Arsip Tag: ekonomi
Inisiatif Jalur Sutra, Proyek Infrastruktur Tiongkok Global
Sejarah dan Perkembangan Belt and Road Initiative (BRI)
Belt and Road Initiative (BRI) adalah inisiatif infrastruktur global yang dipimpin oleh Tiongkok, bertujuan untuk memperkuat konektivitas antar negara di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin. Proyek ini mencakup pembangunan bandara, pelabuhan, jalan raya, jalur kereta api, serta jaringan telekomunikasi. BRI dirancang untuk meningkatkan perdagangan, investasi, dan kerja sama internasional. Meskipun ada berbagai pandangan mengenai dampaknya, BRI memberikan peluang besar dalam membangun hubungan ekonomi yang lebih kuat.
BRI terdiri dari dua komponen utama: Jalur Sutra Darat dan Jalur Sutra Laut. Jalur Sutra Darat menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah, dan Eropa melalui jalur darat. Sementara itu, Jalur Sutra Laut menghubungkan Tiongkok dengan wilayah pesisir di Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Timur melalui jalur laut. Beberapa proyek penting termasuk Koridor Ekonomi China-Pakistan, Koridor Ekonomi China-Mongolia-Rusia, serta Jembatan Darat Eurasia Baru.
Lebih dari 140 negara telah bergabung dengan BRI, termasuk beberapa anggota Uni Eropa. Tiongkok memberikan pinjaman hingga lebih dari 1 triliun dolar kepada negara-negara berkembang, menjadikannya salah satu kreditor terbesar di dunia. Inisiatif ini terus berkembang dan menawarkan peluang baru bagi negara-negara peserta.
Awal Mula dan Tujuan BRI
BRI diluncurkan pada tahun 2013 oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping. Dalam kunjungan ke Kazakhstan pada bulan September 2013, ia meresmikan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra. Rencana ini bertujuan untuk menciptakan infrastruktur darat yang memperkuat hubungan regional. Inisiatif ini juga terinspirasi oleh Jalur Sutra kuno yang pernah menghubungkan Tiongkok dengan dunia barat.
Selain Jalur Sutra Darat, Xi Jinping juga memperkenalkan Jalur Sutra Maritim untuk meningkatkan hubungan laut antara Asia dan Afrika Timur. Awalnya, inisiatif ini dikenal sebagai One Belt, One Road, tetapi namanya diubah menjadi Belt and Road Initiative pada tahun 2015 agar lebih mencerminkan cakupannya yang lebih luas.
Dampak Ekonomi Global
Meskipun banyak proyek BRI dibangun oleh kontraktor Tiongkok, inisiatif ini telah menciptakan lebih dari 400.000 lapangan kerja di negara-negara tuan rumah. Selain itu, BRI membantu mengangkat lebih dari 40 juta orang keluar dari kemiskinan. Contoh nyata adalah Koridor Ekonomi China-Pakistan, yang memiliki investasi lebih dari 60 miliar dolar. Proyek ini melibatkan pembangunan jalan raya, jalur kereta api, dan pembangkit listrik tenaga surya pertama di Pakistan.
Proyek besar lainnya adalah fasilitas gas alam cair di Semenanjung Yamal Rusia, yang dikembangkan melalui kemitraan antara Tiongkok dan Rusia. Meskipun beberapa proyek masih belum selesai atau di bawah ekspektasi, Tiongkok menyatakan bahwa lebih dari 3.000 proyek telah berhasil diselesaikan di seluruh dunia.
Pada Oktober 2023, para pemimpin dan perwakilan dari berbagai negara berkumpul di Beijing untuk merayakan 10 tahun BRI. Di antara mereka adalah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán. Pada awal 2020-an, Tiongkok berkomitmen sekitar 100 miliar dolar untuk proyek-proyek baru BRI.
Ambisi dan Visi Tiongkok
BRI mencerminkan ambisi ekonomi sekaligus visi global Tiongkok yang lebih luas. Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, Tiongkok semakin percaya diri dalam berperan di panggung dunia sambil memperluas kemitraan internasionalnya. Banyak yang memandang BRI bersama dengan strategi Made in China 2025 sebagai pilar utama pembangunan dan diplomasi Tiongkok.
Tiongkok juga berupaya memperkuat koneksi ekonomi global dengan kawasan baratnya, yang sebelumnya kurang berkembang. Memajukan pertumbuhan di Provinsi Xinjiang di bagian barat merupakan prioritas utama, di samping menciptakan stabilitas dan peluang. Selain itu, BRI mendukung kemitraan energi jangka panjang dengan Asia Tengah dan Timur Tengah melalui rute perdagangan yang aman dan andal.
Tantangan dan Pelajaran yang Didapat
Meskipun BRI menghadapi beberapa tantangan, inisiatif ini juga membuka peluang bagi negara-negara untuk meningkatkan infrastruktur melalui investasi yang signifikan. Tiongkok memandang proyek-proyek BRI sebagai kemitraan komersial, menawarkan pinjaman dengan suku bunga kompetitif dan mengharapkan pengembalian yang bertanggung jawab. Meskipun beberapa proyek menghadapi masalah transparansi dan biaya, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga untuk meningkatkan kerja sama dan memastikan manfaat bersama di masa depan.
Pasca-pandemi COVID-19 dan konflik Rusia-Ukraina, banyak negara mitra BRI berpenghasilan rendah menghadapi tantangan keuangan. Hal ini menyoroti perlunya strategi ekonomi yang lebih tangguh. Di Pakistan, misalnya, impor infrastruktur CPEC yang besar mendorong penyesuaian ekonomi yang didukung oleh program IMF. Pengalaman Ghana dan Zambia dengan tingkat utang yang tinggi menawarkan peluang untuk mengeksplorasi pendekatan pembiayaan yang lebih berkelanjutan dalam kolaborasi BRI di masa mendatang.
Respons Amerika Serikat
Amerika Serikat telah aktif terlibat dengan kawasan Asia-Pasifik, menanggapi keprihatinan bersama dengan mempromosikan kolaborasi dan pembangunan. Sejak kebijakan Pivot to Asia di bawah pemerintahan Barack Obama, AS telah menginvestasikan miliaran dolar dan memperkuat hubungan diplomatik untuk mendukung infrastruktur dan kerja sama di negara-negara berpenghasilan rendah.
