Arsip Tag: film

7 Adegan Aksi Paling Seru di MCU Phase 3, Menggemparkan!

Perjalanan Aksi Spektakuler di MCU Phase 3

Marvel Cinematic Universe (MCU) Phase 3 menjadi salah satu fase terpenting dalam sejarah komik dan film superhero. Fase ini tidak hanya memperluas dunia Marvel, tetapi juga menghadirkan momen-momen yang akan selalu dikenang oleh para penggemar. Dari pertarungan epik hingga momen emosional yang mendalam, setiap adegan menunjukkan bagaimana MCU berhasil menciptakan narasi yang saling terhubung dan penuh makna.

Phase 3 adalah momen ketika segala sesuatu benar-benar menyatu. Dari kejadian di Avengers: Age of Ultron hingga penutup Infinity Saga, semua alur cerita bergerak menuju klimaks yang luar biasa. Kehadiran Thanos sebagai musuh utama memicu perubahan besar dalam dunia MCU, yang akhirnya mencapai puncaknya di Avengers: Endgame.

Berikut ini adalah beberapa adegan aksi paling ikonik dan tak terlupakan di MCU Phase 3:

  1. Kubu Captain America vs Kubu Iron Man

    Setelah tragedi di Avengers: Age of Ultron, para pahlawan terpecah dalam pandangan tentang masa depan mereka. Iron Man memimpin kubu yang setuju untuk tunduk pada pengawasan pemerintah, sedangkan Captain America memimpin pihak yang menolak. Pertarungan di bandara menjadi salah satu adegan paling ikonik, di mana para pahlawan yang biasanya bekerja sama, kini saling bertempur. Ini adalah momen yang mengubah arah MCU selamanya.

  2. Thor vs Hulk

    Di planet Sakaar, Thor dan Hulk bertarung dalam pertandingan gladiator. Meski dulunya mereka bertarung bersama, kali ini Hulk ingin membuktikan bahwa dia lebih kuat. Pertarungan ini menjadi klimaks dari rivalitas lama antara dua tokoh legendaris, dengan duel spektakuler yang seperti diambil dari halaman komik.

  3. Momen Pertarungan di Kasino Wakanda

    Setelah T’Challa naik takhta sebagai Raja Wakanda, ujian pertamanya datang saat memburu Ulysses Klaue. Dalam penyergapan di kasino Busan, Okoye dan Nakia menunjukkan kekuatan mereka dengan mengalahkan para pengawal Klaue. Adegan ini tidak hanya memamerkan teknologi Wakanda, tetapi juga menunjukkan bahwa kekuatan Wakanda bukan hanya berasal dari rajanya.

  4. Thor vs Hela di Jembatan Pelangi

    Setelah kehilangan Mjolnir, Thor kembali ke Asgard untuk menghadapi Hela. Dalam pertarungan di jembatan pelangi, Thor mendapat penglihatan dari ayahnya yang mengingatkannya bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari palu. Dengan energi penuh, ia menghadapi pasukan Hela dan melepaskan sambaran listrik yang mengguncang fondasi Asgard. Lagu “Immigrant Song” dari Led Zeppelin menambah kesan spektakuler dari adegan ini.

  5. Pertempuran di Titan

    Thanos menunjukkan kekuatannya di planet Titan, tempat ia mengumpulkan Batu Keabadian. Para pahlawan harus melawan kekuatannya dengan cara-cara kreatif, seperti Spider-Man yang memanfaatkan portal Doctor Strange. Pertarungan ini menjadi puncak dari pembangunan karakter yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

  6. Pertempuran di Wakanda

    Puncak Avengers: Infinity War terjadi ketika Thanos mengumpulkan hampir semua Batu Keabadian. Ia datang ke Wakanda untuk merebut batu terakhir dari Vision. Semua kekuatan dari Avengers hingga pasukan Wakanda bersatu untuk menghentikannya, tetapi gagal. Adegan seperti Captain America dan Black Panther berlari berdampingan menjadi momen tak terlupakan, meskipun akhirnya tragis.

  7. Pertempuran Terakhir di Avengers: Endgame

    Setelah kehilangan setengah populasi alam semesta, para Avengers yang tersisa bertekad membalikkan keadaan. Mereka melakukan perjalanan waktu untuk mengumpulkan Batu Keabadian dan menghadapi Thanos sekali lagi. Saat harapan nyaris pupus, portal demi portal terbuka, memunculkan semua pahlawan yang pernah ada. Pertarungan ini menjadi puncak dari satu dekade cerita yang saling terhubung, dengan skala epik dan momen ikonis yang tak terlupakan.

MCU Phase 3 tidak hanya menyajikan aksi spektakuler, tetapi juga membangun emosi dan perkembangan karakter para pahlawan. Setiap adegan memiliki makna dan dampak yang mendalam, menjadikannya tonggak sejarah bagi waralaba superhero. Dari semua momen aksi yang tercantum di atas, mana yang ingin kamu tonton lagi?

Film Merah Putih One For All Tayang di Bioskop Raffi Ahmad, Dana Rp10-15 M Dari Mana?

Film Animasi Merah Putih One For All: Anggaran Besar dan Kritik yang Menghiasi

Film animasi Merah Putih One For All kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Dengan judul yang mengandung semangat nasionalisme, film ini juga menarik perhatian karena anggaran produksinya yang diperkirakan mencapai kisaran Rp 10 hingga Rp 15 miliar. Hal ini dibenarkan oleh sutradara sekaligus produser film tersebut, Endiarto.

Endiarto menjelaskan bahwa proses pembuatan film ini tidak dilakukan dengan dana besar, melainkan berdasarkan komitmen gotong royong dari seluruh kru dan talent yang terlibat. Ia menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat dalam proyek ini tidak menerima imbalan uang. “Kita memulainya dengan komitmen gotong royong, bukan duit tapi usaha masing-masing. Kalau ditanya modalnya apa? Ya bukan uang tapi effort kami, potensi dan talenta,” ujarnya.

Selain itu, Endiarto juga membantah isu bahwa film ini mendapatkan pendanaan dari pemerintah sebesar Rp 6-7 miliar. Menurutnya, informasi tersebut tidak benar dan hanya berupa spekulasi yang berkembang di media sosial. “Kaget udah pasti, wah ada uang segini enak banget, nggak usah makan nasi goreng Rp15 ribu, kita makan fast food dong,” tambahnya.

