Arsip Tag: televisi

Tiket Nonton Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle 2025 di Bioskop dan TIX ID

Informasi Terkini Tentang Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle

Bagi penggemar serial anime Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, kini saatnya untuk menantikan tayangan film terbaru yang berjudul Kimetsu no Yaiba Infinity Castle. Film ini akan segera dirilis di bioskop-bioskop ternama di Indonesia, termasuk CGV, Cinepolis, dan XXI. Bagi kamu yang ingin menyaksikan film ini, berikut informasi lengkap mengenai sinopsis, detail produksi, hingga cara memesan tiket nonton.

Sinopsis Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle

Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle merupakan film animasi lanjutan yang diadaptasi dari manga Jepang karya Koyoharu Gotouge. Film ini menjadi bagian dari trilogi yang menjadi puncak dari serial anime Demon Slayer yang pertama kali dirilis pada tahun 2019. Cerita dalam film ini berfokus pada perjuangan Tanjiro Kamado dan teman-temannya dari Korps Pembunuh Iblis dalam menghadapi musuh-musuh yang sangat kuat.

Bagian pertama dari film ini menceritakan serbuan Korps Pembunuh Iblis ke Benteng Dimensi Tanpa Batas (Dimensional Infinity Fortless) untuk melawan Upper Moons yang masih tersisa dan Muzan Kibutsuji, iblis terkuat. Sementara itu, Infinity Castle adalah arc klimaks dari cerita, di mana pertarungan utama akan berlangsung antara Korps Pembunuh Iblis dan Muzan.

Detail Produksi dan Karakter Utama

Film ini diproduksi oleh studio animasi Ufotable dan disutradarai oleh Haruo Sotozaki, yang juga bertanggung jawab atas serial anime Demon Slayer. Selain itu, mangaka Koyoharu Gotouge turut serta dalam penulisan naskah. Beberapa pengisi suara terkenal seperti Natsuki Hanae, Reina Ueda, Saori Hayami, Yoshitsugu Matsuoka, Akari Kito, dan Hiro Shimono juga hadir dalam film ini.

Dalam film ini, para pemburu iblis seperti Tanjiro, Zenitsu Agatsuma, dan Inosuke Hashibira akan menghadapi tantangan besar. Mereka harus melawan para Upper Moon dan akhirnya menghadapi Muzan, sang iblis terkuat. Pertarungan epik antara mereka akan menjadi fokus utama dalam film ini.

Lagu Tema dan Pengisi Suara

Salah satu hal menarik dalam film ini adalah adanya dua penyanyi Jepang terkenal yang menyumbangkan lagu tema. Lagu “Shine in the Cruel Night” dinyanyikan oleh LiSA, sedangkan “A World Where the Sun Never Rises” dinyanyikan oleh Aimer. Kedua lagu ini akan memperkaya pengalaman menonton film ini.

Cara Mendapatkan Tiket Nonton

Untuk mendapatkan tiket nonton film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle, kamu dapat memesannya melalui situs resmi bioskop-bioskop ternama di Indonesia. Berikut beberapa link yang bisa kamu gunakan:

  • Tiket nonton via TIX ID
  • Tiket Nonton via cgv.id
  • Tiket Nonton via cinepolis
  • Tiket Nonton via m.21cineplex.com

Pastikan kamu memesan tiket secepat mungkin karena film ini akan segera tayang dan pasti akan ramai diminati oleh para penggemar.

Kesimpulan

Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle tidak hanya menjadi momen emosional bagi penggemar, tetapi juga menjadi ajang pertarungan terakhir antara Korps Pembunuh Iblis dan Muzan. Dengan alur cerita yang menegangkan dan visual yang luar biasa, film ini layak ditonton sebagai penghiburan atau untuk menemani waktu senggang bersama keluarga dan teman. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Cerdas dan Penuh Makna: Guru Gembul Bicara Film Merah Putih

Dari Kritik Publik ke Teori Konspirasi

Banyak orang yang melihat sesuatu yang tampak tidak biasa, bahkan aneh, hingga merasa bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Itulah yang terjadi pada Agustus 2025 ketika sebuah trailer film animasi berjudul “Merah Putih One For All” dirilis. Film ini langsung mendapat kritik keras dari publik. Kualitas grafisnya dianggap ketinggalan zaman, suaranya terdengar aneh, dan karakternya terlihat kaku. Netizen dan kreator konten saling mengecamnya sebagai “pengkhianatan” terhadap industri animasi Indonesia yang sedang berkembang.

