Arsip Tag: Industri hiburan

Film Merah Putih: One for All Difilmkan, Ini Pernyataan Ifan Seventeen

Film Animasi Merah Putih: One for All Menghadapi Kritik Publik

Film animasi yang berjudul Merah Putih: One for All kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Sejak tayang di bioskop, film ini mendapat banyak tanggapan dari publik, terutama mengenai kualitas grafis dan animasinya yang dinilai kurang memadai. Banyak netizen dan pengamat perfilman menyampaikan kritik terhadap hasil visual yang dianggap tidak sejalan dengan standar produksi film layar lebar saat ini.

Beberapa aspek yang menjadi sorotan antara lain detail karakter, latar belakang animasi, serta efek gerak yang dinilai kurang halus. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah anggaran produksi yang mencapai sekitar Rp6,7 miliar dapat mencerminkan kualitas yang ditampilkan. Dalam beberapa media sosial, banyak pengguna internet menyebut bahwa film ini jauh dari harapan, bahkan kalah jauh dibandingkan animasi Indonesia terbaru seperti Jumbo atau karya-karya studio besar dunia.

Fakta-Fakta Mengenai Film Merah Putih: One for All

Berikut beberapa fakta penting terkait film animasi ini:

  • Visual Dinilai Kurang Memadai: Sejak trailer dirilis, banyak warganet mengkritik hasil animasi yang dianggap tidak sesuai ekspektasi. Film ini dianggap tidak bisa memenuhi standar visual penonton yang telah terbiasa dengan animasi berkualitas tinggi.

  • Anggaran Produksi Mendapat Sorotan: Biaya produksi sebesar Rp6,7 miliar kini menjadi perhatian publik. Mereka mempertanyakan apakah dana tersebut benar-benar digunakan secara optimal dalam proses produksi.

  • Perbandingan dengan Film Jumbo: Media juga menyoroti perbandingan antara Merah Putih: One for All dan film animasi Jumbo, yang telah mencapai 10 juta penonton dan dianggap memiliki kualitas lebih baik.

  • Kritik dari Sutradara Terkenal dan DPR RI: Sutradara Hanung Bramantyo mempertanyakan alasan film ini bisa tayang meskipun masih banyak judul film Indonesia lainnya yang belum diputar. Di sisi lain, Komisi X DPR RI dan anggota DPR seperti Lalu Hadrian Irfani juga menyampaikan kelemahan film ini, khususnya soal kualitas visual dan urgensi penayangannya.

  • Publik Curiga Proses Terburu-Buru: Beberapa pihak merasa film ini diproduksi dalam waktu singkat dan kurang transparan mengenai latar belakang studio pembuatnya, Perfiki Kreasindo. Meski demikian, produser eksekutif membantah kabar tersebut dan menyatakan proyek ini sudah digagas sejak tahun lalu.

  • Pemerintah Tidak Menyuntik Dana Langsung: Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa pemerintah tidak memberikan dana produksi maupun fasilitas promosi langsung kepada film ini. Audiensi hanya dilakukan untuk memberikan masukan, bukan dukungan finansial.

  • Sinopsis Singkat: Film ini bercerita tentang sekelompok anak dengan latar budaya Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa dalam Tim Merah Putih yang bertugas menjaga bendera pusaka jelang 17 Agustus. Namun, bendera itu tiba-tiba hilang tiga hari sebelum upacara, dan mereka berpetualang melewati sungai, hutan, dan badai untuk menemukannya sambil meredam ego masing-masing.

Meskipun film ini dimaksudkan sebagai kado HUT RI ke-80, eksekusi yang dinilai terburu-buru serta penggunaan anggaran besar membuatnya sulit diterima oleh sebagian publik dan penggiat perfilman. Kritik datang tidak hanya dari warganet, tetapi juga dari kalangan profesional, yang menyoroti kualitas visual, alur cerita, dan transparansi proses produksi.

Dengan adanya kritik ini, diharapkan menjadi pelajaran penting bagi para pembuat film untuk lebih memperhatikan kualitas dan perencanaan di setiap tahap produksi. Dengan begitu, karya yang dihasilkan di masa mendatang dapat menjadi kebanggaan bersama dan meninggalkan jejak positif bagi generasi berikutnya.

Nyanyi, Antara Perselisihan Royalti dan Manfaat Kesehatan yang Terabaikan

Perdebatan Royalti Musik dan Pengaruhnya pada Kehidupan Sehari-hari

Beberapa waktu terakhir, dunia musik Indonesia diwarnai dengan perdebatan sengit terkait royalti. Perseteruan ini melibatkan banyak pihak, mulai dari para musisi hingga pelaku usaha seperti pemilik kafe dan restoran. Bagi sebagian musisi, royalti adalah bentuk penghargaan terhadap karya mereka. Namun bagi sebagian pemilik usaha, aturan pemungutannya masih membingungkan dan terasa membebani. Akibatnya, terjadi tarik ulur kepentingan yang sulit diakhiri dalam waktu singkat.

Fenomena yang muncul sebagai dampak dari kisruh ini cukup menarik. Banyak kafe dan restoran yang memilih berhati-hati dalam memutar musik di ruang publik. Ada yang mengganti playlist lagu populer dengan suara alam seperti kicauan burung, gemericik air, atau musik instrumental bebas lisensi. Ada pula yang memutuskan untuk membiarkan suasana tetap sunyi, hanya diisi dengan suara obrolan pengunjung dan dentingan sendok di cangkir. Semua dilakukan demi menghindari potensi kewajiban membayar royalti. Situasi ini, mau tidak mau, mengubah cara kita mengonsumsi musik di ruang publik.

Namun di tengah suasana ini, ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Jika musik di ruang publik mulai dibatasi, mengapa tidak menciptakan konser sendiri di ruang privat? Menyanyi di rumah, di kamar, atau bahkan di mobil ternyata bukan hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi tubuh dan pikiran.