Di bawah Presiden Donald Trump, Undang-Undang BUILD menyederhanakan pembiayaan pembangunan dengan menggabungkan OPIC dengan beberapa bagian USAID ke dalam Development Finance Corporation, menciptakan portofolio senilai 60 miliar dolar untuk meningkatkan peluang investasi global. Beberapa pakar melihat potensi manfaat bagi Amerika Serikat dalam BRI, seperti proyek-proyek BRI dapat mencapai tujuan bersama dengan memajukan pembangunan infrastruktur di Asia Tengah.
Masa Depan BRI
Belt and Road Initiative mentransformasi koneksi global, menciptakan peluang baru bagi perdagangan, investasi, dan interaksi budaya. Dengan mendorong kerja sama antarnegara, inisiatif ini menjanjikan peningkatan kesejahteraan bersama dan ikatan timbal balik yang lebih kuat. Dengan semakin banyaknya negara yang bergabung, BRI dapat membantu membangun masa depan yang ditandai dengan persatuan dan peluang ekonomi yang lebih besar.
Kontraksi Pajak Jadi Tanda Ekonomi Melemah, Pertumbuhan Kuartal Depan Terancam
Indikasi Perlambatan Ekonomi dari Kontraksi Penerimaan Pajak
Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menyampaikan bahwa kontraksi tajam dalam penerimaan pajak menjadi indikasi langsung dari perlambatan ekonomi nasional. Menurutnya, pelemahan ini disebabkan oleh penurunan kinerja tiga sumber utama penerimaan negara, yaitu Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Pajak turun karena ekonomi kita melambat. Ada data BPS yang menunjukkan hal tersebut. Penjelasan BPS mungkin masuk akal secara teknis statistik, terutama mengenai PMTB, pembentukan modal tetap bruto, yang sebagian besar digunakan untuk investasi peralatan, mesin, dan alutsista,” jelas Eko.
Ia menjelaskan bahwa PPh, khususnya PPh badan, terpukul akibat penurunan keuntungan industri dan perusahaan. “Banyak perusahaan mengalami penurunan keuntungan dibandingkan tahun lalu. PHK meningkat berarti keuntungan turun juga,” ujarnya.
Untuk PPN, penurunan dipicu oleh melemahnya daya beli masyarakat. “PPN sangat bergantung pada kemampuan orang untuk membeli. Karena banyak orang kesulitan daya belinya, penjualan rata-rata turun, konsumsi juga turun. Akibatnya penerimaan pajak juga turun,” tambah Eko.
Sementara itu, PNBP yang berasal dari ekspor komoditas juga mengalami tekanan akibat penurunan harga komoditas global. “Tiga komponen ini turun bersamaan. Meski PMTB naik, pajak tetap tidak bisa meningkat,” ujarnya.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2024
INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2024 tidak akan mencapai 5 persen. “Triwulan III ini akan di bawah 5 persen. Hanya di Triwulan IV ada momentum, tapi harus dimanfaatkan secara strategis. Stimulus sebaiknya dimulai sekarang, bukan nanti menjelang Natal,” kata Eko.
Ia menilai bahwa momentum akhir tahun seperti Natal dan libur tahun baru dapat menjadi pendorong konsumsi jika pemerintah menyiapkan kebijakan sejak dini. “Masyarakat tidak hanya pulang, tapi juga belanja, terutama di daerah, untuk menghidupkan ekonomi di daerah,” ujarnya.
Eko mengkritik strategi stimulus pemerintah yang terlalu menyebar. “Masalahnya stimulus kita banyak jenisnya, kurang duitnya. Jadi ya Rp20 triliun, ini bukan angka kecil, tapi disebar ke terlalu banyak aspek. Harusnya hanya tiga: perbaiki daya beli, ciptakan lapangan kerja, dan jaga stabilitas harga. Yang lain biarkan mekanisme pasar bekerja,” katanya.
Ia menilai sebagian stimulus diarahkan ke sektor yang tidak berdampak berkelanjutan. “Liburan dikasih stimulus memang bisa meningkatkan ekonomi, tapi enggak sustain. Kalau industri yang dikasih stimulus, beda rasanya. Ekonomi akan beda,” ujarnya.
Stabilitas Harga Pangan dan Cadangan Beras
Eko juga menyoroti lemahnya stabilitas harga pangan, khususnya beras, meski pemerintah mengklaim cadangan besar. “Katanya cadangan beras kita 4 juta ton, tapi kok harga beras naik? Orang yang punya duit aja nyari harga beras premium di minimarket susah sekarang,” katanya.
Menurutnya, harga pangan yang stabil lebih penting daripada sekadar besarnya cadangan. “Buat apa cadangan besar kalau harganya terus-terusan naik? Yang dimakan rakyat itu beras di pasar, bukan yang di cadangan. Jadi harus pastikan harganya stabil,” ujarnya.
Proyeksi Penerimaan Pajak dan PNBP
Penerimaan perpajakan tahun ini diproyeksi bakal terkoreksi dari target awal, yakni menjadi Rp2.387,3 triliun dari Rp2.490,9 triliun. Realisasi penerimaan perpajakan tercatat senilai Rp978,3 triliun pada semester I, turun dari Rp1.028 triliun pada semester I 2024. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bakal mengejar penerimaan perpajakan sebesar Rp1.409 triliun pada semester II 2025.
DPR mencatat outlook penerimaan perpajakan pada akhir tahun diproyeksi 95,8 persen terhadap APBN akibat sejumlah faktor, seperti proyeksi ekonomi nasional, fluktuasi harga komoditas utama, implementasi reformasi perpajakan, kebijakan perbaikan administratif, serta upaya pengawasan terhadap kepatuhan wajib pajak.
Sementara itu, outlook penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga mengalami koreksi dari target awal, yakni menjadi Rp477,2 triliun dari Rp513,6 triliun. Dengan realisasi Rp222,9 triliun pada semester I, Kementerian Keuangan perlu mengejar sisa target PNBP sebesar Rp254,4 triliun pada semester II.
Pertumbuhan Penerimaan Pajak
Meski demikian, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan rata-rata penerimaan pajak meningkat menjadi Rp181,3 triliun per bulan pada semester I 2025, dengan total penerimaan pajak bruto mencapai Rp1.087,8 triliun, atau tumbuh 2,3 persen year-on-year (yoy).
“Di 2025 ini sendiri, kami Alhamdulillah bisa mencatat Rp181,3 triliun rata-rata penerimaan per bulan di semester pertama,” lanjutnya.