Namun, tawa dan kritik publik berubah menjadi keheningan yang menggemparkan ketika seorang intelektual publik, Guru Gembul, merilis video yang mengajukan hipotesis yang sangat mengejutkan. Dalam videonya, ia tidak ikut mencaci film tersebut. Justru, ia memperkenalkan gagasan bahwa film ini bukanlah karya yang gagal, tetapi sebuah karya propaganda komunis (PKI) yang sangat cerdas.

Mengapa Film Ini Dianggap Sebagai Konspirasi?

Bagaimana bisa sebuah film anak-anak yang tampak jelek menyimpan pesan seberbahaya itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Guru Gembul mengajak kita untuk menggunakan pikiran detektif dan mengikuti jejak-jejak kecil yang ditemukan dalam film tersebut. Ini adalah perjalanan ke dalam dunia “cocoklogi”, bagaimana fakta bisa digunakan untuk menciptakan narasi yang sangat meyakinkan.

Guru Gembul menggambarkan film “Merah Putih” sebagai konspirasi PKI. Tujuannya bukan untuk membuat orang percaya, tetapi sebagai latihan nalar kritis agar mampu menghadapi hoaks dan teori konspirasi.

Permainan Angka dan Simbol

Di sini, teori ini mulai terasa seperti novel Dan Brown. Guru Gembul memulai dengan matematika sederhana yang berujung pada kesimpulan yang rumit.

Bendera yang Miring ke Kiri

Pada adegan awal, bendera Merah Putih terlihat miring ke arah kiri dengan sudut 75 derajat. Dalam simbolisme politik, “kiri” sering dikaitkan dengan komunisme. Apakah ini kebetulan? Mungkin. Tapi ini hanya petunjuk pertama.

Kode dalam Judul

Judul filmnya adalah “Merah Putih” (10 huruf) dan “One For All” (9 huruf). Jumlah totalnya adalah 19. Dalam deret bilangan prima, 19 adalah bilangan prima ke-8. Sementara jumlah karakter utama dalam film ini ada 8 anak.

Jumlah Karakter

Dari 8 anak tersebut, komposisinya adalah 5 laki-laki dan 3 perempuan. Jika digabungkan, menjadi angka 53. Angka 53 adalah bilangan prima ke-16.

Kemudian, Guru Gembul melakukan operasi matematika: 1975 – 16 = 1959. Tahun 1959 adalah tahun dikeluarkannya Dekrit Presiden yang memulai era Demokrasi Terpimpin. Ini adalah “zaman keemasan” bagi Partai Komunis Indonesia (PKI), di mana konsep NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis) digelorakan dan PKI menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia.

Wajah-Wajah yang Tak Asing dan Latar yang Janggal

Teori ini semakin dalam ketika Guru Gembul menganalisis desain karakternya.

Si Pak Lurah dan Syam Kamaruzaman

Karakter Pak Lurah di film ini, dengan kacamata dan perawakannya, dianggap sangat mirip dengan Syam Kamaruzaman, tokoh kunci Biro Khusus PKI yang menjadi otak G30S.

Si Anak Berbaju Merah dan Letkol Untung

Salah satu karakter utama, anak berkulit gelap dengan tubuh gempal yang memakai baju merah, disebut sebagai representasi Letkol Untung Sutopo, komandan operasi G30S. Bahkan penggambaran karakternya yang seolah “bertikai” dengan anak berbaju hijau (warna identik dengan NU/militer) dianggap sebagai simbol konflik historis.

Senjata Buatan Soviet

Di sebuah adegan di dalam gudang, terlihat ada dua senapan serbu. Modelnya diidentifikasi sebagai varian AK-12, senjata buatan Rusia (penerus Uni Soviet), negara kiblat komunisme.

Latar desa dalam film ini pun dianggap janggal. Desa di Indonesia biasanya homogen (satu suku, satu agama mayoritas). Namun, desa di film ini digambarkan sangat heterogen, dengan berbagai macam ras dan penampilan. Ini, menurutnya, lebih mirip penggambaran sebuah desa komunal yang diidealkan oleh komunisme, di mana semua perbedaan dilebur menjadi satu identitas kaum proletar.

Puncak Propaganda, Burung Merah yang Dilepaskan

Klimaks dari analisis konspirasi ini adalah adegan di mana anak-anak melepaskan seekor burung berwarna merah dari sangkarnya.

Burung Merah

Burung Merah Dianggap sebagai simbol komunisme yang selama ini “terpenjara”. Dilepaskan Melambangkan keinginan untuk membangkitkan kembali ideologi tersebut.

Suara Monyet

Uniknya, suara burung ini adalah suara monyet. Monyet, dalam banyak budaya, adalah simbol kemunafikan dan oportunisme. Ini dianggap sebagai sindiran terhadap PKI di masa lalu yang dianggap munafik (misalnya, ikut pemilu padahal ideologinya revolusioner).