Menurut Endiarto, alasan rekannya Toto Soegriwo sempat menyebut angka 6-7 miliar saat ditanya netizen adalah karena ia bingung menjelaskan kontribusi tim tanpa adanya anggaran resmi. “Kalau diakumulasi dari awal sampai akhir, nilainya bisa 6 bisa 7 miliar, bahkan lebih,” katanya.

Meski tidak memiliki dana segar, Endiarto tetap yakin bahwa film ini dapat selesai karena adanya komitmen bersama dari seluruh pihak. “Modal kami adalah gotong royong. Itu yang bikin film ini bisa selesai,” ujarnya.

Film Merah Putih One For All sebelumnya menjadi sorotan karena disebut-sebut mendapat dukungan dana dari pemerintah, namun hasilnya justru tidak memuaskan netizen. Banyak yang mengkritik kualitas animasi yang dinilai buruk dan kaku. Selain itu, waktu produksi yang hanya dua bulan juga menjadi pertanyaan.

Sementara itu, film animasi Jumbo yang menjadi salah satu film paling banyak ditonton di bioskop Indonesia, membutuhkan waktu produksi selama lima tahun. Meskipun demikian, kabar tentang pendanaan film Merah Putih One For All telah dibantah oleh produser dan pihak Kementrian Ekonomi Kreatif.

Jadwal Tayang dan Target Audiens

Film Merah Putih One For All akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada Kamis (14/8/2025). Endiarto menegaskan bahwa tidak ada revisi sama sekali dari film ini meski sudah banyak kritik yang muncul dari masyarakat, terutama di media sosial.

Menurut Endiarto, niat awal pihaknya membuat film animasi bertema nasionalisme tersebut bukan untuk tujuan komersil. Kata dia, film ini dibuat untuk memeriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sasaran audiensnya adalah pelajar SD dan SMP. “Dari awal kita mengkonsep sangat simpel sederhana saja. Audiensnya anak SD dan SMP. Kita sepakat buat film animasi konsep demikian tujuannya bukan festival bukan komersial hanya memeriahkan kemerdekaan RI,” ujar Endiarto.

Endiarto juga menyebut bahwa pihaknya hanya mendapatkan izin tayang di 16 layar bioskop. “Kita hanya mampu tayang di 16 layar, XXI dan Sams Studio,” ujarnya.

Jaringan Bioskop dan Kontribusi Raffi Ahmad

Asisten sutradara, Arry WS, menegaskan bahwa film Merah Putih One For All sudah ditawarkan ke banyak bioskop jaringan Sam’s Studio dan XXI. Ia memberikan apresiasi terhadap bioskop-bioskop tersebut yang sudah menerima pihaknya dengan baik terkait film animasi ini.

“Kami tawarkan ke bioskop-bioskop apresiasi Sams Studio dan XXI. Kalau penjualan tiket booming ya Alhamdulillah kita kan hanya ingin menanamkan rasa nasionalisme sejak dini,” kata Arry.

Sam’s Studio, yang dikabarkan bakal menayangkan film animasi Merah Putih One For All, merupakan perusahaan pengelola jaringan bioskop di Indonesia. Didirikan pada tahun 2024 oleh Sonu Samtani dan Raffi Ahmad, bioskop ini menargetkan daerah-daerah di Pulau Jawa yang bukan kota besar dan tidak terletak di dalam mall, tetapi memiliki gedung sendiri.

Raffi Ahmad juga terlibat dalam proyek ini, termasuk dalam penyediaan makanan dan minuman di bioskop melalui RANS Entertainment.

Perkembangan Terkini

Film animasi Merah Putih One For All sudah tercantum sebagai “Coming Soon” di situs resmi bioskop XXI. Dalam keterangan di situs tersebut, film ini akan tayang pada Kamis (14/8/2025). Film ini juga masuk dalam daftar film-film terbaru pekan ini, seperti Nobody 2, Demon Slayer The Movie: Infinity Castle, dan lainnya.

Film Animasi Merah Putih One for All Tayang Hari Ini di Bioskop Raffi Ahmad dan XXI

Film Animasi Nasionalisme Merah Putih: One for All Resmi Tayang di Bioskop

Film animasi nasionalisme berjudul Merah Putih: One for All resmi tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini, Kamis (14/8/2025). Sebagai bagian dari perayaan HUT ke-80 RI, film ini hadir sebagai bentuk kontribusi untuk memeriahkan momen kemerdekaan. Dengan durasi sekitar satu jam 10 menit, film ini ditujukan khusus untuk anak-anak usia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Film animasi adalah bentuk karya sinematik yang menggunakan gambar bergerak hasil rangkaian ilustrasi, model, atau objek digital untuk menciptakan ilusi gerakan. Dalam hal ini, Merah Putih: One for All menghadirkan cerita tentang semangat nasionalisme melalui kisah delapan anak dari berbagai latar belakang budaya yang bersatu dalam misi menyelamatkan bendera pusaka.

Penayangan Terbatas di 16 Layar Bioskop

Film ini hanya mendapat jatah tayang di 16 layar bioskop, termasuk jaringan XXI dan Sam’s Studio, bioskop independen milik Raffi Ahmad dan Sonu Samtani. Berikut daftar bioskop yang menayangkan film tersebut:

Jakarta:
– Kelapa Gading XXI

– Kemang Village XXI

– Puri XXI

Bogor:
– Metmall Cileungsi XXI

Depok:
– Depok XXI

Tangerang:
– Alam Sutera XXI

Bekasi:
– Mega Bekasi XXI

Selain itu, Sam’s Studio juga menjadi salah satu tempat penayangan film ini. Bioskop ini berkonsep standalone, memiliki gedung sendiri, dan berfungsi sebagai pusat kebudayaan serta pendukung UMKM lokal. Beberapa kota yang menjadi target penayangan antara lain Cibadak, Cianjur, dan Garut.

Asisten sutradara Arry WS menyampaikan apresiasinya kepada jaringan bioskop yang telah menerima film ini dengan baik. Ia berharap penjualan tiket bisa booming agar film ini bisa terus menjangkau lebih banyak audiens.

Kontroversi Anggaran dan Kualitas Produksi

Film Merah Putih: One for All sempat menjadi sorotan publik karena disebut-sebut menghabiskan anggaran hingga Rp6,7 miliar. Namun, kualitas animasinya dinilai buruk dan kaku. Trailer yang dirilis di YouTube dibanjiri kritik dan meme, bahkan muncul dugaan penggunaan aset visual stok dari situs animasi seperti Reallusion.