Kontribusi penerimaan pajak terhadap total penerimaan negara pada semester I tahun ini mencapai 69,23 persen, atau tumbuh sekitar hampir 1,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Hal tersebut didukung oleh pertumbuhan penerimaan pajak neto yang hingga Juni 2025 mencapai Rp837,79 triliun.
Kepala BPS Pastikan Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen dari Data Lengkap
Penjelasan BPS Mengenai Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti memberikan respons terhadap keraguan publik dan sejumlah ekonom terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 yang mencapai 5,12 persen. Ia menegaskan bahwa data yang digunakan oleh BPS lebih lengkap dan akurat dibandingkan pendekatan yang digunakan oleh analis pasar.
“Data 5,12 persen yang kami umumkan telah melalui proses yang sangat ketat. Kami memiliki data yang jauh lebih lengkap dan terperinci,” ujarnya dalam acara penandatanganan nota kesepahaman bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Injourney Grup di Gedung Sarinah, Jakarta, pada Kamis, 14 Agustus 2025.
Dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi, BPS menggunakan sebanyak 1.508 variabel. Sementara itu, menurut Amalia, analis pasar hanya mengandalkan sekitar 20 variabel. “Kami telah memverifikasi bahwa analis biasanya hanya menggunakan 20 variabel,” katanya.
Dengan jumlah variabel yang lebih banyak, ia menilai masyarakat dapat membandingkan tingkat akurasi antara pendekatan BPS dan analisis pasar. “Perbedaan antara 20 variabel dan 1.508 variabel yang kami miliki tentu akan membantu menentukan mana yang lebih akurat,” ujarnya.
Sebelumnya, Center of Economic and Law Studies (Celios) meminta lembaga statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan audit terhadap data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 yang dilaporkan oleh BPS. Celios telah mengirimkan surat permohonan penyelidikan kepada United Nations Statistics Division (UNSD) dan United Nations Statistical Commission.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah menjaga kredibilitas data BPS. Menurutnya, data tersebut digunakan untuk berbagai penelitian oleh lembaga akademik, analis perbankan, dunia usaha termasuk UMKM, dan masyarakat secara umum.
“Surat yang dikirimkan ke PBB berisi permintaan untuk meninjau ulang data pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 2025 yang sebesar 5,12 persen year-on-year,” kata Bhima dalam keterangan resmi.
Bhima menyatakan bahwa Celios telah memeriksa kembali seluruh indikator yang disampaikan oleh BPS, seperti data industri manufaktur. BPS melaporkan bahwa lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 5,68 persen pada kuartal II 2025. Namun, menurut Bhima, aktivitas manufaktur yang diukur melalui Purchasing Manager’s Index (PMI) justru mengalami kontraksi pada periode yang sama.
Porsi manufaktur terhadap PDB juga menurun, dari 19,25 persen pada triwulan I 2025 menjadi 18,67 persen pada triwulan II 2025. “Artinya, deindustrialisasi prematur terus terjadi. Data PHK massal terus meningkat, dan industri padat karya terpukul oleh naiknya biaya produksi. Jadi, apa dasarnya industri manufaktur bisa tumbuh 5,68 persen year-on-year?” tanyanya.
Direktur Kebijakan Fiskal Celios Media Wahyudi Askar menambahkan bahwa jika ada tekanan institusional atau intervensi dalam penyusunan data oleh BPS, hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar statistik resmi yang diadopsi oleh Komisi Statistik PBB. Ia menekankan bahwa data BPS tidak hanya soal teknis, tetapi juga berdampak langsung terhadap kredibilitas internasional Indonesia dan kesejahteraan rakyat.
“Data ekonomi yang tidak akurat, khususnya jika pertumbuhan dilebih-lebihkan, dapat menyesatkan pengambilan kebijakan. Bayangkan, dengan data yang tidak akurat, pemerintah bisa keliru menunda stimulus, subsidi, atau perlindungan sosial karena menganggap ekonomi baik-baik saja,” ujarnya.
Celios berharap badan statistik PBB segera melakukan investigasi teknis atas metode penghitungan PDB Indonesia di Triwulan II 2025. Lembaga penelitian ekonomi itu juga berharap UNSD dan UN Statistical Commission mendorong pembentukan mekanisme peer-review yang melibatkan pakar independen, serta dukungan reformasi transparansi di tubuh BPS.
BPS sebelumnya mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia kuartal II 2025 tumbuh 5,12 persen secara tahunan, naik dari 4,04 persen pada kuartal I 2025. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto telah membantah dugaan permainan data dari laporan tersebut. “Mana ada (permainan data),” ucap Airlangga kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Selasa, 5 Agustus 2025.
Pihak Istana turut buka suara mengenai angka pertumbuhan ekonomi yang diragukan para ekonom. Kepala Kantor Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi menyebut ekonom yang meragukan data pertumbuhan ekonomi yang dirilis pemerintah sebesar 5,12 persen dikarenakan anggapan negatif.
Hasan mengatakan keresahan kemungkinan disebabkan framing atau pembingkaian. Ia menilai ada beberapa ekonom yang mungkin tidak terlalu positif melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif. “Jadi pertumbuhan ekonomi kita positif, tapi ada yang melihatnya dengan cara yang tidak positif,” kata Hasan di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 7 Agustus 2025.
Hasan memastikan pemerintah jujur dalam mengeluarkan data ekonomi. Menurut dia, tentu pemerintah akan mengatakan pertumbuhan ekonomi turun apabila memang demikian. Ia mencontohkan Presiden Prabowo Subianto sudah menjabat presiden saat memasuki kuartal IV 2024. Saat itu, BPS di bawah Presiden Prabowo mengatakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,02 persen.
Kemudian, pada kuartal I 2025 BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4,87 persen. “Turun, kan? Penurunan itu dikeluarkan oleh pemerintahan yang sama oleh BPS di bawah pemerintahan yang sama. (Kalau) turun, kita bilang turun,” ujarnya.
Menurut Hasan, banyak orang yang sekarang terpaku dengan konsumsi dan belanja pemerintah tanpa menerima data investasi. Misalnya, katanya, data yang dikeluarkan oleh Menteri Investasi bahwa investasi yang sudah terealisasi nilainya Rp 942,9 triliun atau hampir 50 persen dari target investasi tahun ini yang sebesar Rp 1.900 triliun.