Plot Twist: Ini Bukan Tentang Filmnya, Ini Tentang Kita

Sekarang, tarik napas. Apakah teori ini benar? Bisa jadi. Tapi kemungkinan besar, tidak. Dan di sinilah letak kejeniusan video Guru Gembul yang sesungguhnya.

Di awal videonya, ia memasang sebuah kartu peringatan, “Fakta yang disampaikan video ini bisa diuji, tapi cara merangkainya adalah konspirasi. Cara melatih nalar dan mental agar terbiasa skeptis dalam menerima informasi.”

Guru Gembul tidak sedang mencoba meyakinkan kita bahwa film ini adalah propaganda PKI. Ia sedang menunjukkan kepada kita bagaimana sebuah teori konspirasi dibangun. Ia mengambil fakta-fakta yang bisa diverifikasi (jumlah huruf, bentuk bendera, model senjata, sejarah tahun 1959), lalu merangkainya dengan interpretasi dan “cocoklogi” yang tidak bisa dibantah secara mutlak.

Otak kita secara alami suka mencari pola. Ketika disajikan rangkaian “kebetulan” yang begitu banyak, otak kita cenderung menyimpulkan adanya sebuah desain atau rencana besar. Inilah yang membuat teori konspirasi begitu memikat.

Video ini adalah sebuah vaksin nalar. Sebuah simulasi bagi kita untuk merasakan betapa mudahnya terbawa oleh sebuah narasi yang koheren, meskipun dibangun di atas fondasi yang spekulatif. Pelajaran utamanya bukanlah tentang bahaya film “Merah Putih One For All”, melainkan tentang bahaya laten dari cara kita mengonsumsi informasi di era digital.

Jadi, lain kali Anda menemukan sebuah cerita yang terlalu rapi, terlalu banyak “kebetulan”, dan terasa sangat pas, ingatlah pelajaran dari film animasi “jelek” ini. Mungkin Anda tidak sedang menemukan kebenaran tersembunyi, melainkan sedang terjebak dalam sebuah mahakarya “cocoklogi”.

Vino G. Bastian dan Cinta pada Film Keluarga, Peran Anak-Istri

Vino G. Bastian Bicara tentang Film Barunya dan Alasan Ia Tertarik pada Film Keluarga

Pada hari Jumat (8/8/2025), suasana kantor IDN terasa lebih ceria karena kedatangan aktor ternama, Vino G. Bastian. Dalam wawancara yang berlangsung di kantor tersebut, Vino memperkenalkan film terbarunya yang dibintanginya bersama Nirina Zubir berjudul Hanya Namamu Dalam Doaku. Film ini menceritakan kisah keluarga yang menyentuh hati, dan Vino mengungkapkan antusiasme yang besar terhadap tema film seperti ini.

1. Kecintaan terhadap Film Keluarga

Menurut Vino, film-film bertema keluarga memiliki kisah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak hanya senang sebagai aktor, tetapi juga sebagai penonton. Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan bahwa film keluarga bisa membuat penonton merasa terhubung dengan karakter-karakternya. “Film keluarga itu selalu menarik karena kisahnya dekat dengan kehidupan kita,” ujarnya.

Vino juga mengatakan bahwa ia tidak pernah ragu untuk menerima tawaran film yang berkaitan dengan hubungan antarkeluarga, baik itu komedi, aksi, atau drama. Menurutnya, hal ini membuatnya lebih mudah dalam memerankan karakter yang sesuai dengan tema tersebut.

2. Bukan Tipe Orang yang Mudah Sedih

Meski film Hanya Namamu Dalam Doaku membutuhkan emosi yang dalam, Vino mengakui bahwa ia bukan tipe orang yang mudah sedih. Ia justru lebih mudah kepikiran dengan karakternya. Salah satu momen yang ia ingat adalah saat membaca naskah film tersebut, tangannya mendadak cedera dan tidak bisa digerakkan. Hal ini sempat membuatnya cemas, namun ia berusaha tetap optimis.

“Saya melihat ini sebagai pertolongan Tuhan agar film ini bisa dilanjutkan dengan lancar,” kata Vino sambil menggerakkan tangannya. Ia juga berharap bahwa pengalaman ini bisa menjadi bagian dari doa semua pihak agar film ini bisa sukses.

3. Pentingnya Improvisasi dalam Peran

Dalam sesi wawancara ini, Vino juga membahas pentingnya improvisasi dalam proses syuting. Ia menegaskan bahwa ia tidak ingin menjadi aktor yang hanya mengikuti template. Meskipun tim produksi sudah melakukan riset yang mendalam, Vino tetap ingin memberikan sesuatu yang berbeda agar adegannya tidak terkesan monoton.