Endiarto, sutradara film ini, membantah kabar tersebut. Ia menegaskan bahwa film ini dibuat dengan semangat gotong royong, bukan dana segar. Menurutnya, modal utama adalah kontribusi tim yang bisa mencapai Rp10–15 miliar. Pernyataan ini sekaligus membantah rumor bahwa film tersebut mendapat pendanaan dari pemerintah.

Kementerian Ekonomi Kreatif juga secara resmi menyatakan tidak memberikan bantuan keuangan untuk proyek ini. Endiarto menjelaskan bahwa angka Rp6–7 miliar yang sempat disebut oleh produser eksekutif Toto Soegriwo hanyalah estimasi nilai kontribusi tim, bukan anggaran riil.

Harapan Ditonton Presiden dan Utusan Khusus

Endiarto mengungkapkan keinginannya agar film ini bisa ditonton oleh Presiden Prabowo Subianto dan Raffi Ahmad, yang kini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Namun, ia mengaku tidak memiliki akses langsung untuk mengundang mereka.

“Kami ini siapa sih? Kalau ada akses, pasti kami mau undang,” ujarnya.

Film Pendamping dan Perkembangan Distribusi

Pantauan di situs resmi XXI menunjukkan bahwa Merah Putih: One for All sudah masuk daftar “Coming Soon” dan tayang bersamaan dengan film-film populer pekan ini seperti Nobody 2, Demon Slayer: Infinity Castle, La Tahzan, dan The Conjuring (Reissue).

Meski hanya tayang terbatas, Endiarto berharap ada “mukjizat” agar film ini bisa mendapat tambahan layar, terutama di luar Pulau Jawa. Ia menyebut bahwa pihaknya tengah berupaya menggandakan DCP dan poster untuk memperluas distribusi.

Sinopsis Film Merah Putih: One for All

Film animasi Merah Putih: One for All bertema tentang menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Di mana terdapat sekelompok anak yang menjadi “Tim Merah Putih” untuk menjaga bendera pusaka, yakni bendera yang selalu dikibarkan pada setiap upacara 17 Agustus setiap tahunnya.

Akan tetapi, tiga hari sebelum upacara, bendera tersebut hilang. Delapan anak dari berbagai latar belakang budaya, mulai dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa, bersatu dalam misi heroik: menyelamatkan bendera merah putih pusaka yang hilang secara misterius.

Mereka berpetualang mencari Bendera, dengan menelusuri hutan, sungai, dan menghadapi konflik batin. Film ini disutradarai oleh Endiarto dan Bintang Takari, dengan mengangkat tema semangat menyambut hari kemerdekaan. Produser film ini adalah Toto Soegriwo, sedangkan produksi dilakukan oleh Perfiki Kreasindo.

Dengan format 2D dan semua umur, film ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih memahami dan menjaga semangat nasionalisme.

Film Jepang Kartu Paling Seru dan Menegangkan

Film Jepang yang Menghadirkan Ketegangan dan Strategi dalam Permainan Kartu

Di Jepang, permainan seperti karuta, poker, hingga kartu fantasi sering menjadi latar cerita yang menarik dan penuh drama. Dengan premis cerita yang kuat dan akting pemain yang memukau, film-film dengan tema ini jarang ditemukan di Hollywood maupun Korea. Oleh karena itu, film Jepang tentang permainan kartu ini sangat menarik perhatian. Tidak hanya sekadar sulap atau permainan biasa, film-film berikut ini dikemas dengan strategi seru dan dramatisasi yang membuatnya layak disaksikan.

Jika kamu mencari film Jepang yang tidak pasaran dan ingin mengenal sisi lain dari budaya Jepang, berikut adalah rekomendasi film Jepang yang bisa kamu tonton:

1. Kaiji: The Ultimate Gambler (2009)

Film ini menceritakan tentang Kaiji Itō, seorang pria pengangguran yang terjebak dalam utang besar. Untuk melunasi utangnya, ia ditawarkan untuk ikut dalam permainan kartu berisiko tinggi yang bisa mengubah nasibnya atau malah merusak hidupnya. Permainan dalam film ini bukan sekadar keberuntungan, tetapi juga penuh strategi, tipu daya, dan tekanan psikologis.

Selama film berlangsung, penonton diajak menyaksikan bagaimana Kaiji berjuang keluar dari sistem yang tidak adil. Dengan atmosfer yang tegang dan intens, film ini memberikan sensasi adrenalin dari awal hingga akhir. Cocok untuk kamu yang suka film dengan nuansa intens dan membuatmu sulit memalingkan wajah.

  • Genre: Thriller, Drama, Psikologis
  • Pemain: Tatsuya Fujiwara, Kenichi Matsuyama, Tarō Yamamoto
  • Sutradara: Toya Sato

2. Kaiji 2: The Ultimate Gambler (2011)

Kaiji 2 melanjutkan kisah Kaiji Itō yang kembali terjebak dalam permainan berbahaya demi melunasi utang dan membebaskan teman-temannya dari sistem perbudakan finansial. Kali ini, ia dihadapkan pada permainan bernama “The Swamp”, yaitu mesin pachinko raksasa dengan peluang kemenangan yang nyaris mustahil. Namun, Kaiji tidak pernah mundur dan menggunakan kecerdikannya untuk mengalahkan sistem yang tidak adil.

Film ini membawa ketegangan yang lebih tinggi dengan permainan yang spektakuler dan emosional. Di balik permainan kartu dan mesin yang mematikan, terselip kritik sosial tentang kesenjangan, ketamakan, dan keberanian melawan sistem. Seperti film pertamanya, Kaiji 2 juga sukses menyajikan drama psikologis yang intens dan memikat.

  • Genre: Thriller, Psikologis, Drama
  • Pemain: Tatsuya Fujiwara, Yusuke Iseya, Yuriko Yoshitaka
  • Sutradara: Toya Sato

3. Jinroh Shokei Game (2015)

Jinroh Shokei Game adalah adaptasi dari game Werewolf yang populer. Di sini, pemain saling tuduh untuk menemukan siapa yang menjadi “manusia serigala”. Dalam film ini, sekelompok siswa diculik dan terbangun di ruangan misterius. Mereka dipaksa mengikuti permainan hidup dan mati. Dua orang di antara mereka telah ditunjuk sebagai “werewolf” dan sisanya harus menebak siapa mereka sebelum korban berjatuhan.

Film ini menyuguhkan ketegangan psikologis dan atmosfer menegangkan khas survival game. Penonton diajak menebak bersama siapa saja yang berbohong, siapa yang bisa dipercaya, dan bagaimana strategi bisa menyelamatkan nyawa. Ceritanya cepat, penuh kejutan, dan cocok untuk kamu yang suka film dengan plot twist mengejutkan.