Kemudian, serapan lapangan kerja dari realisasi sampai Agustus ini berjumlah 1,25 juta tenaga kerja. “Jadi ada konsumsi, ada investasi, ada government. Di sektor lapangan usaha misalnya, sektor industri manufaktur kita tumbuh 5,6 persen. Investasi yang tadi ini tumbuh 6,99 persen,” ujarnya.
IHSG Mendekati 8.000, Rekomendasi Saham Pilihan Jelang HUT RI ke-80
Penguatan IHSG Menuju Level 8.000
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan penguatan yang signifikan, khususnya menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Sejumlah analis memprediksi bahwa indeks ini bisa mencapai level 8.000 pada hari terakhir perdagangan sebelum perayaan tersebut.
Pada akhir perdagangan Kamis (14/8), IHSG menguat sebesar 0,49% menjadi 7.931, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH). Sebelumnya, level ATH berada di 7.910,86 pada 19 September 2024. Dalam seminggu terakhir, IHSG berhasil naik sebesar 5,89%, sementara kenaikan tahun ini (year to date) mencapai 12,02%.
Aliran dana asing juga terus mengalir masuk ke pasar modal Indonesia. Pada hari ini saja, dana asing masuk sebesar Rp 864,25 miliar di pasar reguler. Dalam seminggu terakhir, aliran dana asing mencapai Rp 4,36 triliun, sedangkan dalam sebulan terakhir sebesar Rp 3,28 triliun.
Faktor Pendorong Kenaikan IHSG
Menurut pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, kenaikan IHSG saat ini didorong oleh saham-saham emiten konglomerasi dan komoditas, terutama emiten sawit (CPO). Ia melihat kemungkinan besar IHSG akan menyentuh level 8.000 menjelang perayaan Hari Jadi RI.
Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, menambahkan bahwa kenaikan IHSG dipengaruhi oleh saham blue chips dan konglomerasi yang memiliki valuasi murah. Contohnya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Selain itu, saham konglomerasi memiliki momentum positif setelah beberapa emiten seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) masuk ke dalam indeks MSCI. Kesuksesan ini memberi harapan bagi saham konglomerasi lainnya untuk ikut masuk indeks global.
Prediksi dan Rekomendasi Saham
Felix Darmawan, ekonom Panin Sekuritas, menyatakan bahwa kenaikan IHSG didorong oleh aliran dana asing ke big caps di sektor perbankan dan telekomunikasi. Meskipun secara simbolis, pencapaian level 8.000 menjelang HUT ke-80 RI bisa dianggap sebagai representasi dari “wajah ekonomi” pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, faktor fundamental yang lebih dominan adalah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, stabilnya rupiah, serta kinerja emiten yang solid.
Oktavianus Audi, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa penguatan IHSG saat ini didorong oleh tiga faktor utama: dampak tarif Trump yang diperkirakan mengecil pasca kesepakatan gencatan antara AS dan China, pelonggaran kebijakan moneter, serta valuasi saham yang relatif murah.
Meski demikian, arus masuk dana asing masih bersifat taktikal dan belum sepenuhnya struktural. Outflow asing sejak awal tahun mencapai sekitar Rp 60 triliun, sehingga diperlukan konfirmasi net inflow bulanan berturut-turut dan stabilitas rupiah.
Prospek dan Rekomendasi Investasi
Budi melihat kemungkinan IHSG akan stagnan atau turun setelah mencapai level 8.000, karena tidak ada sentimen positif yang mendorong kenaikan lebih lanjut. Pekan depan, IHSG diperkirakan bergerak di rentang 7.800–7.900, sedangkan di akhir tahun nanti diperkirakan berada di kisaran 7.800–8.000.
Felix menyarankan investor tetap selektif dalam memilih saham berfundamental kuat yang menjadi target asing, seperti BBRI, BBCA, BMRI, BBNI, TLKM, dan ASII. Audi merekomendasikan beli untuk BMRI, BBRI, TLKM, ICBP, dan KLBF dengan target harga masing-masing Rp 6.300, Rp 4.360, Rp 3.240, Rp 11.500, dan Rp 1.720 per saham.
Di tengah penguatan IHSG, investor dapat mulai masuk untuk jangka menengah hingga panjang di saham consumer cyclical yang masih memiliki valuasi menarik, terutama setelah tekanan di semester pertama tahun ini.
Apakah Stimulus Menggerakkan Ekonomi?
Pemerintah Terus Gelontorkan Stimulus Ekonomi, Tapi Efektivitasnya Dipertanyakan
Pemerintah Indonesia telah menggelontorkan dana stimulus ekonomi sebesar Rp 57,4 triliun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Stimulus ini dibagi dalam dua tahap, yaitu Tahap I yang disalurkan pada Januari-Februari 2025 dengan besaran Rp 33 triliun dan Tahap II pada Juni-Juli 2025 sebesar Rp 24,4 triliun. Namun, anggaran tersebut tidak sepenuhnya berasal dari APBN.
Beberapa jenis stimulus yang diberikan meliputi diskon tiket pesawat, diskon tiket kereta api, diskon tarif tol, diskon tiket angkutan laut, PPN DTP 100 persen untuk pembelian rumah, diskon tarif listrik 50 persen, serta bantuan subsidi upah (BSU). Selain itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan kembali menggelontorkan anggaran sebesar Rp 10,8 triliun untuk paket stimulus di kuartal III 2025.
Meski demikian, beberapa ahli ekonomi mempertanyakan efektivitas stimulus yang diberikan. Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyatakan bahwa stimulus hanya mampu menahan laju penurunan konsumsi masyarakat, bukan mendorong pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data BPS, konsumsi rumah tangga pada kuartal I sempat melambat ke level 4,95 persen, lalu naik sedikit menjadi 4,97 persen pada kuartal II. Namun, angka ini masih belum mencapai 5 persen sejak kuartal III 2023.
Syafruddin menilai bahwa pelambatan konsumsi menunjukkan daya beli masyarakat belum pulih secara fundamental. Hal ini membuat stimulus yang diberikan hanya berperan sebagai penyangga jangka pendek. Tekanan inflasi, ketidakpastian global, serta masalah struktural seperti penciptaan lapangan kerja dan penguatan UMKM juga menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan.