“Saya tidak ingin jadi aktor yang terlalu kaku. Saya ingin punya sesuatu yang unik dan bisa diterima oleh penonton,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa setiap improvisasi yang ia lakukan selalu disetujui oleh sutradara agar pesan film tetap tersampaikan dengan baik.

4. Pertimbangan Saat Menerima Tawaran Film

Vino juga berbagi tentang hal-hal yang ia pertimbangkan saat menerima tawaran film. Menurutnya, pertama-tama ia akan membaca naskah dan mengevaluasi karakter yang akan ia mainkan. Setelah itu, ia baru melihat siapa sutradara yang akan menggarapnya.

Selain itu, Vino juga sering melibatkan istri dan anaknya dalam proses pengambilan keputusan. Menurutnya, pendapat dari istri dan anaknya lebih objektif karena mereka memiliki perspektif yang berbeda. “Anak saya lebih pintar karena tumbuh di era media sosial. Mereka memiliki pengalaman yang lebih luas,” tambahnya.

5. Film Hanya Namamu Dalam Doaku Akan Tayang di Bioskop

Bagi para penggemar Vino G. Bastian, film Hanya Namamu Dalam Doaku merupakan comeback yang sangat dinantikan. Film ini akan tayang di bioskop mulai tanggal 21 Agustus 2025. Dengan kisah yang menyentuh dan pembintangan yang kuat, film ini dipastikan akan menguras air mata penonton.

[WANSUS] Timo Tjahjanto: Debut Hollywood yang Menyentak dalam Nobody 2

Pengalaman Membuat Film Nobody 2 dengan Timo Tjahjanto

Timo Tjahjanto, sutradara Indonesia yang kini berada di tengah-tengah proyek film Hollywood, Nobody 2, mengungkapkan pengalamannya dalam membuat film tersebut. Dalam wawancara virtual, ia menjelaskan bagaimana proses kreatif dan produksi film ini berlangsung, serta peran penting dari para aktor seperti Bob Odenkirk dan Sharon Stone.

Awal Keterlibatan dalam Proyek Nobody 2

Timo menceritakan bahwa ia pertama kali ditawari untuk bergabung dalam proyek Nobody 2 saat sedang menyelesaikan film Shadow Strays. Agent-nya memberi tahu bahwa Universal Pictures sedang mempersiapkan sekuel dari film Nobody dan ingin menawarkan skrip kepada dirinya. Ia langsung tertarik karena merupakan penggemar film pertama yang dibuat oleh Ilya Naishuller. Meski awalnya terkejut dengan gaya skrip yang lebih berwarna dan positif, ia merasa tantangan itu cocok dengan keinginannya untuk menciptakan sesuatu yang lebih optimis dan berkaitan dengan keluarga.

Proses Membuat Film yang Berbeda

Dalam wawancara ini, Timo menyebutkan bahwa ia tidak hanya menyetujui proyek ini, tetapi juga harus melakukan pitching ide dan visi ke Universal Studios dan Bob Odenkirk. Diskusi tentang menjadi seorang ayah dengan dua anak membantu mereka saling memahami dan akhirnya Timo mendapatkan pekerjaan sebagai sutradara.

Menyeimbangkan Adegan Aksi yang Brutal dan Menyenangkan

Timo menjelaskan bahwa meskipun film-filmnya sebelumnya memiliki adegan aksi yang brutal, ia ingin Nobody 2 memiliki keseimbangan antara kekerasan dan kesenangan. Ia ingin penonton tidak merasa bersedih atau marah setelah menonton film ini. Proses pembuatan adegan aksi ini melibatkan banyak diskusi dengan tim dan aktor, termasuk Connie Nielsen, yang berperan sebagai istri Hutch Mansell.

Pengaruh Budaya Lokal dalam Pembuatan Film

Meskipun Nobody 2 adalah film Hollywood, Timo menyatakan bahwa ia membawa identitasnya sebagai filmmaker Asia. Ia tidak secara sengaja memasukkan elemen lokal, tetapi hal itu terjadi secara alami karena pengalamannya sebagai sutradara di Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya belajar dari pengalaman dan menghargai pendapat orang lain dalam proses kreatif.

Adegan Aksi yang Ikonomik

Salah satu adegan yang paling dikenang oleh Timo adalah adegan akhir yang menggabungkan strategi aksi seperti Home Alone dengan nuansa dewasa. Ia bersama tim aksi, Greg Rementer, mencoba memikirkan cara-cara unik untuk membuat adegan tersebut menarik. Misalnya, menggunakan kolam bola dan slide air yang dipenuhi bahaya. Proses ini sangat dinikmati oleh Timo, meskipun ia sendiri tidak terlalu suka naik wahana seperti itu.

