan optimis. Film ini mengajak penonton tertawa bersama para tokohnya, sekaligus merenung tanpa harus larut dalam kesedihan.

Tantangan Produksi dan Sensor

Menjelang perilisan, film ini sempat terhambat oleh permintaan CBFC (Badan Sensor Film India) untuk memotong dua adegan. Tim produksi, termasuk Aamir Khan dan R.S. Prasanna, menilai adegan tersebut penting untuk menjaga keutuhan pesan. Meski sempat berencana berdialog ulang dengan pihak sensor, pada akhirnya film ini tetap mendapatkan lampu hijau untuk tayang, mempertahankan jadwal rilis 20 Juni 2025.

Nilai Sosial yang Dibawa Film Ini

Daya tarik Sitaare Zameen Par tidak hanya pada cerita atau akting para pemainnya, tapi juga pada pesan sosial yang dibawanya. Film ini menunjukkan bahwa kesempatan yang setara bisa membuka ruang bagi setiap orang untuk bersinar, tanpa memandang keterbatasan fisik atau mental. Pendekatan produksi yang inklusif memberikan peran utama pada aktor berkebutuhan khusus, menjadi langkah penting dalam representasi di layar lebar. Penonton diajak melihat mereka bukan sebagai “penderita”, melainkan individu dengan bakat, tekad, dan mimpi.

Respons Penonton terhadap Trailer dan Filmnya

Trailer resmi yang dirilis sebelum penayangan mendapat sambutan luar biasa. Dalam hitungan hari, jumlah penonton di YouTube menembus 70 juta. Antusiasme ini berlanjut saat filmnya dirilis, terutama karena ini adalah comeback Aamir Khan setelah tiga tahun vakum pasca Laal Singh Chaddha (2022). Banyak penonton mengaku terkesan dengan chemistry para pemain, alur yang menyentuh, serta pesan positif yang dihadirkan.

Pelajaran Hidup dari Sitaare Zameen Par

Lebih dari sekadar drama olahraga, film ini adalah kisah tentang transformasi diri. Gulshan Arora yang awalnya sinis belajar arti empati, kesabaran, dan penerimaan. Ia menemukan bahwa kebahagiaan sejati sering kali datang dari memberi, bukan hanya menerima. Hubungannya dengan para pemain juga memengaruhi kehidupan pribadinya, termasuk memperbaiki komunikasi dengan mantan istrinya.

Sitaare Zameen Par adalah potret kehangatan yang lahir dari pertemuan manusia dengan latar belakang berbeda. Dengan perpaduan humor, drama, dan pesan moral yang kuat, film ini menjadi ajakan untuk melihat bahwa bintang di bumi itu nyata, mereka ada di sekitar kita, menunggu untuk bersinar.

Daftar Film Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Rekomendasi Film Sejarah Indonesia yang Bisa Menambah Wawasan

Film sejarah atau film tentang perjuangan bangsa sering kali menyajikan pesan-pesan penting yang bisa dijadikan teladan. Tidak hanya sebagai hiburan, film-film ini juga mampu memberikan wawasan tentang masa lalu yang memengaruhi kehidupan saat ini. Berikut beberapa rekomendasi film sejarah Indonesia yang patut ditonton, terutama saat memperingati hari kemerdekaan.

1. Perburuan (2019)

Film yang mengangkat cerita dari novel karya Pramoedya Ananta Toer ini berlatar belakang perjuangan Indonesia pada masa penjajahan Jepang. Diperankan oleh Adipati Dolken, film ini menceritakan perjalanan Hardo yang kembali ke kampung halamannya setelah pemberontakan PETA gagal. Ia harus bersembunyi dan menghadapi ancaman dari tentara Jepang. Cerita ini menunjukkan semangat perjuangan yang tidak pernah padam meskipun dalam kondisi sulit.

2. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta (2018)

Dalam film ini, Hanung Bramantyo mengangkat kisah tokoh besar Sultan Agung. Film ini tidak hanya menyajikan perlawanan terhadap VOC Belanda, tetapi juga menyisipkan kisah cinta antara Sultan Agung dengan Lembayung. Kombinasi antara politik dan cinta membuat film ini menjadi lebih menarik dan mendalam.