Selain itu, pemberian stimulus secara berulang dapat menambah beban APBN. Realisasi APBN hingga April 2025 menunjukkan pendapatan negara baru mencapai 27 persen dari target, sementara defisit anggaran membengkak tajam dari Rp 31,2 triliun pada Februari menjadi Rp 104 triliun per Maret. Dengan ruang fiskal yang semakin sempit, pemberian stimulus dikhawatirkan menjadi beban tanpa dampak signifikan terhadap pertumbuhan.
Kisruh dalam pelaksanaan stimulus juga menambah kekhawatiran. Contohnya, diskon tarif listrik yang awalnya diumumkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akhirnya dibatalkan karena perbedaan sikap antar kementerian. Menurut Syafruddin, koordinasi yang kuat, transparansi fiskal, dan targeting yang presisi sangat penting agar stimulus bisa efektif.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, juga menyatakan bahwa efektivitas stimulus tidak signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 mencapai 5,12 persen, angka ini masih memunculkan perdebatan karena tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Stimulus yang langsung menyentuh masyarakat seperti diskon transportasi dan diskon tarif tol hanya berlaku selama liburan. Akibatnya, efeknya bersifat sementara dan lebih menguntungkan masyarakat kelas menengah ke atas. Selain itu, insentif seperti BSU tidak mampu menjangkau pekerja informal yang sebagian besar upahnya di bawah upah minimum.
Bhima juga menyayangkan pemerintah tidak jadi menerapkan diskon tarif listrik pada Juni-Juli 2025. Diskon listrik seharusnya menjadi komplementer atau pelengkap BSU, karena banyak pekerja informal dan UMKM yang terdampak.
Dari sisi pengusaha, Ketua Umum Afiliasi Global Ritel Indonesia, Roy Nicholas Mandey, tidak yakin stimulus mampu mendorong penjualan ritel. Perubahan pola konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi membuat belanja ritel sulit tumbuh. Masyarakat cenderung lebih memilih menabung daripada belanja, meskipun ada stimulus seperti diskon tol mudik dan diskon tiket pesawat. Roy juga mengkritik bahwa stimulus pada Juni-Juli 2025 lalu tidak tepat sasaran dan terkesan sebagai uji coba.
9 Lagu yang Terinspirasi dari Fenomena Ekonomi, Ngena!
Inspirasi dari Fenomena Ekonomi dalam Lagu-Lagu Populer
Kata-kata “inspirasi bisa datang dari mana saja” benar-benar terbukti. Dalam dunia musik, banyak seniman dan musisi yang mengambil inspirasi dari pengalaman pribadi, mimpi, atau bahkan pengamatan sehari-hari. Kuncinya adalah kepekaan untuk membaca pola dan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Termasuk dalam hal ekonomi, seperti gentrifikasi, ketimpangan, dan materialisme. Banyak lagu yang dianggap biasa justru menyimpan pesan serius tentang kondisi sosial dan ekonomi.
Musisi dan seniman memiliki kemampuan khusus dalam menangkap hal-hal yang tidak terlihat oleh orang awam. Mereka lalu menerjemahkannya menjadi lagu yang catchy, tetapi juga berisi makna mendalam. Berikut ini adalah sembilan lagu yang sebenarnya berbicara tentang fenomena ekonomi, khususnya kapitalisme:
-
“Paper Planes” – M.I.A.
Dengan melodi playful, lagu ini sebenarnya menyajikan satire politik-ekonomi. Lagu ini mencakup isu-isu seperti monetisasi visa, stereotip, serta perlindungan terhadap imigran. Meski dirilis pada 2008, lagu ini masih relevan hingga saat ini. -
“Money” – Pink Floyd
Dalam album The Dark Side of the Moon, Pink Floyd menyoroti bagaimana uang memengaruhi kehidupan manusia modern. Uang bisa menjadi motivasi kerja, tetapi juga bisa membuat manusia kehilangan empati. -
“Chin Up” – Sam Fender
Lagu ini secara spesifik membahas dampak kebijakan Margaret Thatcher di Inggris Utara. Kebijakan pasar bebas yang diterapkan menyebabkan penutupan pabrik dan meningkatkan ketimpangan ekonomi. -
“The American Dream is Killing Me” – Green Day
Lagu ini menyoroti ketimpangan ekonomi di Amerika Serikat. Citra negara maju yang selama ini dibangun bertentangan dengan realitas yang dialami rakyat biasa. -
“Chequeless Reckless” – Fontaines D.C.
Dalam album Dogrel, mereka mengkritik sistem kapitalis yang membuat orang memuja uang di atas segalanya. Uang diibaratkan sebagai pasir yang mudah digali dan bisa mengubah prinsip manusia. -
“My Hometown” – Bruce Springsteen
Lagu ini menggambarkan sebuah kota kecil di Amerika Serikat yang terpuruk akibat depresi ekonomi dan perpecahan antar etnis. Banyak bisnis tutup dan penduduk harus merantau. -
“GDP” – Bob Vylan
Lagu ini mengkritik situasi ekonomi yang semakin memuakkan. Orang-orang tercekik, sementara media terus menampilkan iklan barang mewah dan berita pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai dengan kenyataan. -
“Eat Your Young” – Hozier
Lagu ini mengkritik keserakahan manusia yang membuat mereka seperti kanibal. Keserakahan ini sering kali membuat orang mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi. -
“Tangerine” – Glass Animals
Meski bernada catchy, lagu ini menyindir kapitalisme secara halus. Lagu ini menggambarkan bagaimana uang dan konsumerisme memengaruhi cara kita melihat manusia lain.
Lagu-lagu ini menunjukkan bahwa musik bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk menyampaikan kritik sosial dan ekonomi. Jika bosan dengan lagu-lagu cinta, coba dengarkan lagu-lagu di atas. Banyak dari mereka yang bisa terasa sangat dekat dengan pengalaman pribadi. Analisis kritik dan pemilihan kata mereka bisa menjadi bahan menarik untuk dipelajari lebih lanjut.
10 Doa untuk Dagangan Laku dan Pembeli Kembali
Kumpulan Doa Agar Dagangan Lancar dan Ramai
Dalam menjalani bisnis atau usaha, setiap pengusaha pasti pernah menghadapi masa-masa sepi pembeli. Hal ini wajar terjadi karena bisnis memang memiliki pasang surut. Namun, setiap pengusaha tentu berharap dagangannya selalu laris agar bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dalam Islam, Allah Swt. telah memberikan petunjuk tentang pentingnya ikhtiar dan tawakal dalam segala hal. Oleh karena itu, seorang pengusaha harus melakukan berbagai upaya dan berserah diri kepada Allah Swt. Setelah berikhtiar, doa menjadi salah satu bentuk tawakal yang sangat dianjurkan.