  • Genre: Thriller, Misteri, Psikologis
  • Pemain: Takuya Negishi, Aika Ota
  • Sutradara: Guillaume Tauveron

4. Joker Game (2015)

Joker Game mengisahkan seorang prajurit muda bernama Jiro Kato yang direkrut ke dalam organisasi mata-mata rahasia Jepang menjelang Perang Dunia II. Di sana, ia dilatih untuk bertahan hidup dalam dunia penuh intrik dan tipu daya. Salah satu metode pelatihannya melibatkan permainan kartu yang disebut “Joker Game”.

Di sini, para anggota harus menggunakan akal dan insting untuk bertahan dari jebakan rekan mereka sendiri. Meskipun bukan murni tentang permainan kartu, film ini menampilkan bagaimana permainan tersebut menjadi simbol dari dunia spionase yang penuh risiko dan manipulasi.

  • Genre: Thriller, Aksi, Sejarah
  • Pemain: Kazuya Kamenashi, Kyoko Fukada, Yusuke Iseya
  • Sutradara: Yu Irie

5. Chihayafuru Part 1 (2016)

Chihayafuru Part 1 bercerita tentang Chihaya Ayase, seorang gadis SMA yang terinspirasi untuk menjadi pemain karuta terbaik di Jepang setelah bertemu dengan seorang anak pindahan bernama Arata. Karuta adalah permainan kartu tradisional Jepang yang memadukan kecepatan, ingatan, dan puisi. Dengan bantuan dua sahabatnya, Taichi dan Arata, Chihaya mendirikan klub karuta di sekolahnya serta mulai mengejar impiannya.

Film ini tidak hanya menyoroti persaingan dalam pertandingan, tetapi juga memperlihatkan dinamika pertemanan, semangat pantang menyerah, dan cinta yang tumbuh seiring waktu. Pertandingan karuta dibuat sangat mendebarkan dan emosional. Penonton akan ikut merasakan tekanan dan semangat para pemainnya. Jika kamu suka dengan premis film seperti ini, Chihayafuru Part 1 bisa jadi pilihan tepat.

  • Genre: Drama
  • Pemain: Suzu Hirose, Shūhei Nomura, Mackenyu
  • Sutradara: Norihiro Koizumi

6. Kakegurui: The Movie (2019)

Di Akademi Hyakkaou, bukan nilai akademik yang menentukan status sosial, melainkan kemampuan berjudi. Yumeko Jabami, siswi pindahan misterius, datang dan mengacaukan sistem hierarki sekolah dengan keberaniannya berjudi tanpa takut kalah. Permainan kartu menjadi sarana utama pertarungan psikologis antarsiswa.

Film ini menampilkan pertandingan yang ekstrem dan penuh ketegangan serta karakter-karakter eksentrik dengan gaya khas anime yang dibawa ke dunia nyata. Visualnya yang stylish dan cara bertaruh yang dramatis membuat film ini sangat menghibur meski agak gila. Apalagi, premis film ini cukup jarang dibahas dan diangkat ke dalam film pada umumnya.

  • Genre: Thriller, Drama, Psikologis
  • Pemain: Minami Hamabe, Mahiro Takasugi, Aoi Morikawa
  • Sutradara: Tsutomu Hanabusa

Daftar film Jepang tentang permainan kartu ini bisa kamu saksikan saat luang. Dengan berbagai genre yang ditawarkan, mulai dari drama sekolah hingga thriller, film-film ini menunjukkan betapa luasnya potensi cerita yang bisa lahir dari permainan kartu. Bagi kamu yang suka cerita penuh strategi, tekanan psikologis, atau sekadar ingin melihat sisi unik budaya Jepang, daftar film Jepang ini bisa jadi awal yang tepat untuk menjelajahi dunia sinema yang tak biasa.

Sinopsis Film The Conjuring 4: Last Rites yang Segera Dirilis, Daftar 9 Film dalam Universe The Conjuring

Pengumuman Film The Conjuring: Last Rites yang Akan Segera Dirilis

Film terbaru dari serial horor The Conjuring, yaitu The Conjuring: Last Rites, akan segera tayang di bioskop pada 5 September 2025. Film ini diharapkan menjadi penutup bagi kisah Ed dan Lorraine Warren, pasangan penyelidik paranormal yang dikenal dengan keahlian mereka dalam menghadapi berbagai kasus supernatural.

Dalam film ini, pasangan ikonik yang diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Farmiga kembali muncul untuk menghadapi kasus paling kelam dalam karier mereka. Cerita ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1986, ketika keluarga Smurl di West Pittston, Pennsylvania, mengalami teror yang sangat mencekam.

Sinopsis Film The Conjuring: Last Rites

Film The Conjuring: Last Rites bercerita tentang investigasi yang dilakukan oleh Ed dan Lorraine Warren terhadap kediaman keluarga Smurl. Selama lebih dari satu dekade, keluarga ini mengalami berbagai gangguan dari entitas gaib, mulai dari penampakan bayangan hingga kekerasan fisik. Kejadian ini menjadi salah satu penyelidikan paling kontroversial yang pernah ditangani oleh pasangan tersebut.

Cerita ini diadaptasi dari berkas asli penyelidikan Warrens, namun difiksionalisasi agar sesuai dengan format layar lebar. Film ini juga diharapkan bisa menjadi penutup yang seru dan menakutkan bagi waralaba film horor yang sukses ini.

Daftar Pemeran Utama

Beberapa aktor dan aktris yang terlibat dalam film ini antara lain:

  • Vera Farmiga sebagai Lorraine Warren
  • Patrick Wilson sebagai Ed Warren
  • Mia Tomlinson
  • Ben Hardy
  • Steve Coulter
  • Rebecca Calder
  • Elliot Cowan
  • Kíla Lord Cassidy
  • Beau Gadsdon
  • John Brotherton
  • Shannon Kook

Urutan Menonton Film The Conjuring Universe

Untuk memahami alur cerita secara utuh, berikut urutan film The Conjuring Universe baik berdasarkan linimasa maupun urutan rilis:

Linimasa Cerita

  • The Nun (1952/1971)
  • Annabelle: Creation (1943/1952/1955/1967)
  • Annabelle (1967)
  • The Conjuring (1968/1971)
  • Annabelle Comes Home (1968/1969 atau 1971/1972)
  • The Curse of La Llorona (1973)
  • The Conjuring 2 (1976/1977)
  • The Conjuring: The Devil Made Me Do It (1980/1981)