3. Kartini (2017)

Film ini mengangkat kisah Raden Ajeng Kartini, salah satu pahlawan wanita nasional. Berbeda dengan film-film lainnya, Kartini berjuang melalui pendidikan. Film ini menampilkan alur cerita yang maju-mundur dan menggambarkan perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

4. Rudy Habibie/ Habibie & Ainun (2016)

Film ini mengisahkan kisah hidup Rudy Habibie sebelum ia menjadi presiden. Film ini merupakan sekuel dari film sebelumnya yang lebih fokus pada hubungan romantis. Namun, versi 2016 ini lebih menyoroti kehidupan masa muda Habibie di Jerman dan konflik yang ia hadapi dalam mengambil peran untuk negara.

5. Jenderal Soedirman (2015)

Film ini menceritakan perjuangan Jenderal Soedirman selama masa kolonial Belanda. Meski mengalami sakit parah, ia tetap menjalani misi gerilya yang akhirnya berhasil melemahkan pasukan Belanda. Film ini cocok ditonton saat memperingati hari kemerdekaan.

6. Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)

Film ini mengisahkan perjuangan HOS Tjokroaminoto dalam memperjuangkan martabat masyarakat Indonesia. Disutradarai oleh Garin Nugroho, film ini menampilkan kisah nyata tokoh penting yang memperjuangkan keadilan dan hak rakyat.

7. Soekarno: Indonesia merdeka (2013)

Film ini mengisahkan kisah perjuangan Presiden pertama RI, Soekarno. Diperankan oleh aktor ternama, film ini menyajikan pidato-pidato inspiratif seperti “Indonesia Menggugat”. Film ini juga menggambarkan peran tokoh-tokoh nasional lain dalam proses proklamasi.

8. Bumi Manusia (2019)

Film ini bercerita tentang percintaan antara Minke dan Annelies Mellema. Hubungan mereka banyak mendapat hambatan dari masyarakat Belanda. Meski akhirnya menikah, mereka tetap menghadapi tantangan dari pihak keluarga dan pemerintah kolonial.

9. Sang Pencerah (2010)

Film ini mengangkat kisah Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Islam Muhammadiyah. Film ini mengajarkan nilai-nilai toleransi dan perubahan. Meskipun tidak berlatar belakang kemerdekaan, film ini tetap menyampaikan semangat perjuangan untuk melepaskan bangsa dari penindasan.

10. Kadet 1947 (2021)

Film ini mengisahkan perjuangan para Kadet yang melakukan aksi pengeboman untuk mempertahankan kemerdekaan. Dengan semangat jiwa muda, film ini menjadi daya tarik bagi penonton milenial. Film ini juga menggambarkan perjuangan tujuh orang Kadet dalam menghadapi agresi militer Belanda.

Film-film sejarah Indonesia tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran tentang perjuangan dan nilai-nilai luhur bangsa. Dengan menonton film-film ini, kita dapat lebih memahami sejarah dan menghargai perjuangan para pahlawan.

Sutradara Bicara Film Merah Putih: One For All dan Kontroversi

Penjelasan Endiarto Mengenai Film Merah Putih: One For All

Sutradara sekaligus produser eksekutif Endiarto akhirnya memberikan penjelasan terkait film animasi Merah Putih: One For All. Film ini akan tayang secara terbatas pada 14 Agustus 2025, tepat di momen perayaan kemerdekaan Indonesia. Namun, film ini mendapat berbagai kritik dari berbagai pihak, terutama terkait kualitas animasinya yang dinilai kurang memadai.

Endiarto menjelaskan alasan penggunaan judul dalam Bahasa Inggris. Meskipun film ini mengangkat tema kebangsaan dan dirancang untuk tayang pada momen penting tersebut, ia memilih judul Merah Putih: One For All karena dianggap lebih familiar bagi anak-anak, yang menjadi target pasar utamanya. “Kita kenapa pakai Bahasa Inggris, ini kan bahasa yang familiar dan mudah. Supaya familiar aja di telinga anak-anak, kan ini konsumsi untuk anak-anak, bukan untuk dewasa atau remaja,” ujarnya.

Selain itu, Endiarto juga menyampaikan harapannya untuk mengundang Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta Raffi Ahmad sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Sayangnya, ia mengaku tidak memiliki akses untuk mengirim undangan kepada mereka.

Terkait isu biaya produksi sebesar Rp 6,7 miliar, Endiarto membantahnya. Menurutnya, proyek ini dijalankan tanpa dana pasti. “Enggak ada catatan angka karena dari awal kita tidak dimulai dari angka, tapi niat hati masing-masing,” katanya. Semua orang yang terlibat dalam pembuatan film bekerja sesuai kemampuan masing-masing, dengan sistem gotong royong.