Hubungan dengan Aktor Senior

Timo mengakui bahwa bekerja sama dengan Sharon Stone adalah pengalaman luar biasa. Ia mengagumi sikap Sharon yang tegas namun ramah. Selain itu, ia juga menghargai latar belakang kerja kelas bawah Sharon, yang membuatnya merasa dekat dengannya. Pengalaman syuting yang paling menarik bagi Timo adalah ketika Sharon membantunya meregangkan ototnya saat sedang sakit punggung.

Pelajaran untuk Industri Film Indonesia

Setelah menyelesaikan film besar seperti Nobody 2, Timo berharap bisa membawa pelajaran ke industri film Indonesia. Ia menilai bahwa Indonesia memiliki banyak talenta, tetapi masih perlu meningkatkan profesionalisme dan pengeditan hasil. Ia juga mengkritik sistem kerja yang terlalu ekstrem, yang sering menyebabkan kelelahan dan bahaya bagi kru. Timo berharap sistem kerja yang lebih realistis dapat diterapkan di masa depan.

Kesimpulan

Film Nobody 2 telah dirilis di bioskop sejak 13 Agustus 2025. Dengan campuran aksi, humor, dan pesan tentang keluarga, film ini menjadi bukti bahwa Timo Tjahjanto mampu menciptakan karya yang menarik di kancah internasional. Bagi pecinta film aksi, Nobody 2 layak ditonton sebagai sekuel yang lebih seru dari film pertamanya.

Jadwal Bioskop Bali Hari Ini: Film Nobody 2 dan Dua Film Lokal Terbaru yang Harus Ditonton

Jadwal Film di Bioskop Kota Denpasar, Kamis 14 Agustus

Bagi warga Kota Denpasar, Bali, setelah menjalani berbagai aktivitas sehari-hari, penting untuk mengambil waktu sejenak untuk melakukan kegiatan yang bisa memberikan relaksasi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menonton film di bioskop-bioskop yang tersedia di kota ini. Berbagai pilihan genre film bisa ditemukan hari ini, mulai dari horor, drama hingga aksi.

Bioskop-bioskop di Denpasar tersebar merata di seluruh penjuru kota, sehingga memudahkan masyarakat untuk memilih tempat yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka. Beberapa bioskop populer yang bisa dikunjungi antara lain Level 21, TSM XXI, Living World, ICON Bali XXI, dan Denpasar Cineplex. Berikut adalah jadwal film yang tayang di beberapa bioskop tersebut pada Kamis, 14 Agustus.

Denpasar Cineplex

Berlokasi di Jalan M.H. Thamrin No.69, Pemecutan, Denpasar, bioskop ini menawarkan berbagai pilihan film:

  1. Panggilan dari Kubur (Deluxe) – Tayang pukul 13.15, 15.15, 17.15, 19.15, dan 21.15 WITA. Harga Rp 35.000.
  2. Nobody 2 (Executive) – Tayang pukul 12.30 dan 17.10 WITA. Harga Rp 50.000.
  3. Panggil Aku Ayah (Deluxe) – Tayang pukul 12.30 dan 19.05 WITA. Harga Rp 35.000.
  4. Sihir Pelakor (Deluxe) – Tayang pukul 15.00, 17.05, dan 21.35 WITA. Harga Rp 35.000.
  5. Weapon (Executive) – Tayang pukul 14.30, 19.10, dan 21.50 WITA. Harga Rp 50.000.
  6. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Deluxe) – Tayang pukul 13.00, 15.50, 18.40, dan 21.30 WITA. Harga Rp 35.000.
  7. Tinggal Meninggal (Deluxe) – Tayang pukul 14.00, 16.30, 19.00, dan 21.30 WITA. Harga Rp 35.000.

Level 21 XXI Mall

Lokasi bioskop ini berada di Level 21 Lantai 4, Jalan Teuku Umar No. 1, Denpasar. Beberapa film yang tayang antara lain:

  1. Panggil Aku Ayah (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.30, 16.30, 18.45, dan 21.00 WITA. Harga Rp 50.000.
  2. Sihir Pelakor (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.00 dan 16.40 WITA. Harga Rp 50.000.
  3. Weapons (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.30, 17.40, dan 20.05 WITA. Harga Rp 50.000.
  4. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55, 15.35, 18.15, dan 20.55 WITA. Harga Rp 50.000.
  5. Lyora: Penantian Buah Hati (Reguler 2D) – Tayang pukul 14.50, 18.30, dan 20.20 WITA. Harga Rp 50.000.
  6. Tinggal Meninggal (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.00, 14.20, 16.40, 19.00, dan 21.20 WITA. Harga Rp 50.000.
  7. Nobody 2 (Reguler 2D) – Tayang pukul 14.45 dan 15.55 WITA. Harga Rp 50.000.
  8. Nobody 2 (Premiere) – Tayang pukul 13.30, 15.15, 17.00, 18.45, dan 20.30 WITA. Harga Rp 100.000.