Urutan Rilis Film

  • The Conjuring (2013)
  • Annabelle (2014)
  • The Conjuring 2 (2016)
  • Annabelle Creation (2017)
  • The Nun (2018)
  • The Curse of La Llorona (2019)
  • Annabelle Comes Home (2019)
  • The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

Ringkasan Cerita The Conjuring Universe

Film-film dalam The Conjuring Universe memiliki alur yang saling terhubung meskipun tidak selalu berurutan. Berikut beberapa rangkuman cerita utama:

  • The Nun: Menceritakan perjalanan Pastor Burke dan Suster Irene ke Rumania untuk menyelidiki sebuah biara yang dikaitkan dengan iblis Valak.
  • Annabelle: Creation: Menceritakan bagaimana boneka Annabelle diciptakan dan dirasuki setan.
  • Annabelle: Mengisahkan teror yang dialami orang-orang karena keberadaan boneka setan.
  • The Conjuring: Film pertama dalam waralaba yang mengisahkan kasus rumah berhantu yang diselidiki oleh Ed dan Lorraine Warren.
  • Annabelle Comes Home: Menampilkan bagaimana boneka Annabelle memicu teror bagi putri Warren.
  • The Curse of La Llorona: Menceritakan sosok Weeping Woman yang terobsesi melindungi anak-anak manusia.
  • The Conjuring 2: Pasangan Warren menyelidiki kasus Amityville House dan Enfield Hauntings.
  • The Conjuring: The Devil Made Me Do It: Mengisahkan kasus kerasukan David Glatzel dan Arne Cheyenne Johnson.

9 Film dan Serial MCU dengan Adegan Pembuka Terbaik

Momen Pembuka yang Mengesankan di Film dan Serial MCU

Sejak rilisnya Iron Man pada tahun 2008, film-film Marvel Cinematic Universe (MCU) selalu menjadi sorotan bagi penggemar genre action-superhero. Hingga saat ini, sudah ada 44 film dan serial yang diproduksi oleh Marvel Studios. Selain adegan post-credit yang selalu dinantikan, beberapa film dan serial MCU juga memiliki adegan pembuka yang sangat menarik dan tak terlupakan.

Adegan pembuka tidak hanya berfungsi sebagai perkenalan karakter, tetapi juga membangun suasana awal dari cerita yang akan disajikan. Berikut adalah beberapa contoh adegan pembuka yang sangat memorable dalam sejarah MCU:

1. Iron Man (2008)

Film pertama MCU ini dibuka dengan pemandangan konvoi mobil tentara di tengah padang pasir. Di salah satu mobil tersebut, Tony Stark sedang berbincang santai dengan beberapa tentara sebelum tiba-tiba terjadi ledakan. Adegan ini sangat cocok untuk menggambarkan sifat Tony Stark yang cuek dan arogan. Selain itu, kita juga melihat ironi saat Tony Stark melihat label “Stark Industries” terpampang jelas di senjata yang hampir membunuhnya.

2. The Avengers (2012)

Film ini merupakan pertama kalinya karakter-karakter seperti Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, Black Widow, dan Hawkeye berkumpul dalam satu cerita. Film dimulai dengan ketegangan saat Tesseract yang diteliti oleh Dr. Erik Selvig secara tak sengaja membuka portal yang memungkinkan Loki tiba di Bumi. Dari sinilah kisah Avengers, Loki, dan Thanos bermula.

3. Guardians of The Galaxy (2014)

Film ini dirancang sebagai film MCU yang ringan dan bernuansa komedi. Adegan pembuka menampilkan Peter Quill yang menyetel lagu Come and Get Your Love sambil menari santai. Lagu ini tidak hanya memperkenalkan karakter kocak Peter Quill, tetapi juga menjadi soundtrack utama franchise Guardians of The Galaxy.

4. Avengers: Age of Ultron (2015)

Setelah menghadapi Loki dan serangan Chitauri, Avengers kembali bersatu untuk melawan sisa-sisa pasukan HYDRA di Sokovia. Adegan pembuka langsung menunjukkan kerja sama antar anggota Avengers saat bertarung melawan HYDRA. Intensitas pertarungan di awal film menjadi petanda bahwa banyak ketegangan akan muncul setelahnya.

5. Black Panther (2018)

Film ini menjadi sekuel dari kemunculan T’Challa di Captain America: Civil War (2016). Adegan pembuka menyajikan animasi menarik yang menjelaskan sejarah Wakanda dan asal-usul Black Panther. Hal ini memberikan latar belakang penting bagi kisah T’Challa sebagai Raja Wakanda.

6. Avengers: Infinity War (2018)

Adegan pembuka film ini menampilkan hancurnya Statesmen setelah diserang oleh Thanos. Hanya Heimdall, Loki, Thor, dan Hulk yang selamat. Dalam usaha mendapatkan Tesseract, Thanos membunuh Heimdall dan Loki serta melumpuhkan Thor. Hulk akhirnya tiba di Bumi melalui portal Bifrost Bridge dan memberi kabar tentang kedatangan Thanos kepada para Avengers.

7. Wandavision (2021)

Series ini menjadi pembuka fase 4 MCU. Adegan pembuka menampilkan sitcom bertema pernikahan antara Wanda Maximoff dan Vision. Kebahagiaan yang terlihat di adegan ini campur dengan rasa bingung dan janggal, menjadi petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Wanda.

8. Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Kemunculan Shang-Chi membawa nuansa baru ke dalam MCU. Adegan pembuka film ini mirip dengan film-film laga dari China. Kita diajak melihat perjalanan Xu Wenwu dalam memimpin organisasi Ten Rings dan bagaimana pengaruh organisasi tersebut.

9. Black Panther: Wakanda Forever (2022)

Setelah kematian Chadwick Boseman, para penonton MCU penasaran bagaimana kelanjutan kisah Black Panther. Adegan pembuka film ini menampilkan rangkaian upacara kematian T’Challa yang diikuti rakyat Wakanda. Momen ini menjadi penghormatan terakhir MCU bagi karakter T’Challa dan aktor Chadwick Boseman.

MCU selalu memiliki cara unik untuk memulai film maupun serial sesuai dengan nuansa keseluruhan kisah. Dari adegan pembuka di atas, mana yang paling memorable menurutmu?

Film Animasi Merah Putih Satu untuk Semua Dibuat dengan Dana Gotong Royong Rp10-15 Miliar

Semangat Gotong Royong Membentuk Film Animasi Merah Putih One For All

Sutradara sekaligus produser film animasi Merah Putih One For All, Endiarto, menegaskan bahwa karya terbarunya lahir bukan dari modal uang tunai. Ia menekankan bahwa film animasi ini bisa hadir berkat semangat gotong royong para kru dan talent yang terlibat dalam proses pembuatannya.