Endiarto juga menanggapi kritik Hanung Bramantyo yang merasa film ini terkesan terburu-buru dirilis. Ia menegaskan bahwa proses produksi dilakukan secara bertahap, mulai Mei tahun lalu. “Kita enggak ada buru-buru. Jadi kita sudah tahun kemarin, nah mulai Mei itu kita lakukan post-pro,” jelasnya.

Mengenai sumber dana, Endiarto kembali menegaskan bahwa proyek ini sepenuhnya mandiri tanpa bantuan dana dari pihak mana pun. “Kita ini sifatnya project gotong royong karena enggak ada dana, enggak ada bujet. Ditanya berapa bujet-nya, bujet-nya enggak ada, bujet-nya itu spirit,” katanya. Ia juga mengaku tidak menerima dana apapun dari pemerintah.

Film Merah Putih: One For All berhasil mendapatkan slot tayang di Cinema XXI meski banyak film lain sedang menunggu giliran. Endiarto mengatakan bahwa hal ini didasarkan pada pertimbangan momen spesial. “Kemungkinan, pertimbangan mereka juga seperti kami kali, melihat momen ini mereka ikut berpartisipasi, berkontribusi secara aktif mewarnai kemeriahan ini.”

Endiarto juga menjelaskan motivasi utamanya membuat film ini. Ia merasa prihatin karena tidak ada film bertema kebangsaan yang tayang di momen perayaan kemerdekaan. “Kami dari pekerja kreatif perfilman Indonesia di Pusat Usmar Ismail ini, kita terpanggil, masa kita enggak bisa sih, kita mampu kok, kita bisa,” katanya.

Meski sadar filmnya masih jauh dari sempurna, Endiarto ingin membuktikan bahwa para pekerja seni bisa menciptakan karya untuk anak-anak bangsa. Tujuan utamanya adalah untuk ikut memeriahkan perayaan HUT ke-80 RI. “Tujuan kita mewarnai. Ini hasil karya kami, sumbangsih kami, dana kami sendiri, effort kami sendiri, dan kami memberikan sumbangsih buat kemeriahan perayaan khusus 80 tahun ini.”

5 Film Thailand yang Menarik Dibintangi Kao Supassara

Kao Supassara Thanachart, Aktris yang Membawa Pesona dalam Berbagai Peran

Kao Supassara Thanachart telah lama menjadi sorotan publik berkat pesonanya dan kemampuan aktingnya yang luar biasa. Sejak awal kiprahnya di industri hiburan Thailand, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu aktris paling menjanjikan. Kemampuannya dalam memerankan berbagai karakter membuatnya mudah disukai oleh penonton dari berbagai kalangan.

Tidak hanya aktif dalam drama televisi, Kao juga tampil memukau dalam beberapa film layar lebar. Jika kamu sedang mencari referensi tontonan untuk mengisi waktu luang, berikut ini adalah lima rekomendasi film Thailand yang dibintangi oleh Kao Supassara.

1. The Swimmers (2014)

Film pertama Kao Supassara yang terkenal adalah The Swimmers. Film yang dirilis pada tahun 2014 ini dibintangi oleh Tor Thanapob, March Chutavuth, Violette Wautier, dan lainnya. Sutradara film ini adalah Jim Sophon Sakdaphisit.

Cerita film ini mengisahkan Perth (March Chutavuth) dan Tan (Tor Thanapob), dua sahabat dekat sekaligus perenang profesional yang selalu bersaing. Meski tampak kompak, Perth merasa iri dengan kemampuan atletik Tan yang lebih unggul. Ia juga cemburu karena Tan berpacaran dengan Ice (Kao Supassara). Persaingan antara mereka berubah menjadi tragedi setelah Ice meninggal dunia. Hal ini membuat Tan terpuruk dalam kesedihan dan memutuskan untuk mundur dari dunia renang karena depresi.

Setelah kehilangan Ice, Tan terobsesi untuk mengungkap misteri di balik kematian Ice dan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab. Di sisi lain, Perth mulai meraih kemenangan demi kemenangan di berbagai kompetisi. Popularitasnya melonjak drastis. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Perth mulai dihantui oleh arwah Ice. Bayangan Ice yang terus muncul perlahan mengganggu ketenangan hidup Perth, membuka kebenaran yang tak bisa ia hindari lagi.