Berikut adalah kumpulan doa agar dagangan laris yang bisa diamalkan setiap waktu, baik setelah salat, di sepertiga malam, maupun di sela-sela waktu berjualan:
1. Doa Menarik Pembeli
Doa ini dapat dibaca setiap hari untuk menarik orang-orang agar masuk dan berbelanja di toko kita. Lafaznya:
“Allahumma rahmataka arjuu fa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin wa ash-lihlii sya’nii kullahu laa ilaha illa anta.”
Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat-Mu aku berharap, janganlah Engkau sandarkan urusanku kepada diriku walau sekejap mata. Perbaikilah segala urusanku seluruhnya. Tidak ada yang berhak disembah selain Engkau.”
2. Doa Agar Pembeli Berdatangan
Doa ini dimohonkan agar rezeki yang diperoleh halal, luas, dan tanpa kesulitan.
“Allahumma innii as aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’bin wa laa masyaqqatin wa laa dhairin wa laa nashabin innaka ‘alaa kulli syaiin qadiir.”
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar melimpahkan rezeki kepadaku berupa rezeki yang halal, luas, dan tanpa susah payah, tanpa memberatkan, tanpa membahayakan, dan tanpa rasa lelah dalam memperolehnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”
3. Doa Agar Dagangan Selalu Ramai
Doa ini juga bisa dibaca untuk memohon keberkahan dan kelancaran dalam berbisnis.
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan.”
Artinya: “Wahai Tuhanku Yang Maha Hidup, wahai Tuhanku Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.”
4. Doa Agar Terhindar dari Kerugian
Salah satu ketakutan para pedagang adalah kerugian. Doa ini bisa dibaca untuk menghindari hal tersebut.
“Asa rabbuna ayyubdilana khoiram minha inna ila rabbina raghibun.”
Artinya: “Mudah-mudahan Tuhan kami memberikan ganti kepada kami dengan yang lebih baik daripada itu, sesungguhnya kami mengharapkan ampunan dari Tuhan kami.”
5. Doa Agar Dagangan Berkah
Selain memohon agar dagangan laris, pengusaha juga perlu memohon keberkahan dari Allah Swt.
“Allahumma faarijal hammi wa kaasyifal ghammi mujiba da’watal mudhtariina rahmaanad dun-yaa wal aakhirati wa rahiimahumaa irhamnii rahmatan tughniinii bihaa ‘an rahmati man siwaak.”
Artinya: “Ya Allah, Zat yang menghilangkan segala kesedihan, yang menggembirakan segala duka cita, dan yang mengabulkan semua permohonan, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang baik di dunia maupun di akhirat, curahkan rahmat-Mu kepada kami, yaitu rahmat yang menjadikan kami tidak membutuhkan pertolongan selain kepada-Mu.”
6. Doa Agar Banyak Pembeli Datang
Doa ini bisa dibaca agar pelanggan kembali datang setelah membeli barang.
“Qaala ‘īsabnu maryamallaahumma rabbanaa anzil ‘alainaa maaidatam minas-samaa
i takụnu lanaa ‘īdal li`awwalinaa wa aakhirinaa wa aayatam mingka warzuqnaa wa anta khairur-raaziqiin.”
Artinya: “Isa putra Maryam berdoa, ‘Ya Tuhan kami, turunkan lah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”
7. Doa Agar Usaha Lancar
Doa ini dimohonkan agar bisnis berjalan lancar tanpa banyak halangan.
“Allahumma zidnaa wa laa tanqushnaa wa akrimnaa wa laa tuuhinaa wa a’athinaa wa laa tahrimnaa wa atsirnaa wa laa tu’tsir ‘alainaa wa ardhinaa wardhaa‘annaa.”
Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah rezeki kepada kami, jangan Engkau kurangi. Muliakanlah kami dan jangan Engkau hinakan kami. Berilah kami dan jangan Engkau halangi kami. Pilihlah kami dan jangan Engkau tinggalkan kami, dan janganlah Engkau cegah kami.”
8. Doa Agar Selalu Diberikan Rezeki yang Cukup
Rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, kemudahan, dan keberkahan.
“Wa yarzuq-hu min ḥaiṡu lā yaḥtasib, wa may yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh, innallāha bāligu amrih, qad ja’alallāhu likulli syai`ing qadrā.”
Artinya: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah Swt., niscaya Allah Swt. akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
9. Doa Agar Diberikan Kekayaan
Doa ini bisa dibaca saat dagangan sedang sepi.
“Allahumma yaa ghaniyyu yaa mughnii aghninii ghinan abadan wa yaa aziizu yaa mu izzu a izzanii bi i’zaazi ‘izzati qudratika wa yaa muyas siral umuuri yassirlii umuurad dunyaa waddiini yaa khaira man yurjaa yaa allaahu.”
Artinya: “Ya Allah, Engkaulah yang Maha Kaya, berilah kekayaan yang abadi kepada hamba-Mu. Wahai Zat yang Maha Mulia yang memberikan kemuliaan, berilah kemuliaan keadaku dengan kemuliaan kekuasaan-Mu. Engkaulah Zat yang mempermudah semua urusan, berilah kemudahan kepadaku di dalam semua urusan dunia dan agama. Engkaulah Zat yang paling baik Ya Allah.”
10. Doa Dagangan Berkah
Doa ini dimohonkan agar rezeki yang diterima benar-benar berkah.
“Al hamdu lillaahilladzi rozaqonii haadza min khoiri khaulin minnii wa laa quwwatin, alloohumma baarik fihi.”
Artinya: “Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberi rezeki kepadaku dengan tidak ada daya dan kekuatan bagiku, Ya Allah, smeoga Engkau senantiasa memberi berkah pada rezekiku.”
Doa-doa di atas bisa diamalkan setiap pagi, sore, atau saat sepertiga malam. Semoga bermanfaat dan membawa keberkahan dalam bisnis.