Cinepolis Plaza Renon

Di Jalan Raya Puputan, Niti Mandala, Renon, Denpasar, bioskop ini menampilkan film-film seperti:

  1. Weapons (Reguler 2D) – Tayang pukul 14.40, 17.20, dan 20.00 WITA. Harga Rp 40.000.
  2. Rego Nyowo (Reguler 2D) – Tayang pukul 20.35 WITA. Harga Rp 40.000.
  3. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 11.50, 14.35, 17.25, dan 20.15 WITA. Harga Rp 40.000.
  4. Sore: Istri dari Masa Depan (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.35, 16.10, 18.45, dan 21.20 WITA. Harga Rp 40.000.
  5. Pamali: Tumbal (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.15, 14.20, 16.25, dan 18.30 WITA. Harga Rp 40.000.

TSM XXI

Bioskop ini berada di Trans Studio Mall Bali Lt. 1, Jln. Imam Bonjol No. 440, Denpasar. Beberapa film yang ditayangkan antara lain:

  1. Superman (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55 WITA. Harga Rp 45.000.
  2. Nobody 2 (Reguler 2D) – Tayang pukul 17.30, 19.15, dan 21.00 WITA. Harga Rp 45.000.
  3. Nobody 2 (Premiere) – Tayang pukul 13.30, 15.15, 17.00, 18.45, dan 20.30 WITA. Harga Rp 100.000.
  4. My Daughter is A Zombie (Reguler 2D) – Tayang pukul 15.20 WITA. Harga Rp 45.000.
  5. Panggilan dari Kubur (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.15, 15.00, 16.45, 18.30, dan 20.15 WITA. Harga Rp 45.000.
  6. Believe: Takdir Mimpi Keberanian (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.10, 14.20, 16.30, 18.40, dan 20.20 WITA. Harga Rp 45.000.
  7. Sihir Pelakor (Reguler 2D) – Tayang pukul 15.15 dan 19.00 WITA. Harga Rp 45.000.
  8. Weapons (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.15, 15.40, 18.05, dan 20.30 WITA. Harga Rp 45.000.
  9. The Naked Gun (Reguler 2D) – Tayang pukul 20.50 WITA. Harga Rp 45.000.
  10. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55, 15.35, 18.15, dan 20.55 WITA. Harga Rp 45.000.
  11. Pamali: Tumbal (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.20 dan 17.05 WITA. Harga Rp 45.000.

Living World Denpasar

Berlokasi di Mall Living World Lantai 2 Jalan Gatot Subroto Timur, Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Denpasar, bioskop ini memiliki jadwal sebagai berikut:

  1. My Daughter is A Zombie (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.35, 16.30, dan 20.25 WITA. Harga Rp 55.000.
  2. Weapons (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.30, 15.55, 18.20, dan 20.45 WITA. Harga Rp 55.000.
  3. Weapons (Premiere) – Tayang pukul 13.15, 15.40, 18.05, dan 20.30 WITA. Harga Rp 100.000.
  4. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55, 15.35, 18.15, dan 20.55 WITA. Harga Rp 55.000.
  5. Sore: Istri dari Masa Depan (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.00, 15.20, 17.40, dan 20.00 WITA. Harga Rp 55.000.
  6. Nobody 2 (Reguler 2D) – Tayang pukul 14.45 dan 18.40 WITA. Harga Rp 55.000.

ICON Bali XXI

Bioskop ini berada di Jalan Danau Tamblingan No.27, Sanur, Denpasar. Beberapa film yang ditayangkan antara lain:

  1. My Daughter is A Zombie (Reguler 2D) – Tayang pukul 15.35 dan 20.05 WITA. Harga Rp 40.000.
  2. Weapons (Premiere) – Tayang pukul 13.15, 15.40, 18.05, dan 20.30 WITA. Harga Rp 100.000.
  3. Weapons (IMAX 2D) – Tayang pukul 13.05, 18.20, dan 20.45 WITA. Harga Rp 45.000.
  4. La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (Reguler 2D) – Tayang pukul 12.55, 15.35, 18.15, dan 20.55 WITA. Harga Rp 40.000.
  5. Sore: Istri dari Masa Depan (Reguler 2D) – Tayang pukul 13.15 dan 17.45 WITA. Harga Rp 40.000.
  6. F1 The Movie (IMAX 2D) – Tayang pukul 15.30 WITA. Harga Rp 45.000.

Silakan menonton!