Menyanyi Sebagai Aktivitas Universal

Menyanyi adalah salah satu bentuk ekspresi manusia yang paling tua. Dari nyanyian pengantar tidur ibu kepada bayinya, lagu rakyat di desa, hingga konser megah di stadion, aktivitas ini menyentuh berbagai lapisan usia dan budaya. Menariknya, menyanyi tidak memerlukan peralatan canggih atau tempat khusus. Semua orang bisa melakukannya kapan saja, di mana saja.

Meski sering dianggap hanya sebagai hiburan, menyanyi sesungguhnya memiliki banyak dampak positif. Secara fisik, menyanyi membantu melatih kontrol pernapasan. Saat seseorang bernyanyi, ia secara alami mengatur napas untuk menyesuaikan tempo dan nada. Hal ini melibatkan kerja paru-paru yang lebih teratur, melatih otot pernapasan seperti diafragma, serta menguatkan otot tenggorokan yang juga berperan dalam proses berbicara dan menelan.

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa aktivitas ini mampu meningkatkan kadar saturasi oksigen dalam darah, yang berarti tubuh mendapatkan suplai oksigen lebih baik. Selain itu, menyanyi dapat membantu mengendalikan rasa nyeri dan meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh. Tidak mengherankan jika terapi bernyanyi kini mulai diperkenalkan dalam beberapa metode pemulihan kesehatan.

Efek Psikologis yang Tidak Bisa Diabaikan

Manfaat menyanyi tidak berhenti pada aspek fisik. Secara psikologis, aktivitas ini memiliki efek yang kuat dalam memengaruhi emosi. Saat bernyanyi, tubuh memproduksi hormon endorfin—yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan—serta oksitosin, yang berperan dalam mengurangi stres dan rasa cemas. Efek ini membuat banyak orang merasa lebih lega, bersemangat, dan optimis setelah bernyanyi, bahkan jika mereka merasa suara mereka tidak begitu merdu.

Musik dan nyanyian juga berperan dalam meningkatkan suasana hati. Mendengarkan musik saja sudah mampu memicu pelepasan hormon dopamin, apalagi jika kita ikut bernyanyi. Pada tingkat yang lebih sosial, bernyanyi bersama orang lain—misalnya dalam paduan suara atau karaoke—dapat mempererat hubungan interpersonal. Aktivitas ini menciptakan rasa kebersamaan, meningkatkan komunikasi, dan mengurangi rasa kesepian.

Banyak penelitian yang mengaitkan kegiatan bernyanyi dengan tiga elemen penting dalam kesejahteraan manusia: pengelolaan identitas diri, peningkatan suasana hati, dan penguatan hubungan antarindividu. Lagu-lagu tertentu sering kali menjadi bagian dari identitas pribadi, mewakili pengalaman, ingatan, atau nilai-nilai yang dianut seseorang.

Lagu-lagu di Ruang Privat Tanpa Batasan

Di tengah polemik royalti musik, ada kabar baik untuk para penggemar nyanyi. Menyanyi di ruang privat—entah itu di rumah, mobil, atau bahkan di kamar mandi—tidak dikenakan biaya royalti. Aktivitas ini sepenuhnya bebas dilakukan tanpa khawatir melanggar aturan. Bagi banyak orang, momen bernyanyi sendirian bisa menjadi pelarian dari tekanan sehari-hari.

Bernyanyi saat menyetir di tengah kemacetan, bersenandung kecil sambil memasak, atau mengalunkan lagu favorit sebelum tidur, semuanya mampu memberikan efek relaksasi yang signifikan. Tidak perlu panggung megah atau perlengkapan audio mahal; yang dibutuhkan hanya suara, melodi, dan keberanian untuk menikmatinya.

Fenomena “konser pribadi” ini bahkan bisa menjadi tren baru. Jika di ruang publik kita mulai kehilangan kebebasan untuk mendengar lagu favorit, maka di ruang pribadi kita bisa memutarnya sepuas hati sambil bernyanyi tanpa batas.

Manfaat Menyanyi untuk Produktivitas

Manfaat menyanyi ternyata juga bisa merembet ke ranah produktivitas. Musik dan nyanyian dapat membantu sebagian orang untuk lebih fokus saat bekerja atau belajar. Irama lagu dapat menjadi pemicu konsentrasi, sementara proses bernyanyi itu sendiri membantu mengalihkan perhatian dari pikiran yang terlalu penuh atau stres yang menumpuk.

Polanya mirip dengan latihan pernapasan dalam yoga. Saat bernyanyi, kita menarik dan menghembuskan napas secara teratur, yang pada gilirannya menurunkan tekanan darah, memperlambat detak jantung, dan menciptakan efek menenangkan. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa pikirannya lebih jernih dan tubuh lebih rileks setelah bernyanyi.

Dari Kafe Sunyi ke Kebebasan di Rumah

Kisruh royalti musik telah mengubah lanskap hiburan di ruang publik. Kafe dan restoran yang dulu akrab dengan dentingan lagu populer kini lebih sering sunyi atau diisi suara alam. Perubahan ini tentu memengaruhi pengalaman pengunjung, tetapi juga memicu lahirnya kebiasaan baru di ruang pribadi.

Menyanyi di rumah menjadi bentuk perlawanan kecil yang menyenangkan. Ia mengembalikan musik ke pangkuan setiap individu, bukan sekadar sebagai hiburan yang harus dibayar, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bebas dan alami. Dalam konteks ini, menyanyi tidak lagi hanya soal nada dan lirik, tetapi juga tentang kebebasan, kesehatan, dan kebahagiaan.

Kesimpulan: Saatnya Menghidupkan Konser Pribadi

Di tengah perdebatan panjang tentang royalti musik, kita bisa memilih untuk tetap memelihara hubungan personal dengan musik melalui nyanyian. Manfaat fisik dan mentalnya terlalu besar untuk diabaikan. Dari peningkatan fungsi paru-paru hingga pelepasan hormon bahagia, menyanyi adalah aktivitas yang sederhana namun berdampak besar.