Endiarto menyebut bahwa jika seluruh kontribusi tersebut dinilai dalam bentuk rupiah, nilainya bisa mencapai Rp10-15 miliar. “Kita memulainya dengan komitmen gotong royong, bukan duit tapi usaha masing-masing. Kalau ditanya modalnya apa? Ya bukan uang tapi effort kami, potensi dan talenta,” katanya saat mampir ke acara Si Paling Seleb.

“Ada animator, ada dubber, dan talent, semua nggak ada yang diberikan uang. Kalau dinilai, itu bisa 10-15 miliar toh?” tambahnya. Pernyataan ini juga menjadi klarifikasi atas kabar yang sempat beredar bahwa film Merah Putih One For All mendapatkan pendanaan pemerintah sebesar Rp6-7 miliar.

Endiarto mengaku kaget saat mendengar isu tersebut karena menurutnya kabar tersebut terlalu liar berkembang di media sosial. “Kaget udah pasti, wah ada uang segini enak banget, nggak usah makan nasi goreng Rp15 ribu, kita makan fast food dong,” ucapnya. “Kami menyadari bahwa ini selentingan kabar yang kemudian terkompilasi jadi sebesar ini.”

Endiarto kemudian menjelaskan alasan rekannya Toto Soegriwo sempat berucap soal angka 6-7 miliar saat ditanya oleh netizen. “Kan kita nggak ada budget, jadi (dia) bingung jelasin. Akhirnya diberikan definisi angka itu berdasarkan kontribusi tim,” bebernya. “Kalau diakumulasi dari awal sampai akhir, nilainya bisa 6 bisa 7 miliar, bahkan lebih,” terang Endiarto.

Meski tanpa dana segar, ia menegaskan proses produksi berjalan karena adanya komitmen bersama. “Modal kami adalah gotong royong. Itu yang bikin film ini bisa selesai,” tuturnya.

Tujuh Fakta Menarik tentang Film Merah Putih One For All

Berikut tujuh fakta menarik tentang film animasi Merah Putih: One For All yang tengah menjadi sorotan:

  1. Usung Tema Kebangsaan dan Persatuan Anak-anak Nusantara

    Film ini mengisahkan petualangan delapan anak dari berbagai latar budaya, yakni Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan etnis Tionghoa yang tergabung dalam “Tim Merah Putih”. Mereka bersatu untuk mencari dan menyelamatkan bendera pusaka tiga hari sebelum upacara kemerdekaan 17 Agustus.

  2. Debut Animasi Layar Lebar oleh Perfiki Kreasindo

    Film animasi ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo yang merupakan bagian dari Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Merah Putih: One For All disutradarai oleh Endiarto dan Bintang Takari. Mereka juga terlibat dalam penulisan skenario, bersama dengan produser Toto Soegriwo dan produser eksekutif Sonny Pudjisasono.

  3. Diproduksi Anggaran yang Cukup Besar

    Proses produksi dimulai sekitar Juni 2025 dan rampung dalam waktu sekitar dua bulan menjelang penayangan. Film ini kabarnya menelan biaya produksi sebesar Rp 6,7 miliar. Angka tersebut tergolong cukup besar untuk proyek animasi lokal.

  4. Penayangan Strategis Menjelang HUT ke-80 RI

    Merah Putih: One For All akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 14 Agustus 2025. Pemilihan tanggal ini sengaja agar berdekatan dengan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

  5. Menuai Kontroversi karena Kualitas

    Animasi Trailer film ini menuai kritik tajam dari netizen yang menyoroti kualitas animasi yang dirasa kaku dan kurang matang. Alhasil, film ini dibanding-bandingkan dengan beberapa animasi lokal lain seperti Jumbo. Sutradara Jumbo, Ryan Adriandhy, pun angkat suara menyindir eksekusi film ini yang dianggap terburu-buru dan kurang serius.

  6. Dugaan Penggunaan Aset Beli dari Marketplace

    Konten kreator YouTube Yono Jambul menemukan sejumlah aset film dibeli dari marketplace seperti Daz3D, termasuk latar “Street of Mumbai” yang dinilai tidak mencerminkan nuansa lokal Indonesia.

  7. Perbandingan dengan Demon Slayer dan Jumbo

    Warganet membandingkan film ini dengan Demon Slayer dan animasi lokal Jumbo. Demon Slayer disebut hanya menghabiskan sekitar Rp 1,8 miliar per episode namun menghadirkan kualitas kelas dunia, sementara Jumbo dinilai berhasil mengangkat standar animasi Indonesia.

Selain itu, website resmi Perfiki Kreasindo tidak dapat diakses dan menampilkan error “403 Forbidden”. Situs resminya yang memunculkan error 404 saat dicari publik, seolah produksi ini sengaja ingin membatasi informasi atau memang belum siap diungkap seutuhnya.

Film Animasi Merah Putih One For All Tayang 14 Agustus Tanpa Revisi Meski Dikritik

Film Merah Putih One For All Akan Tayang di Bioskop Indonesia

Film animasi Merah Putih One For All telah dipastikan akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia sesuai jadwal, yaitu pada hari Kamis, 14 Agustus 2025. Meskipun film ini sempat mendapat kritik setelah trailer-nya dirilis awal bulan Agustus lalu, sutradara sekaligus penulis naskah film tersebut, Endiarto, menegaskan bahwa tidak ada revisi yang dilakukan terhadap film ini.

Endiarto mengatakan bahwa pihak produksi tetap berkomitmen untuk menayangkan film ini tanpa perubahan apapun, meskipun banyak kritik yang muncul dari masyarakat, khususnya di media sosial. Ia menjelaskan bahwa niat awal pembuatan film ini bukan untuk tujuan komersial, melainkan untuk memeriahkan perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Endiarto, film ini ditujukan kepada pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia menyampaikan bahwa konsep film ini dibuat dengan sederhana, agar mudah dipahami oleh anak-anak. Tujuannya adalah untuk menanamkan rasa nasionalisme sejak dini, bukan untuk bergabung dalam festival atau mencari profit.

Jumlah Layar Tampil Terbatas

Endiarto juga menyebutkan bahwa film ini hanya mendapatkan izin tayang di 16 layar bioskop, termasuk jaringan XXI dan Sams Studio. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah layar yang tersedia cukup terbatas, sehingga penggemar film harus lebih proaktif dalam mencari informasi tayangan.