Hatta dan Jalannya Ekonomi Rakyat
Memahami Gagasan Ekonomi Kerakyatan Mohammad Hatta
Saya tidak bisa mengingat secara pasti kapan pertama kali benar-benar memahami gagasan ekonomi Mohammad Hatta. Mungkin saat duduk di bangku kuliah atau sedang mencari bahan untuk diskusi organisasi. Yang jelas, nama Hatta sudah sangat familiar sejak masa sekolah dasar. Ia adalah bapak proklamator, bapak koperasi, dan wajah yang terpampang di uang kertas seratus ribu rupiah. Namun, semua itu hanya sebatas pengetahuan permukaan.
Bertahun-tahun kemudian, saya membaca beberapa tulisan Hatta dan baru menyadari bahwa di balik sosok tenang dan berkacamata itu, tersimpan gagasan besar yang terasa makin relevan, yaitu ekonomi kerakyatan. Baginya, ekonomi bukan sekadar teori dalam buku teks, melainkan filosofi hidup yang menjadi peta jalan pembangunan di tengah pasar bebas.
Hatta memandang ekonomi sebagai alat untuk memastikan setiap orang mendapat bagian yang adil dari kue pembangunan. Ia bukan tipe pemimpin yang bicara dari menara gading. Ia menulis, berdebat, dan mengambil keputusan dengan membayangkan wajah petani di sawah, nelayan di tepi pantai, atau pedagang di pasar. Baginya, rakyat kecil harus menjadi subjek pembangunan, bukan objek yang hanya menunggu belas kasihan.
Koperasi sebagai Inti Pemikiran Hatta
Prinsip ekonomi kerakyatan yang ia pegang menemukan bentuk nyatanya dalam kelembagaan yang ia percayai: koperasi. Bagi Hatta, koperasi adalah jantung dari seluruh sistem ekonomi rakyat. Secara teoritis, koperasi berperan sebagai alat redistribusi kekayaan yang lebih adil dan sebagai penangkal dominasi kapitalisme monopoli.
Dalam idealisme Bung Hatta, koperasi adalah wadah untuk mendidik manusia menjadi mandiri, demokratis, dan saling menolong. Prinsip “satu anggota, satu suara” menegaskan esensi demokrasi ekonomi di dalamnya. Koperasi bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, tetapi ruang bagi anggotanya untuk saling menguatkan. Hatta membayangkan rakyat dengan berkelompok dan bergotong royong, mampu menantang dominasi kapitalisme.
Bagi Hatta, koperasi adalah benteng pertahanan ekonomi rakyat yang mandiri dan berdaulat. Gagasan ini seperti peta jalan menuju kemandirian ekonomi rakyat. Desa-desa mandiri, kota-kota yang warganya saling menopang, dan perekonomian yang tidak mudah goyah oleh guncangan pasar global.
Peran Negara dalam Sistem Ekonomi
Tentu Hatta bukan utopis yang berpikir rakyat bisa dibiarkan berjalan sendiri. Ia tahu negara punya peran penting dalam perekonomian. Negara, menurutnya, harus menjadi pengatur dan pelindung: memberi ruang bagi koperasi dan usaha kecil untuk tumbuh, memastikan kekayaan tidak hanya berputar di lingkaran elite, dan mengelola sumber daya alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Inilah ruh dari Pasal 33 UUD 1945, sebuah pasal yang hari ini sering kita dengar, tapi entah masih kita hayati atau tidak. Pasal ini adalah perwujudan nyata dari pemikiran Hatta tentang bagaimana ekonomi seharusnya diatur untuk kepentingan rakyat.
Tantangan dan Masa Depan Ekonomi Kerakyatan
Globalisasi datang seperti tamu terhormat, membawa hadiah kemakmuran, tetapi diam-diam menebar benih kesenjangan. Di tengah arus ini, ekonomi kerakyatan melalui koperasi menghadapi tantangan ganda: dari tekanan pasar bebas dan kendala internal yang melemahkan daya saing.
Meskipun kontribusi koperasi terhadap PDB nasional mengalami kenaikan, hambatan struktural membuat perannya belum optimal. Situasi ini justru menegaskan perlunya kembali menengok gagasan awal Hatta, untuk menguji: apakah prinsip-prinsip yang ia rancang puluhan tahun lalu masih menjadi jawaban bagi persoalan ekonomi rakyat hari ini.
Relevansi Pemikiran Hatta di Era Modern
Hatta paham bahwa membangun ekonomi rakyat membutuhkan keuletan dan kesabaran. Ia bukan tipe pemimpin yang terbuai oleh ilusi pertumbuhan ekonomi: megah secara statistik, namun rapuh secara substansi. Kehati-hatian ini lahir dari kesadarannya bahwa angka tak selalu mencerminkan kesejahteraan nyata.
Kehati-hatian itu bukan tanpa alasan. Hatta bicara tentang pondasi ekonomi yang kokoh, tentang sistem yang membuat rakyat punya daya tawar, tentang gotong royong yang menjadi napas ekonomi. Kadang saya bertanya-tanya, jika Hatta masih hidup, apa yang akan ia katakan ketika melihat kebijakan ekonomi Indonesia hari ini?
Mungkin ia akan tersenyum tipis, lalu bertanya dengan nada pelan tapi menusuk: “Apakah ekonomi ini benar-benar untuk rakyat?” Dan pertanyaan itu, saya kira, cukup untuk membuat kita menoleh, memeriksa kembali arah, dan bertanya pada diri sendiri, “apakah kita masih berjalan di jalan yang ia tunjukkan, atau sudah terlalu jauh melangkah ke hutan belantara ekonomi liberal?”
Warisan Hatta sebagai Kompas Moral
Warisan Hatta bukan sekadar teori di perpustakaan. Ia adalah kompas moral. Kompas tidak memaksa orang berjalan, tetapi menunjukkan arah. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak mengikuti jalan yang ditunjukkan. Dan seperti kompas, pemikiran Hatta tetap berguna meski peta dunia sudah banyak berubah.
Namun kompas itu tidak kehilangan arah meski zaman telah berubah. Justru, di tengah tantangan ketimpangan yang kian menganga, pemikiran ekonomi kerakyatan Hatta tetap relevan dalam konteks Indonesia modern, terutama dalam menghadapi isu ketimpangan sosial dan ekonomi. Gagasan Hatta, dengan penekanan pada keadilan sosial dan demokrasi ekonomi, dapat menjadi inspirasi dalam mencari solusi terhadap masalah ini.