Tidak perlu panggung, tidak perlu penonton, dan tentu saja tidak perlu membayar royalti. Cukup nyalakan lagu favorit, atur napas, dan biarkan suara mengalir. Siapa pun bisa menjadi bintang di konser pribadinya sendiri, di mana pun dan kapan pun. Dan mungkin, di tengah heningnya kafe-kafe yang dulu ramai musik, justru di rumah kitalah musik menemukan bentuk kebebasannya yang sejati.

[WANSUS] Timo Tjahjanto: Debut Hollywood yang Menyentak dalam Nobody 2

Pengalaman Membuat Film Nobody 2 dengan Timo Tjahjanto

Timo Tjahjanto, sutradara Indonesia yang kini berada di tengah-tengah proyek film Hollywood, Nobody 2, mengungkapkan pengalamannya dalam membuat film tersebut. Dalam wawancara virtual, ia menjelaskan bagaimana proses kreatif dan produksi film ini berlangsung, serta peran penting dari para aktor seperti Bob Odenkirk dan Sharon Stone.

Awal Keterlibatan dalam Proyek Nobody 2

Timo menceritakan bahwa ia pertama kali ditawari untuk bergabung dalam proyek Nobody 2 saat sedang menyelesaikan film Shadow Strays. Agent-nya memberi tahu bahwa Universal Pictures sedang mempersiapkan sekuel dari film Nobody dan ingin menawarkan skrip kepada dirinya. Ia langsung tertarik karena merupakan penggemar film pertama yang dibuat oleh Ilya Naishuller. Meski awalnya terkejut dengan gaya skrip yang lebih berwarna dan positif, ia merasa tantangan itu cocok dengan keinginannya untuk menciptakan sesuatu yang lebih optimis dan berkaitan dengan keluarga.

Proses Membuat Film yang Berbeda

Dalam wawancara ini, Timo menyebutkan bahwa ia tidak hanya menyetujui proyek ini, tetapi juga harus melakukan pitching ide dan visi ke Universal Studios dan Bob Odenkirk. Diskusi tentang menjadi seorang ayah dengan dua anak membantu mereka saling memahami dan akhirnya Timo mendapatkan pekerjaan sebagai sutradara.

Menyeimbangkan Adegan Aksi yang Brutal dan Menyenangkan

Timo menjelaskan bahwa meskipun film-filmnya sebelumnya memiliki adegan aksi yang brutal, ia ingin Nobody 2 memiliki keseimbangan antara kekerasan dan kesenangan. Ia ingin penonton tidak merasa bersedih atau marah setelah menonton film ini. Proses pembuatan adegan aksi ini melibatkan banyak diskusi dengan tim dan aktor, termasuk Connie Nielsen, yang berperan sebagai istri Hutch Mansell.

Pengaruh Budaya Lokal dalam Pembuatan Film

Meskipun Nobody 2 adalah film Hollywood, Timo menyatakan bahwa ia membawa identitasnya sebagai filmmaker Asia. Ia tidak secara sengaja memasukkan elemen lokal, tetapi hal itu terjadi secara alami karena pengalamannya sebagai sutradara di Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya belajar dari pengalaman dan menghargai pendapat orang lain dalam proses kreatif.

Adegan Aksi yang Ikonomik

Salah satu adegan yang paling dikenang oleh Timo adalah adegan akhir yang menggabungkan strategi aksi seperti Home Alone dengan nuansa dewasa. Ia bersama tim aksi, Greg Rementer, mencoba memikirkan cara-cara unik untuk membuat adegan tersebut menarik. Misalnya, menggunakan kolam bola dan slide air yang dipenuhi bahaya. Proses ini sangat dinikmati oleh Timo, meskipun ia sendiri tidak terlalu suka naik wahana seperti itu.

Hubungan dengan Aktor Senior

Timo mengakui bahwa bekerja sama dengan Sharon Stone adalah pengalaman luar biasa. Ia mengagumi sikap Sharon yang tegas namun ramah. Selain itu, ia juga menghargai latar belakang kerja kelas bawah Sharon, yang membuatnya merasa dekat dengannya. Pengalaman syuting yang paling menarik bagi Timo adalah ketika Sharon membantunya meregangkan ototnya saat sedang sakit punggung.

Pelajaran untuk Industri Film Indonesia

Setelah menyelesaikan film besar seperti Nobody 2, Timo berharap bisa membawa pelajaran ke industri film Indonesia. Ia menilai bahwa Indonesia memiliki banyak talenta, tetapi masih perlu meningkatkan profesionalisme dan pengeditan hasil. Ia juga mengkritik sistem kerja yang terlalu ekstrem, yang sering menyebabkan kelelahan dan bahaya bagi kru. Timo berharap sistem kerja yang lebih realistis dapat diterapkan di masa depan.

Kesimpulan

Film Nobody 2 telah dirilis di bioskop sejak 13 Agustus 2025. Dengan campuran aksi, humor, dan pesan tentang keluarga, film ini menjadi bukti bahwa Timo Tjahjanto mampu menciptakan karya yang menarik di kancah internasional. Bagi pecinta film aksi, Nobody 2 layak ditonton sebagai sekuel yang lebih seru dari film pertamanya.

Jadwal Bioskop Bali Hari Ini: Film Nobody 2 dan Dua Film Lokal Terbaru yang Harus Ditonton

Jadwal Film di Bioskop Kota Denpasar, Kamis 14 Agustus

Bagi warga Kota Denpasar, Bali, setelah menjalani berbagai aktivitas sehari-hari, penting untuk mengambil waktu sejenak untuk melakukan kegiatan yang bisa memberikan relaksasi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menonton film di bioskop-bioskop yang tersedia di kota ini. Berbagai pilihan genre film bisa ditemukan hari ini, mulai dari horor, drama hingga aksi.

Bioskop-bioskop di Denpasar tersebar merata di seluruh penjuru kota, sehingga memudahkan masyarakat untuk memilih tempat yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka. Beberapa bioskop populer yang bisa dikunjungi antara lain Level 21, TSM XXI, Living World, ICON Bali XXI, dan Denpasar Cineplex. Berikut adalah jadwal film yang tayang di beberapa bioskop tersebut pada Kamis, 14 Agustus.