Asisten sutradara, Arry WS, menambahkan bahwa pihak produksi sudah menawarkan film ini ke berbagai bioskop jaringan Sams Studio dan XXI. Ia memberikan apresiasi terhadap bioskop-bioskop tersebut yang telah menerima film ini dengan baik. Menurut Arry, jika penjualan tiket meningkat, maka itu akan menjadi kabar gembira bagi seluruh tim.

Sams Studio: Bioskop Berbasis Budaya dan UMKM

Jaringan bioskop Sams Studio, yang dikabarkan akan menayangkan Merah Putih One For All, merupakan perusahaan pengelola bioskop di Indonesia yang didirikan pada tahun 2024. Didirikan oleh Sonu Samtani dan Raffi Ahmad, Sams Studio memiliki konsep standalone—artinya tidak terintegrasi dengan pusat perbelanjaan, tetapi memiliki gedung sendiri.

Tujuan utama Sams Studio adalah menjadi pusat kebudayaan serta mendukung UMKM. Fokusnya adalah daerah-daerah di Pulau Jawa yang bukan kota besar, seperti Cibadak, Cianjur, Garut, dan lainnya. Selain itu, Raffi Ahmad juga terlibat dalam proyek ini, termasuk dalam penyediaan makanan dan minuman di bioskop melalui RANS Entertainment.

Anggaran Besar, Kualitas Animasi Diperdebatkan

Merah Putih One For All adalah film animasi Indonesia bertema nasionalisme yang dijadwalkan tayang mulai 14 Agustus 2025. Film ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail, dengan Toto Soegriwo sebagai produser utama dan Endiarto serta Bintang Takari sebagai sutradara dan penulis naskah.

Meski anggaran produksinya mencapai Rp 6,7 miliar, kualitas animasi film ini dinilai buruk dan kaku. Beberapa pengamat menyebutkan adanya dugaan penggunaan aset visual stok dari situs animasi seperti Reallusion. Trailer film ini yang dirilis di YouTube juga dibanjiri kritik dan meme, membuat film ini menjadi sorotan publik.

Plot Film yang Mencerminkan Persatuan

Cerita film ini berfokus pada sekelompok anak yang terpilih menjadi “Tim Merah Putih” untuk menjaga bendera pusaka, bendera yang selalu dikibarkan pada setiap upacara 17 Agustus. Namun, tiga hari sebelum upacara, bendera tersebut hilang. Delapan anak dari berbagai latar belakang budaya seperti Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa bersatu dalam misi heroik menyelamatkan bendera pusaka yang hilang secara misterius.

Mereka melakukan petualangan menelusuri hutan, menyusuri sungai, hingga menghadapi konflik batin. Film ini penuh dengan momen lucu, menegangkan, emosional, dan menggugah jiwa, sarat nilai persatuan, persahabatan, dan semangat cinta nasionalisme anak-anak Indonesia masa kini.

Informasi Lengkap tentang Film

  • Produser: Toto Soegriwo
  • Sutradara: Endiarto, Bintang Takari
  • Penulis Naskah: Endiarto, Bintang Takari
  • Produksi: Perfiki Kreasindo
  • Durasi: 1 jam 10 menit
  • Format: 2D
  • Rating Umum: Semua Umur

Cara Distribusikan Film ke Bioskop: Aturan Penting

Proses Distribusi Film ke Bioskop dan Persyaratan yang Harus Dipenuhi

Film animasi Merah Putih: One For All saat ini sedang menjadi sorotan di berbagai media sosial. Banyak netizen mengkritik film ini karena dinilai kurang cocok untuk ditayangkan di bioskop. Selain alur ceritanya, kualitas visual animasi yang dianggap kurang memuaskan juga menjadi salah satu faktor perdebatan. Hal ini membuat banyak orang penasaran tentang bagaimana proses distribusi film ke bioskop.

Apakah cukup menyerahkan file film dan bisa langsung tayang di layar lebar? Ternyata, tidak semudah itu. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses pendistribusian film di Indonesia, penting bagi para sineas atau produser untuk memahami persyaratan yang harus dipenuhi sebelum film bisa ditayangkan.

Cara Mendistribusikan Film ke Bioskop

Ada beberapa jalur yang umum digunakan oleh produser untuk membawa filmnya ke layar lebar. Berikut beberapa cara utama:

  1. Melalui Festival Film

    Jalur ini sering digunakan oleh produser yang ingin memperkenalkan filmnya ke pasar global. Film bisa dikirimkan ke festival-festival dalam maupun luar negeri. Jika lolos seleksi, film akan diputar di festival tersebut dan dilihat oleh para distributor. Dari sini, peluang untuk mendapatkan kontrak distribusi ke berbagai bioskop akan semakin besar.

  2. Pendekatan Langsung ke Bioskop

    Bagi film yang belum masuk festival besar atau belum memiliki agen penjualan, produser bisa langsung menghubungi distributor film. Caranya adalah dengan mengidentifikasi distributor yang biasa menangani film dengan genre atau target pasar serupa. Selanjutnya, mereka perlu mengirimkan pitch berisi sinopsis singkat, alasan mengapa film cocok untuk mereka, trailer, hingga materi promosi lainnya.

  3. Self-Distribution (Distribusi Mandiri)

    Pendekatan ini biasanya dilakukan oleh sineas independen dengan menghubungi bioskop langsung tanpa melalui distributor. Produser harus menyiapkan semua kebutuhan teknis seperti Digital Cinema Package (DCP), materi promosi, serta strategi pemasaran mandiri. Dokumen-dokumen seperti sertifikasi sensor dan biaya pemutaran juga perlu disiapkan.

Syarat Bioskop Menerima Film

Selain cara distribusi, bioskop Indonesia juga memiliki ketentuan khusus sebelum memutuskan sebuah film layak tayang. Beberapa syarat utama antara lain:

  • Surat Tanda Lulus Sensor (STLS)

    Setiap film yang akan ditayangkan harus memiliki STLS dari Lembaga Sensor Film (LSF). Sertifikat ini mencantumkan klasifikasi usia penonton seperti SU (Semua Umur), 13+, 17+, atau 21+. Selain itu, semua elemen dalam film harus memiliki hak cipta yang sah.

  • Format Digital

    Bioskop Indonesia hanya menerima film dalam format digital sesuai standar perfilman, yaitu Digital Cinema Package (DCP). Distributor wajib menyerahkan file DCP kepada bioskop tujuan melalui kurir yang kemudian dihubungkan ke sistem manajemen teater (TMS) untuk tayang sesuai jadwal.