Tonton Film Tinggal Meninggal, Kocaknya Kristo Immanuel!

Pengalaman Menonton Film “Tinggal Meninggal” yang Menggabungkan Komedi dan Emosi

Film “Tinggal Meninggal” adalah karya pertama dari Kristo Immanuel sebagai sutradara. Film ini resmi tayang pada 14 Agustus 2025, dan dianggap sebagai sebuah terobosan baru dalam perfilman Indonesia. Dibantu oleh Ernest Prakasa dan rumah produksi Imajinari, film ini mengangkat tema komedi getir yang jarang digunakan dalam film-film lokal. Hal ini membuat film ini memiliki ciri khas tersendiri dan menarik untuk ditonton.

Film “Tinggal Meninggal” dibintangi oleh beberapa aktor ternama seperti Omara Esteghlal, Jared Ali, Nirina Zubir, Mawar Eva de Jongh, Muhadkly Acho, Ardit Erwanda, Shindy Huang, Mario Caesar, dan Nada Novia. Kombinasi para pemain ini memberikan nuansa yang berbeda dan memperkaya pengalaman menonton film ini.

Sinopsis Film “Tinggal Meninggal”

Gema, tokoh utama dalam film ini, diperankan oleh Omara Esteghlal. Ia dikenal sebagai karakter yang kesepian dan jauh dari keluarga. Gema mulai merasakan kehangatan dari teman-teman kantornya setelah sang ayah meninggal. Namun, ia takut kehilangan perhatian tersebut, sehingga ia memalsukan kematian keluarganya untuk menarik perhatian teman-temannya.

Melalui interaksi Gema dengan “Gema kecil”, penonton diajak untuk merenung tentang pentingnya kehadiran dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya, terutama teman-teman kantornya. Cerita ini mencerminkan usaha Gema dalam mengatasi kesepian dan mencari perhatian dari lingkungan sekitar.

Keistimewaan Film “Tinggal Meninggal”

1. Keseimbangan antara Komedi dan Emosi

Film “Tinggal Meninggal” menghadirkan genre “Komedi Getir” yang masih jarang ditemukan dalam perfilman Indonesia. Genre ini menjadi terobosan baru dan film ini berhasil membawakan hal itu dengan sangat seimbang. Komedi getir membutuhkan keseimbangan yang tepat agar tidak terlalu menyedihkan atau terlalu lucu. Film ini berhasil mencampurkan perasaan penonton dengan komedi, drama, dan haru sepanjang film.

Ernest Prakasa, yang juga terlibat dalam film ini, menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah menjaga “after taste” agar penonton tetap nyaman setelah menonton. Ia menyatakan bahwa jika film terlalu gelap, maka penonton bisa merasa tidak nyaman.

2. Performa Para Aktor yang Memukau

Omara Esteghlal dan kawan-kawan berhasil membawakan peran mereka dengan sangat baik. Setiap karakter memiliki warna dan kepribadian masing-masing, sehingga terasa dekat dengan penonton. Omara, sebagai pemeran utama, menunjukkan kemampuan akting yang luar biasa dalam memainkan peran Gema. Ia mampu menampilkan semua emosi yang dialami oleh karakter tersebut melalui ekspresi dan aksi yang memukau.

Penonton merasa kesal, tertawa, dan bahkan sedih secara alami, sehingga membuat film ini terasa nyaman untuk ditonton.

3. Visual dan Editan yang Sempurna

Film “Tinggal Meninggal” dianggap sebagai karya terbaik dari Imajinari hingga saat ini. Hal ini tidak lepas dari peran Kristo Immanuel yang sangat teliti dalam mempersiapkan film ini. Transisi antar adegan sangat halus dan nyaman dilihat, sehingga membuat film ini tidak terasa seperti film debut.

Visual yang bagus dan transisi yang lancar membuat penonton betah menyaksikan cerita Gema dan teman-temannya sepanjang film.

4. Pesan Utama untuk Orang-orang yang Susah Bergaul

Kristo Immanuel, selaku sutradara, menyampaikan bahwa film “Tinggal Meninggal” adalah surat cinta kepada orang-orang yang susah bergaul seperti Gema. Film ini ingin membuat penonton lebih memahami orang-orang yang sering merenung dan tidak mudah bersosialisasi.

Karakter Gema digambarkan sebagai seseorang yang suka berkutat dengan pikirannya sendiri. Kristo mengungkapkan bahwa film ini juga berasal dari pengalamannya sebagai pengidap ADHD, yang sering merenung dan terjebak dalam pikirannya sendiri. Selain itu, film ini juga menyentuh tentang perilaku yang diturunkan dari generasi sebelumnya, yaitu kebiasaan Gema yang menyendiri yang berasal dari pengabaian orangtuanya.