Denpasar Cineplex

Berlokasi di Jalan M.H. Thamrin No.69, Pemecutan, Denpasar, bioskop ini menawarkan berbagai pilihan film:

  1. Panggilan dari Kubur (Deluxe) – Tayang pukul 13.15, 15.15, 17.15, 19.15, dan 21.15 WITA. Harga Rp 35.000.
  2. Nobody 2 (Executive) – Tayang pukul 12.30 dan 17.10 WITA. Harga Rp 50.000.
  3. Panggil Aku Ayah (Deluxe) – Tayang pukul 12.30 dan 19.05 WITA. Harga Rp 35.000.
  4. Sihir Pelakor (Deluxe) – Tayang pukul 15.00, 17.05, dan 21.35 WITA. Harga Rp 35.000.
  5. Weapon (Executive) – Tayang pukul 14.30, 19.10, dan 21.50 WITA. Harga Rp 50.000.
  6. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Deluxe) – Tayang pukul 13.00, 15.50, 18.40, dan 21.30 WITA. Harga Rp 35.000.
  7. Tinggal Meninggal (Deluxe) – Tayang pukul 14.00, 16.30, 19.00, dan 21.30 WITA. Harga Rp 35.000.

Level 21 XXI Mall

Lokasi bioskop ini berada di Level 21 Lantai 4, Jalan Teuku Umar No. 1, Denpasar. Beberapa film yang tayang antara lain:

  1. Panggil Aku Ayah (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.30, 16.30, 18.45, dan 21.00 WITA. Harga Rp 50.000.
  2. Sihir Pelakor (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.00 dan 16.40 WITA. Harga Rp 50.000.
  3. Weapons (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.30, 17.40, dan 20.05 WITA. Harga Rp 50.000.
  4. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55, 15.35, 18.15, dan 20.55 WITA. Harga Rp 50.000.
  5. Lyora: Penantian Buah Hati (Reguler 2D) – Tayang pukul 14.50, 18.30, dan 20.20 WITA. Harga Rp 50.000.
  6. Tinggal Meninggal (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.00, 14.20, 16.40, 19.00, dan 21.20 WITA. Harga Rp 50.000.
  7. Nobody 2 (Reguler 2D) – Tayang pukul 14.45 dan 15.55 WITA. Harga Rp 50.000.
  8. Nobody 2 (Premiere) – Tayang pukul 13.30, 15.15, 17.00, 18.45, dan 20.30 WITA. Harga Rp 100.000.

Cinepolis Plaza Renon

Di Jalan Raya Puputan, Niti Mandala, Renon, Denpasar, bioskop ini menampilkan film-film seperti:

  1. Weapons (Reguler 2D) – Tayang pukul 14.40, 17.20, dan 20.00 WITA. Harga Rp 40.000.
  2. Rego Nyowo (Reguler 2D) – Tayang pukul 20.35 WITA. Harga Rp 40.000.
  3. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 11.50, 14.35, 17.25, dan 20.15 WITA. Harga Rp 40.000.
  4. Sore: Istri dari Masa Depan (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.35, 16.10, 18.45, dan 21.20 WITA. Harga Rp 40.000.
  5. Pamali: Tumbal (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.15, 14.20, 16.25, dan 18.30 WITA. Harga Rp 40.000.

TSM XXI

Bioskop ini berada di Trans Studio Mall Bali Lt. 1, Jln. Imam Bonjol No. 440, Denpasar. Beberapa film yang ditayangkan antara lain:

  1. Superman (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55 WITA. Harga Rp 45.000.
  2. Nobody 2 (Reguler 2D) – Tayang pukul 17.30, 19.15, dan 21.00 WITA. Harga Rp 45.000.
  3. Nobody 2 (Premiere) – Tayang pukul 13.30, 15.15, 17.00, 18.45, dan 20.30 WITA. Harga Rp 100.000.
  4. My Daughter is A Zombie (Reguler 2D) – Tayang pukul 15.20 WITA. Harga Rp 45.000.
  5. Panggilan dari Kubur (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.15, 15.00, 16.45, 18.30, dan 20.15 WITA. Harga Rp 45.000.
  6. Believe: Takdir Mimpi Keberanian (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.10, 14.20, 16.30, 18.40, dan 20.20 WITA. Harga Rp 45.000.
  7. Sihir Pelakor (Reguler 2D) – Tayang pukul 15.15 dan 19.00 WITA. Harga Rp 45.000.
  8. Weapons (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.15, 15.40, 18.05, dan 20.30 WITA. Harga Rp 45.000.
  9. The Naked Gun (Reguler 2D) – Tayang pukul 20.50 WITA. Harga Rp 45.000.
  10. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55, 15.35, 18.15, dan 20.55 WITA. Harga Rp 45.000.
  11. Pamali: Tumbal (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.20 dan 17.05 WITA. Harga Rp 45.000.

Living World Denpasar

Berlokasi di Mall Living World Lantai 2 Jalan Gatot Subroto Timur, Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Denpasar, bioskop ini memiliki jadwal sebagai berikut:

  1. My Daughter is A Zombie (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.35, 16.30, dan 20.25 WITA. Harga Rp 55.000.
  2. Weapons (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.30, 15.55, 18.20, dan 20.45 WITA. Harga Rp 55.000.
  3. Weapons (Premiere) – Tayang pukul 13.15, 15.40, 18.05, dan 20.30 WITA. Harga Rp 100.000.
  4. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55, 15.35, 18.15, dan 20.55 WITA. Harga Rp 55.000.
  5. Sore: Istri dari Masa Depan (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.00, 15.20, 17.40, dan 20.00 WITA. Harga Rp 55.000.
  6. Nobody 2 (Reguler 2D) – Tayang pukul 14.45 dan 18.40 WITA. Harga Rp 55.000.