  • Kualitas Trailer

    Trailer sangat penting karena menjadi media pertama yang memperkenalkan cerita dan daya tarik film kepada calon penonton maupun pihak bioskop. Trailer adalah kesan pertama yang menjadi bahan pertimbangan awal tim pemrograman bioskop.

  • Waktu Penayangan Strategis

    Saat musim liburan, kompetisi antar rumah produksi untuk mendapatkan slot tayang di bioskop, terutama di Cinema XXI, sangat tinggi. Rekam jejak produksi sebelumnya menjadi salah satu faktor penentu.

Ketentuan Film Animasi yang Layak Masuk Bioskop

Saat ini, film animasi memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemar film di Indonesia. Kehadiran film animasi seperti Jumbo yang sukses menjadi film terlaris sepanjang sejarah perfilman Indonesia membuat banyak film animasi Indonesia mulai dilirik. Namun, film animasi Merah Putih: One For All yang akan tayang pada 14 Agustus 2025 menuai pertanyaan publik.

Film animasi tetap harus memenuhi ketentuan yang sama seperti film non-animasi. Hanya saja, ada tambahan beberapa standar teknis, seperti memiliki STLS dari Lembaga Sensor Film dan mematuhi penggolongan usia. Konten film juga harus sesuai norma, tidak mengandung kekerasan berlebihan, ujaran kebencian, atau muatan yang melanggar hukum.

Dari sisi teknis, spesifikasi rinci seperti resolusi, frame rate (FPS), audio, enkripsi/KDM, dan subtitle akan diminta sesuai kebijakan masing-masing jaringan bioskop atau post house yang melakukan mastering. Umumnya, produser diminta menyiapkan DCP dengan resolusi 2K/4K dan audio 5.1 atau 7.1 sesuai permintaan teater. Sebelum tayang, akan dilakukan pengecekan menyeluruh pada sinyal audio, color space, tingkat loudness, dan keterbacaan subtitle.

Hak cipta untuk film animasi juga dilindungi oleh UU Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 yang mengakui karya sinematografi termasuk film kartun atau animasi. Jadi, jangan ragu untuk mulai berkarya.

6 Karakter Anak Paling Berani dalam Film Horor 10 Tahun Terakhir

Bocah-Bocah Pemberani di Dunia Film Horor

Dalam dunia film horor, anak-anak sering kali digambarkan sebagai tokoh yang lemah dan membutuhkan perlindungan. Namun, tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi pahlawan dengan keberanian luar biasa. Keberanian ini muncul dari ketangguhan dan kecerdasan yang melampaui usia mereka, menciptakan kisah-kisah yang menarik dan menginspirasi.

The Losers Club dalam It (2017)

The Losers Club adalah salah satu contoh terbaik dari bocah-bocah pemberani dalam film horor. Tujuh anak ini berani melawan Pennywise, badut iblis yang menyeramkan. Mereka tidak menggunakan senjata canggih, tetapi bergantung pada persahabatan dan keberanian. Aksi mereka membuktikan bahwa kepolosan tidak selalu identik dengan kelemahan.

6 Bocah Pemberani Lainnya dalam Film Horor Terbaru

Selain The Losers Club, ada beberapa bocah lain yang berhasil mencuri perhatian dengan aksi heroik mereka. Berikut ini adalah enam karakter yang layak diperhitungkan:

1. Cole Johnson dalam The Babysitter (2017) dan The Babysitter: Killer Queen (2020)

Cole Johnson, diperankan oleh Judah Lewis, awalnya tampak seperti anak biasa yang sering menjadi korban bullying. Namun, ia memiliki nyali yang luar biasa. Dalam film pertama, ia mengetahui bahwa pengasuhnya ternyata anggota kultus. Dengan kecerdasannya, ia berhasil mengalahkan pemimpin kultus tersebut. Di sekuelnya, ia kembali bertarung demi melindungi seorang gadis.

2. Regan Abbott dalam A Quiet Place (2018) dan A Quiet Place: Part II (2020)

Regan Abbott, diperankan oleh Millicent Simmonds, adalah gadis tuli yang hidup dalam dunia di mana suara bisa berarti kematian. Ia memanfaatkan kondisinya untuk menyelamatkan keluarganya. Dalam film kedua, ia menjadi pemimpin sejati yang nekat meninggalkan keluarganya demi mencari sumber siaran radio misterius.

3. Becky Hopper dalam Becky (2020) dan The Wrath of Becky (2023)

Becky Hopper, diperankan oleh Lulu Wilson, adalah contoh bocah pemberani yang tak kenal takut. Ia menghadapi geng Neo-Nazi dan kelompok ekstremis dengan cara-cara kreatif dan brutal. Dalam film pertama, ia berubah dari anak marah menjadi pejuang tangguh. Senjata sederhananya seperti penggaris atau mesin pemotong rumput berhasil membuat musuhnya kalah.

4. Finney Blake dalam The Black Phone (2021)

Finney Blake, diperankan oleh Mason Thames, adalah bocah yang hidup dalam situasi terdesak. Setelah diculik oleh pembunuh berantai, ia menemukan telepon hitam misterius yang membantu komunikasi dengan korban sebelumnya. Dengan keberaniannya, ia berhasil kabur dan menghadapi sang pembunuh.

5. Kassie dalam Evil Dead Rise (2023)

Kassie, diperankan oleh Nell Fisher, adalah bocah cilik yang harus menyaksikan keluarganya berubah menjadi Deadite. Meski ketakutan jelas terlihat, ia menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia nekat melawan kakaknya yang sudah kerasukan dan membantu menghabisi makhluk menyeramkan.

6. Alex Lilly dalam Weapons (2025)

Alex Lilly, diperankan oleh Cary Christopher, adalah satu-satunya murid yang selamat setelah 17 teman sekelasnya hilang. Ia dipaksa menjadi antek penyihir Gladys demi menyelamatkan keluarganya. Namun, ia tidak hanya patuh, tetapi juga mencari celah untuk menang. Akhirnya, ia berhasil memancing anak-anak yang terhipnotis untuk menyerang Gladys.

Kesimpulan

Bocah-bocah ini membuktikan bahwa keberanian bisa datang dari tubuh kecil dengan tekad besar. Dari Cole hingga Alex, mereka semua menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu terletak pada ukuran, tetapi pada semangat dan keberanian. Jika kamu adalah penonton sekaligus jurinya, bocah mana yang akan kamu beri gelar pahlawan horor terbaik?