2. About Us (2014)

Film pendek berjudul About Us dirilis pada tahun yang sama dengan The Swimmers. Dalam film ini, Kao Supassara beradu akting dengan JJ Krissanapoom dan Jack Kittisak. Faktanya, film ini merupakan proyek ke-22 dari 33 karya Bang Channel Thailand yang sedang mengembangkan industri film pendek.

Ceritanya tentang Teh (JJ Krissanapoom) yang harus berhadapan dengan perasaan terlarang. Ia menyukai Rin (Kao Supassara), pacar dari Boom (Jack Kittisak), sahabatnya sendiri. Teh terjebak di antara hubungan persahabatan dan cinta yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. Lalu, apa yang akan Teh pilih?

3. Buppha Ratree: A Haunting in Japan (2016)

Satu lagi film dengan cerita horor yang dibintangi Kao Supassara adalah Buppha Ratree: A Haunting in Japan. Film ini juga dibintangi oleh Nack Charlie dan Jack Chaleumpol. Film bergenre horor komedi ini sempat booming saat tayang pada 2016 lalu.

Ceritanya mengisahkan sebuah rock band Thailand yang melakukan perjalanan ke Jepang untuk syuting video musik berlatar salju. Mereka menginap di sebuah pondok sewaan resor ski Jepang yang indah. Tanpa mereka sadari, pondok tersebut ternyata berhantu dan dihuni oleh sejumlah arwah. Ada arwah seorang gadis Thailand bernama Ros (Kao Supassara) yang datang ke resor tersebut untuk menyembuhkan patah hatinya. Arwah Ros kemudian jatuh hati kepada vokalis band yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya. Apakah arwah Ros akan membiarkan para anggota band tenang atau justru mengganggu mereka?

4. The Moment (2017)

Jika kamu penikmat film romantis seperti Love Actually (2003), cobalah menonton The Moment. Film yang booming pada 2017 ini dibintangi oleh Kao Supassara, Tony Rakkaen, Toey Jarinporn, Yoo Teo, Kan Kantathavorn, Peach Pachara, dan lainnya. Film romantis nan hangat ini diarahkan oleh sutradara Peed Panchapong Kongkanoi.

Film ini berisi kisah cinta dari tiga pasangan di tiga negara berbeda. Praew (Toey Jarinporn) baru saja pindah ke New York untuk melanjutkan studinya. Di sana, ia bertemu dengan Jim (Toni Rakkaen), cowok Thailand yang mencuri hati Praew. Ada juga cerita Ton (Peach Pachara) yang rela terbang ke London demi mencari kekasihnya. Siapa sangka ia bertemu orang baru, seperti Jeab (Kao Supassara) yang membantunya menikmati hidup setelah putus cinta.

Kisah terakhir datang dari kota Seoul. Karn (Kan Kantathavorn) kesulitan dengan dunia korporat di Korea. Sebagai orang asing, ia merasa sulit beradaptasi di negeri orang. Untungnya, ia bertemu Kim (Yoo Teo) yang menghadirkan kehangatan hidup Karn di tengah dinginnya perlakukan orang Korea terhadapnya.

5. Love and Run (2019)

Terakhir, ada film Love and Run yang rilis pada 2019 lalu. Dalam film ini, Kao Supassara beradu akting dengan Chanon Santinatornkul, Joke Gornpop, Blue Pongtiwat, dan masih banyak lagi. Drama komedi romantis ini diarahkan oleh K Chainarong Tampong.

Love and Run bercerita tentang Lin (Kao Supassara), seorang perawat yang kesulitan mencari pacar. Ternyata, Lin susah mendapatkan pacar karena ponakannya, Due (Chanon Santinatornkul), yang sangat protektif dan tak ingin Lin dekat dengan cowok lain. Setiap ada cowok yang mendekati Lin, mereka akan berhadapan dengan Due sehingga berpikir dua kali untuk berhubungan dengan Lin.

Dari kisah cinta yang manis hingga cerita horor, deretan film yang dibintangi Kao Supassara menunjukkan betapa tingginya kemampuan aktingnya. Setiap peran yang ia mainkan membawa warna tersendiri. Ini membuat penonton betah mengikuti alur cerita sekaligus jatuh hati pada karakternya. Jika kamu ingin menyelami dunia perfilman Thailand, film-film Kao ini bisa jadi pilihan tepat untuk ditonton!