ICON Bali XXI

Bioskop ini berada di Jalan Danau Tamblingan No.27, Sanur, Denpasar. Beberapa film yang ditayangkan antara lain:

  1. My Daughter is A Zombie (Reguler 2D) – Tayang pukul 15.35 dan 20.05 WITA. Harga Rp 40.000.
  2. Weapons (Premiere) – Tayang pukul 13.15, 15.40, 18.05, dan 20.30 WITA. Harga Rp 100.000.
  3. Weapons (IMAX 2D) – Tayang pukul 13.05, 18.20, dan 20.45 WITA. Harga Rp 45.000.
  4. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55, 15.35, 18.15, dan 20.55 WITA. Harga Rp 40.000.
  5. Sore: Istri dari Masa Depan (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.15 dan 17.45 WITA. Harga Rp 40.000.
  6. F1 The Movie (IMAX 2D) – Tayang pukul 15.30 WITA. Harga Rp 45.000.

Silakan menonton!

9 Film dan Serial MCU dengan Adegan Pembuka Terbaik

Momen Pembuka yang Mengesankan di Film dan Serial MCU

Sejak rilisnya Iron Man pada tahun 2008, film-film Marvel Cinematic Universe (MCU) selalu menjadi sorotan bagi penggemar genre action-superhero. Hingga saat ini, sudah ada 44 film dan serial yang diproduksi oleh Marvel Studios. Selain adegan post-credit yang selalu dinantikan, beberapa film dan serial MCU juga memiliki adegan pembuka yang sangat menarik dan tak terlupakan.

Adegan pembuka tidak hanya berfungsi sebagai perkenalan karakter, tetapi juga membangun suasana awal dari cerita yang akan disajikan. Berikut adalah beberapa contoh adegan pembuka yang sangat memorable dalam sejarah MCU:

1. Iron Man (2008)

Film pertama MCU ini dibuka dengan pemandangan konvoi mobil tentara di tengah padang pasir. Di salah satu mobil tersebut, Tony Stark sedang berbincang santai dengan beberapa tentara sebelum tiba-tiba terjadi ledakan. Adegan ini sangat cocok untuk menggambarkan sifat Tony Stark yang cuek dan arogan. Selain itu, kita juga melihat ironi saat Tony Stark melihat label “Stark Industries” terpampang jelas di senjata yang hampir membunuhnya.

2. The Avengers (2012)

Film ini merupakan pertama kalinya karakter-karakter seperti Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, Black Widow, dan Hawkeye berkumpul dalam satu cerita. Film dimulai dengan ketegangan saat Tesseract yang diteliti oleh Dr. Erik Selvig secara tak sengaja membuka portal yang memungkinkan Loki tiba di Bumi. Dari sinilah kisah Avengers, Loki, dan Thanos bermula.

3. Guardians of The Galaxy (2014)

Film ini dirancang sebagai film MCU yang ringan dan bernuansa komedi. Adegan pembuka menampilkan Peter Quill yang menyetel lagu Come and Get Your Love sambil menari santai. Lagu ini tidak hanya memperkenalkan karakter kocak Peter Quill, tetapi juga menjadi soundtrack utama franchise Guardians of The Galaxy.

4. Avengers: Age of Ultron (2015)

Setelah menghadapi Loki dan serangan Chitauri, Avengers kembali bersatu untuk melawan sisa-sisa pasukan HYDRA di Sokovia. Adegan pembuka langsung menunjukkan kerja sama antar anggota Avengers saat bertarung melawan HYDRA. Intensitas pertarungan di awal film menjadi petanda bahwa banyak ketegangan akan muncul setelahnya.

5. Black Panther (2018)

Film ini menjadi sekuel dari kemunculan T’Challa di Captain America: Civil War (2016). Adegan pembuka menyajikan animasi menarik yang menjelaskan sejarah Wakanda dan asal-usul Black Panther. Hal ini memberikan latar belakang penting bagi kisah T’Challa sebagai Raja Wakanda.

6. Avengers: Infinity War (2018)

Adegan pembuka film ini menampilkan hancurnya Statesmen setelah diserang oleh Thanos. Hanya Heimdall, Loki, Thor, dan Hulk yang selamat. Dalam usaha mendapatkan Tesseract, Thanos membunuh Heimdall dan Loki serta melumpuhkan Thor. Hulk akhirnya tiba di Bumi melalui portal Bifrost Bridge dan memberi kabar tentang kedatangan Thanos kepada para Avengers.

7. Wandavision (2021)

Series ini menjadi pembuka fase 4 MCU. Adegan pembuka menampilkan sitcom bertema pernikahan antara Wanda Maximoff dan Vision. Kebahagiaan yang terlihat di adegan ini campur dengan rasa bingung dan janggal, menjadi petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Wanda.

8. Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Kemunculan Shang-Chi membawa nuansa baru ke dalam MCU. Adegan pembuka film ini mirip dengan film-film laga dari China. Kita diajak melihat perjalanan Xu Wenwu dalam memimpin organisasi Ten Rings dan bagaimana pengaruh organisasi tersebut.

9. Black Panther: Wakanda Forever (2022)

Setelah kematian Chadwick Boseman, para penonton MCU penasaran bagaimana kelanjutan kisah Black Panther. Adegan pembuka film ini menampilkan rangkaian upacara kematian T’Challa yang diikuti rakyat Wakanda. Momen ini menjadi penghormatan terakhir MCU bagi karakter T’Challa dan aktor Chadwick Boseman.

MCU selalu memiliki cara unik untuk memulai film maupun serial sesuai dengan nuansa keseluruhan kisah. Dari adegan pembuka di atas, mana yang paling memorable menurutmu?

Film Animasi Merah Putih Satu untuk Semua Dibuat dengan Dana Gotong Royong Rp10-15 Miliar

Semangat Gotong Royong Membentuk Film Animasi Merah Putih One For All

Sutradara sekaligus produser film animasi Merah Putih One For All, Endiarto, menegaskan bahwa karya terbarunya lahir bukan dari modal uang tunai. Ia menekankan bahwa film animasi ini bisa hadir berkat semangat gotong royong para kru dan talent yang terlibat dalam proses pembuatannya.