Kembali ke Jalan yang Benar
Hatta mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi sejati sebuah bangsa terletak pada rakyatnya. Ia ingin pembangunan yang membuat desa-desa hidup, pasar rakyat ramai, dan anak-anak tumbuh tanpa takut masa depannya suram. Bukan pembangunan yang hanya memperindah laporan, tapi menyentuh kehidupan nyata masyarakat.
Untuk sampai ke sana, diperlukan komitmen politik yang kuat. Para pemimpin kita harus berani memilih jalan yang mungkin jauh lebih lambat tapi lebih kokoh. Pendidikan tentang nilai koperasi harus masuk sejak dini, bukan sekadar hafalan, tapi harus dipraktikkan. Anak-anak harus belajar bahwa ekonomi yang sehat bukan tentang siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang bisa membuat semua orang hidup layak.
Masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh sejauh mana kita berani kembali ke jalan yang digariskan oleh Hatta. Jalan itu mungkin tidak populer di tengah gegap gempita pasar bebas, tapi ia adalah jalan yang berakar pada keadilan, gotong royong, dan kedaulatan rakyat. Dan seperti perahu kayu yang dibuat dengan telaten, jalannya mungkin tidak melaju sekencang kapal mesin, tapi ia mampu membawa semua penumpangnya sampai tujuan dengan selamat.
Mengapa BUMS Penting untuk Ekonomi Negara, Ini Soal dan Jawaban Ekonomi Kelas 11 Halaman 18
Pentingnya Pemahaman Siswa tentang BUMS dalam Pembelajaran Ekonomi
Di dalam buku ekonomi kelas 11, halaman 18 kurikulum merdeka, siswa diajak untuk memahami konsep Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) secara mendalam. Pemahaman ini menjadi penting karena terkait dengan Lembar Aktivitas 4, di mana siswa diminta memberikan pendapat tentang jenis BUMS yang paling sesuai berdasarkan ilustrasi kasus. Dengan memahami BUMS, siswa dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kemampuan analisis dalam menghadapi situasi bisnis nyata.
BUMS adalah badan usaha yang seluruh modalnya dimiliki pihak swasta, dengan tujuan utama meraih keuntungan bagi pemiliknya. Meskipun berorientasi pada profit, keberadaan BUMS tetap memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional melalui pajak yang disetorkan ke negara. Semakin tinggi keuntungan BUMS, semakin besar pula pajak yang diterima pemerintah, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan negara. Dengan demikian, pemahaman tentang BUMS tidak hanya berguna dalam konteks pembelajaran, tetapi juga dalam memahami dinamika perekonomian.
Setelah memahami peran dan fungsi BUMS, siswa dapat melanjutkan untuk mengerjakan Lembar Aktivitas 4 secara lebih tepat. Buku ekonomi ini disusun oleh Yeni Fitriani dan Aisyah Nurjanah, serta diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek pada tahun 2021.
Berikut beberapa contoh kasus yang terdapat dalam Lembar Aktivitas 4 beserta penjelasan jawaban yang bisa digunakan sebagai panduan:
Ilustrasi Kasus 1: Talitha yang Ingin Membuka Bisnis Desain Furniture
Talitha adalah seorang lulusan desain interior yang ingin membuka bisnis sendiri di bidang desain furniture. Namun, ia kurang pandai dalam urusan bisnis dan membutuhkan modal yang cukup besar. Beruntungnya, ia memiliki dua orang teman yang memiliki modal cukup dan kemampuan bisnis yang baik.
Jenis usaha yang disarankan: Persekutuan Komanditer (CV).
Alasan:
1. Kombinasi Keahlian dan Modal: CV memungkinkan adanya dua jenis sekutu, yaitu sekutu komplementer (aktif) dan sekutu komanditer (pasif).
2. Pembagian Tanggung Jawab yang Jelas: Talitha dapat fokus pada aspek desain dan produksi, sementara temannya menangani aspek bisnis dan keuangan.
3. Modal Lebih Mudah Terkumpul: Dengan adanya dua teman yang memiliki modal cukup, masalah modal awal Talitha dapat teratasi.
4. Fleksibilitas dalam Pengelolaan: Struktur CV lebih fleksibel dibandingkan PT.
5. Perlindungan Bagi Penyedia Modal: Sekutu komanditer memiliki perlindungan dalam hal tanggung jawab.
Ilustrasi Kasus 2: Alan dan David yang Ingin Mendirikan Startup
Alan dan David ingin mendirikan startup bersama dan tidak berminat bekerja di perusahaan besar. Mereka berniat menjalankan usaha tersebut secara bersama-sama.
Jenis usaha yang disarankan: Perseroan Terbatas (PT).
Alasan:
1. Perlindungan Hukum (Tanggung Jawab Terbatas): Tanggung jawab pemegang saham terbatas hanya pada modal yang disetorkan.
2. Kredibilitas dan Profesionalisme: PT dianggap lebih profesional dan memiliki kredibilitas tinggi.
3. Akses Permodalan Lebih Luas: PT memungkinkan pengumpulan modal melalui penerbitan saham.
4. Kontinuitas Usaha: PT memiliki keberlanjutan yang lebih baik.
5. Struktur Organisasi Jelas: PT memiliki struktur organisasi yang lebih formal.
Ilustrasi Kasus 3: Ratih yang Ingin Membuka Usaha Kue
Ratih merupakan mantan pegawai swasta yang PHK akibat pandemi. Dengan uang pesangon sebesar Rp10 juta, ia ingin membuka usaha kue.
Jenis usaha yang disarankan: Perusahaan Perseorangan.
Alasan:
1. Modal Terbatas: Proses pendiriannya sangat sederhana dan minim biaya.
2. Kontrol Penuh: Ratih memiliki kendali penuh atas semua aspek bisnis.
3. Fleksibilitas Tinggi: Sangat fleksibel dalam operasionalnya.
4. Laba Sepenuhnya Milik Pemilik: Semua keuntungan menjadi milik Ratih.
5. Cocok untuk Bisnis Skala Kecil: Usaha kue rumahan atau katering kue cocok dimulai sebagai perusahaan perseorangan.
Dengan memahami BUMS, siswa tidak hanya memperluas wawasan mereka tentang bentuk-bentuk usaha, tetapi juga dapat mengembangkan keterampilan analitis dan kreativitas dalam menghadapi tantangan bisnis. Pemahaman ini menjadi dasar penting dalam membangun kesadaran ekonomi yang sehat dan mandiri.