Endiarto menyebut bahwa jika seluruh kontribusi tersebut dinilai dalam bentuk rupiah, nilainya bisa mencapai Rp10-15 miliar. “Kita memulainya dengan komitmen gotong royong, bukan duit tapi usaha masing-masing. Kalau ditanya modalnya apa? Ya bukan uang tapi effort kami, potensi dan talenta,” katanya saat mampir ke acara Si Paling Seleb.

“Ada animator, ada dubber, dan talent, semua nggak ada yang diberikan uang. Kalau dinilai, itu bisa 10-15 miliar toh?” tambahnya. Pernyataan ini juga menjadi klarifikasi atas kabar yang sempat beredar bahwa film Merah Putih One For All mendapatkan pendanaan pemerintah sebesar Rp6-7 miliar.

Endiarto mengaku kaget saat mendengar isu tersebut karena menurutnya kabar tersebut terlalu liar berkembang di media sosial. “Kaget udah pasti, wah ada uang segini enak banget, nggak usah makan nasi goreng Rp15 ribu, kita makan fast food dong,” ucapnya. “Kami menyadari bahwa ini selentingan kabar yang kemudian terkompilasi jadi sebesar ini.”

Endiarto kemudian menjelaskan alasan rekannya Toto Soegriwo sempat berucap soal angka 6-7 miliar saat ditanya oleh netizen. “Kan kita nggak ada budget, jadi (dia) bingung jelasin. Akhirnya diberikan definisi angka itu berdasarkan kontribusi tim,” bebernya. “Kalau diakumulasi dari awal sampai akhir, nilainya bisa 6 bisa 7 miliar, bahkan lebih,” terang Endiarto.

Meski tanpa dana segar, ia menegaskan proses produksi berjalan karena adanya komitmen bersama. “Modal kami adalah gotong royong. Itu yang bikin film ini bisa selesai,” tuturnya.

Tujuh Fakta Menarik tentang Film Merah Putih One For All

Berikut tujuh fakta menarik tentang film animasi Merah Putih: One For All yang tengah menjadi sorotan:

  1. Usung Tema Kebangsaan dan Persatuan Anak-anak Nusantara

    Film ini mengisahkan petualangan delapan anak dari berbagai latar budaya, yakni Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan etnis Tionghoa yang tergabung dalam “Tim Merah Putih”. Mereka bersatu untuk mencari dan menyelamatkan bendera pusaka tiga hari sebelum upacara kemerdekaan 17 Agustus.

  2. Debut Animasi Layar Lebar oleh Perfiki Kreasindo

    Film animasi ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo yang merupakan bagian dari Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Merah Putih: One For All disutradarai oleh Endiarto dan Bintang Takari. Mereka juga terlibat dalam penulisan skenario, bersama dengan produser Toto Soegriwo dan produser eksekutif Sonny Pudjisasono.

  3. Diproduksi Anggaran yang Cukup Besar

    Proses produksi dimulai sekitar Juni 2025 dan rampung dalam waktu sekitar dua bulan menjelang penayangan. Film ini kabarnya menelan biaya produksi sebesar Rp 6,7 miliar. Angka tersebut tergolong cukup besar untuk proyek animasi lokal.

  4. Penayangan Strategis Menjelang HUT ke-80 RI

    Merah Putih: One For All akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 14 Agustus 2025. Pemilihan tanggal ini sengaja agar berdekatan dengan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

  5. Menuai Kontroversi karena Kualitas

    Animasi Trailer film ini menuai kritik tajam dari netizen yang menyoroti kualitas animasi yang dirasa kaku dan kurang matang. Alhasil, film ini dibanding-bandingkan dengan beberapa animasi lokal lain seperti Jumbo. Sutradara Jumbo, Ryan Adriandhy, pun angkat suara menyindir eksekusi film ini yang dianggap terburu-buru dan kurang serius.

  6. Dugaan Penggunaan Aset Beli dari Marketplace

    Konten kreator YouTube Yono Jambul menemukan sejumlah aset film dibeli dari marketplace seperti Daz3D, termasuk latar “Street of Mumbai” yang dinilai tidak mencerminkan nuansa lokal Indonesia.

  7. Perbandingan dengan Demon Slayer dan Jumbo

    Warganet membandingkan film ini dengan Demon Slayer dan animasi lokal Jumbo. Demon Slayer disebut hanya menghabiskan sekitar Rp 1,8 miliar per episode namun menghadirkan kualitas kelas dunia, sementara Jumbo dinilai berhasil mengangkat standar animasi Indonesia.

Selain itu, website resmi Perfiki Kreasindo tidak dapat diakses dan menampilkan error “403 Forbidden”. Situs resminya yang memunculkan error 404 saat dicari publik, seolah produksi ini sengaja ingin membatasi informasi atau memang belum siap diungkap seutuhnya.

Cara Distribusikan Film ke Bioskop: Aturan Penting

Proses Distribusi Film ke Bioskop dan Persyaratan yang Harus Dipenuhi

Film animasi Merah Putih: One For All saat ini sedang menjadi sorotan di berbagai media sosial. Banyak netizen mengkritik film ini karena dinilai kurang cocok untuk ditayangkan di bioskop. Selain alur ceritanya, kualitas visual animasi yang dianggap kurang memuaskan juga menjadi salah satu faktor perdebatan. Hal ini membuat banyak orang penasaran tentang bagaimana proses distribusi film ke bioskop.

Apakah cukup menyerahkan file film dan bisa langsung tayang di layar lebar? Ternyata, tidak semudah itu. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses pendistribusian film di Indonesia, penting bagi para sineas atau produser untuk memahami persyaratan yang harus dipenuhi sebelum film bisa ditayangkan.

Cara Mendistribusikan Film ke Bioskop

Ada beberapa jalur yang umum digunakan oleh produser untuk membawa filmnya ke layar lebar. Berikut beberapa cara utama:

  1. Melalui Festival Film

    Jalur ini sering digunakan oleh produser yang ingin memperkenalkan filmnya ke pasar global. Film bisa dikirimkan ke festival-festival dalam maupun luar negeri. Jika lolos seleksi, film akan diputar di festival tersebut dan dilihat oleh para distributor. Dari sini, peluang untuk mendapatkan kontrak distribusi ke berbagai bioskop akan semakin besar.

  2. Pendekatan Langsung ke Bioskop

    Bagi film yang belum masuk festival besar atau belum memiliki agen penjualan, produser bisa langsung menghubungi distributor film. Caranya adalah dengan mengidentifikasi distributor yang biasa menangani film dengan genre atau target pasar serupa. Selanjutnya, mereka perlu mengirimkan pitch berisi sinopsis singkat, alasan mengapa film cocok untuk mereka, trailer, hingga materi promosi lainnya.

  3. Self-Distribution (Distribusi Mandiri)

    Pendekatan ini biasanya dilakukan oleh sineas independen dengan menghubungi bioskop langsung tanpa melalui distributor. Produser harus menyiapkan semua kebutuhan teknis seperti Digital Cinema Package (DCP), materi promosi, serta strategi pemasaran mandiri. Dokumen-dokumen seperti sertifikasi sensor dan biaya pemutaran juga perlu disiapkan.

Syarat Bioskop Menerima Film

Selain cara distribusi, bioskop Indonesia juga memiliki ketentuan khusus sebelum memutuskan sebuah film layak tayang. Beberapa syarat utama antara lain:

  • Surat Tanda Lulus Sensor (STLS)

    Setiap film yang akan ditayangkan harus memiliki STLS dari Lembaga Sensor Film (LSF). Sertifikat ini mencantumkan klasifikasi usia penonton seperti SU (Semua Umur), 13+, 17+, atau 21+. Selain itu, semua elemen dalam film harus memiliki hak cipta yang sah.

  • Format Digital

    Bioskop Indonesia hanya menerima film dalam format digital sesuai standar perfilman, yaitu Digital Cinema Package (DCP). Distributor wajib menyerahkan file DCP kepada bioskop tujuan melalui kurir yang kemudian dihubungkan ke sistem manajemen teater (TMS) untuk tayang sesuai jadwal.

  • Kualitas Trailer

    Trailer sangat penting karena menjadi media pertama yang memperkenalkan cerita dan daya tarik film kepada calon penonton maupun pihak bioskop. Trailer adalah kesan pertama yang menjadi bahan pertimbangan awal tim pemrograman bioskop.

  • Waktu Penayangan Strategis

    Saat musim liburan, kompetisi antar rumah produksi untuk mendapatkan slot tayang di bioskop, terutama di Cinema XXI, sangat tinggi. Rekam jejak produksi sebelumnya menjadi salah satu faktor penentu.

Ketentuan Film Animasi yang Layak Masuk Bioskop

Saat ini, film animasi memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemar film di Indonesia. Kehadiran film animasi seperti Jumbo yang sukses menjadi film terlaris sepanjang sejarah perfilman Indonesia membuat banyak film animasi Indonesia mulai dilirik. Namun, film animasi Merah Putih: One For All yang akan tayang pada 14 Agustus 2025 menuai pertanyaan publik.

Film animasi tetap harus memenuhi ketentuan yang sama seperti film non-animasi. Hanya saja, ada tambahan beberapa standar teknis, seperti memiliki STLS dari Lembaga Sensor Film dan mematuhi penggolongan usia. Konten film juga harus sesuai norma, tidak mengandung kekerasan berlebihan, ujaran kebencian, atau muatan yang melanggar hukum.

Dari sisi teknis, spesifikasi rinci seperti resolusi, frame rate (FPS), audio, enkripsi/KDM, dan subtitle akan diminta sesuai kebijakan masing-masing jaringan bioskop atau post house yang melakukan mastering. Umumnya, produser diminta menyiapkan DCP dengan resolusi 2K/4K dan audio 5.1 atau 7.1 sesuai permintaan teater. Sebelum tayang, akan dilakukan pengecekan menyeluruh pada sinyal audio, color space, tingkat loudness, dan keterbacaan subtitle.

Hak cipta untuk film animasi juga dilindungi oleh UU Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 yang mengakui karya sinematografi termasuk film kartun atau animasi. Jadi, jangan ragu untuk mulai berkarya.

Sutradara Bicara Film Merah Putih: One For All dan Kontroversi

Penjelasan Endiarto Mengenai Film Merah Putih: One For All

Sutradara sekaligus produser eksekutif Endiarto akhirnya memberikan penjelasan terkait film animasi Merah Putih: One For All. Film ini akan tayang secara terbatas pada 14 Agustus 2025, tepat di momen perayaan kemerdekaan Indonesia. Namun, film ini mendapat berbagai kritik dari berbagai pihak, terutama terkait kualitas animasinya yang dinilai kurang memadai.

Endiarto menjelaskan alasan penggunaan judul dalam Bahasa Inggris. Meskipun film ini mengangkat tema kebangsaan dan dirancang untuk tayang pada momen penting tersebut, ia memilih judul Merah Putih: One For All karena dianggap lebih familiar bagi anak-anak, yang menjadi target pasar utamanya. “Kita kenapa pakai Bahasa Inggris, ini kan bahasa yang familiar dan mudah. Supaya familiar aja di telinga anak-anak, kan ini konsumsi untuk anak-anak, bukan untuk dewasa atau remaja,” ujarnya.

Selain itu, Endiarto juga menyampaikan harapannya untuk mengundang Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta Raffi Ahmad sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Sayangnya, ia mengaku tidak memiliki akses untuk mengirim undangan kepada mereka.

Terkait isu biaya produksi sebesar Rp 6,7 miliar, Endiarto membantahnya. Menurutnya, proyek ini dijalankan tanpa dana pasti. “Enggak ada catatan angka karena dari awal kita tidak dimulai dari angka, tapi niat hati masing-masing,” katanya. Semua orang yang terlibat dalam pembuatan film bekerja sesuai kemampuan masing-masing, dengan sistem gotong royong.

Endiarto juga menanggapi kritik Hanung Bramantyo yang merasa film ini terkesan terburu-buru dirilis. Ia menegaskan bahwa proses produksi dilakukan secara bertahap, mulai Mei tahun lalu. “Kita enggak ada buru-buru. Jadi kita sudah tahun kemarin, nah mulai Mei itu kita lakukan post-pro,” jelasnya.

Mengenai sumber dana, Endiarto kembali menegaskan bahwa proyek ini sepenuhnya mandiri tanpa bantuan dana dari pihak mana pun. “Kita ini sifatnya project gotong royong karena enggak ada dana, enggak ada bujet. Ditanya berapa bujet-nya, bujet-nya enggak ada, bujet-nya itu spirit,” katanya. Ia juga mengaku tidak menerima dana apapun dari pemerintah.

Film Merah Putih: One For All berhasil mendapatkan slot tayang di Cinema XXI meski banyak film lain sedang menunggu giliran. Endiarto mengatakan bahwa hal ini didasarkan pada pertimbangan momen spesial. “Kemungkinan, pertimbangan mereka juga seperti kami kali, melihat momen ini mereka ikut berpartisipasi, berkontribusi secara aktif mewarnai kemeriahan ini.”

Endiarto juga menjelaskan motivasi utamanya membuat film ini. Ia merasa prihatin karena tidak ada film bertema kebangsaan yang tayang di momen perayaan kemerdekaan. “Kami dari pekerja kreatif perfilman Indonesia di Pusat Usmar Ismail ini, kita terpanggil, masa kita enggak bisa sih, kita mampu kok, kita bisa,” katanya.

Meski sadar filmnya masih jauh dari sempurna, Endiarto ingin membuktikan bahwa para pekerja seni bisa menciptakan karya untuk anak-anak bangsa. Tujuan utamanya adalah untuk ikut memeriahkan perayaan HUT ke-80 RI. “Tujuan kita mewarnai. Ini hasil karya kami, sumbangsih kami, dana kami sendiri, effort kami sendiri, dan kami memberikan sumbangsih buat kemeriahan perayaan khusus 80 tahun ini.”

Pembicaraan dengan Tim Film Merah Putih One For All, Wamen Ekraf Negatifkan Bantuan Dana

Tim Produksi Film Merah Putih: One For All Bertemu dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif

Tim produksi film animasi Merah Putih: One For All pernah melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irine Umar. Dalam pertemuan tersebut, Wamen Irine memberikan masukan terkait kualitas dan konsep film yang sedang dikembangkan. Meski demikian, pihak Kementerian Ekonomi Kreatif menegaskan bahwa tidak ada dukungan finansial atau fasilitasi dari pemerintah terhadap film ini.

PLT. Kepala Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Kiagoos Irvan Faisal menjelaskan bahwa film Merah Putih: One For All menjadi topik yang ramai dibicarakan oleh masyarakat. Menurutnya, setiap pegiat ekonomi kreatif memiliki hak untuk berkarya dan menciptakan karya yang bermanfaat bagi sektor ekraf.

Pertemuan antara tim produksi film dan Wamen Irine berlangsung pada 7 Juli 2025. Dalam pertemuan itu, Wamen Irine menyampaikan beberapa masukan teknis terkait cerita, karakter, tampilan visual, dan trailer film. Namun, ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak memberikan dukungan dana maupun fasilitas promosi terhadap film ini.

Kiagoos menambahkan bahwa proses kurasi dan seleksi penayangan film menjadi tanggung jawab pihak distributor, seperti pemilik bioskop. Kementerian Ekonomi Kreatif tetap berkomitmen untuk mendukung ekosistem kreatif mulai dari kreasi hingga distribusi agar bisa memperkuat pasar nasional dan global.

Tanggapan Produser tentang Biaya Produksi Film

Produser eksekutif film Merah Putih: One For All, Sonny Pudjisasono, mengungkapkan bahwa biaya produksi film ini mencapai Rp6,7 miliar. Meskipun angka ini terlihat besar, Sonny menilainya kecil jika dibandingkan dengan biaya pembuatan film animasi lainnya. Ia menjelaskan bahwa total biaya produksi sebenarnya lebih dari jumlah tersebut, karena belum termasuk biaya gala premiere.

Sonny mengatakan bahwa pembuatan film dilakukan secara gotong royong dengan niat untuk berkontribusi kepada bangsa dan negara. Ia ingin film ini menjadi bentuk sumbangan pada peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Baginya, tujuan utama adalah memberikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat, bukan hanya fokus pada balik modal.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada warganet yang telah membantu meramaikan film ini hingga viral. Selain itu, Sonny membantah bahwa film ini hanya digarap dalam waktu singkat. Ia menjelaskan bahwa proses penggarapan sudah dimulai sejak setahun lalu, sesuai standar pembuatan film yang biasanya membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

Alasan Memilih Genre Film Anak

Sonny menjelaskan alasan memilih genre film anak karena saat ini dunia perfilman Indonesia didominasi oleh film dewasa dan horor. Ia ingin menyajikan film alternatif yang bisa dinikmati oleh anak-anak, khususnya dalam rangka peringatan HUT ke-80 RI. Oleh karena itu, ia tidak terlalu khawatir dengan potensi balik modal, karena niat awal film ini adalah bentuk kontribusi untuk bangsa.

Film Merah Putih: One For All akan tayang di bioskop mulai 14 Agustus 2025, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80. Film ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail, dengan Toto Soegriwo sebagai produser utama dan Endiarto serta Bintang Takari sebagai sutradara dan penulis naskah.

Cerita Film yang Menginspirasi

Film ini bercerita tentang sekelompok anak yang terpilih menjadi Tim Merdeka oleh pemimpin desa menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Tim tersebut terdiri dari delapan anak dengan latar belakang budaya yang berbeda, seperti Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa. Mereka dipilih untuk menjaga Bendera Pusaka yang akan dikibarkan pada Upacara 17 Agustus. Namun, tiga hari sebelum upacara, Bendera Merah Putih hilang. Mereka kemudian bersatu untuk mencari Bendera Pusaka yang hilang secara misterius.

Film Merah Putih: One For All tersedia dalam spesifikasi dua dimensi dengan durasi 1 jam 10 menit.