Kesimpulan

Film “Tinggal Meninggal” layak ditonton, terutama bagi penonton yang merasa terhubung dengan karakter Gema yang penyendiri dan susah bergaul. Komedi dalam film ini sangat segar dan menambah warna pada film tersebut. Meskipun mengangkat tema komedi getir, film ini memiliki “after taste” yang nyaman karena keseimbangan emosi yang baik.

Visual yang bagus dan transisi yang lancar juga mendukung cerita yang disampaikan. Film ini akan membuat penonton tertawa, gelisah, dan bahkan sedih pada waktu yang sama. Jika kamu tertarik menonton, film ini bisa disaksikan di bioskop mulai tanggal 14 Agustus 2025.

Film Animasi Merah Putih One for All Tayang Hari Ini di Bioskop Raffi Ahmad dan XXI

Film Animasi Nasionalisme Merah Putih: One for All Resmi Tayang di Bioskop

Film animasi nasionalisme berjudul Merah Putih: One for All resmi tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini, Kamis (14/8/2025). Sebagai bagian dari perayaan HUT ke-80 RI, film ini hadir sebagai bentuk kontribusi untuk memeriahkan momen kemerdekaan. Dengan durasi sekitar satu jam 10 menit, film ini ditujukan khusus untuk anak-anak usia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Film animasi adalah bentuk karya sinematik yang menggunakan gambar bergerak hasil rangkaian ilustrasi, model, atau objek digital untuk menciptakan ilusi gerakan. Dalam hal ini, Merah Putih: One for All menghadirkan cerita tentang semangat nasionalisme melalui kisah delapan anak dari berbagai latar belakang budaya yang bersatu dalam misi menyelamatkan bendera pusaka.

Penayangan Terbatas di 16 Layar Bioskop

Film ini hanya mendapat jatah tayang di 16 layar bioskop, termasuk jaringan XXI dan Sam’s Studio, bioskop independen milik Raffi Ahmad dan Sonu Samtani. Berikut daftar bioskop yang menayangkan film tersebut:

Jakarta:
– Kelapa Gading XXI

– Kemang Village XXI

– Puri XXI

Bogor:
– Metmall Cileungsi XXI

Depok:
– Depok XXI

Tangerang:
– Alam Sutera XXI

Bekasi:
– Mega Bekasi XXI

Selain itu, Sam’s Studio juga menjadi salah satu tempat penayangan film ini. Bioskop ini berkonsep standalone, memiliki gedung sendiri, dan berfungsi sebagai pusat kebudayaan serta pendukung UMKM lokal. Beberapa kota yang menjadi target penayangan antara lain Cibadak, Cianjur, dan Garut.

Asisten sutradara Arry WS menyampaikan apresiasinya kepada jaringan bioskop yang telah menerima film ini dengan baik. Ia berharap penjualan tiket bisa booming agar film ini bisa terus menjangkau lebih banyak audiens.

Kontroversi Anggaran dan Kualitas Produksi

Film Merah Putih: One for All sempat menjadi sorotan publik karena disebut-sebut menghabiskan anggaran hingga Rp6,7 miliar. Namun, kualitas animasinya dinilai buruk dan kaku. Trailer yang dirilis di YouTube dibanjiri kritik dan meme, bahkan muncul dugaan penggunaan aset visual stok dari situs animasi seperti Reallusion.

Endiarto, sutradara film ini, membantah kabar tersebut. Ia menegaskan bahwa film ini dibuat dengan semangat gotong royong, bukan dana segar. Menurutnya, modal utama adalah kontribusi tim yang bisa mencapai Rp10–15 miliar. Pernyataan ini sekaligus membantah rumor bahwa film tersebut mendapat pendanaan dari pemerintah.

Kementerian Ekonomi Kreatif juga secara resmi menyatakan tidak memberikan bantuan keuangan untuk proyek ini. Endiarto menjelaskan bahwa angka Rp6–7 miliar yang sempat disebut oleh produser eksekutif Toto Soegriwo hanyalah estimasi nilai kontribusi tim, bukan anggaran riil.

Harapan Ditonton Presiden dan Utusan Khusus

Endiarto mengungkapkan keinginannya agar film ini bisa ditonton oleh Presiden Prabowo Subianto dan Raffi Ahmad, yang kini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Namun, ia mengaku tidak memiliki akses langsung untuk mengundang mereka.

“Kami ini siapa sih? Kalau ada akses, pasti kami mau undang,” ujarnya.

Film Pendamping dan Perkembangan Distribusi

Pantauan di situs resmi XXI menunjukkan bahwa Merah Putih: One for All sudah masuk daftar “Coming Soon” dan tayang bersamaan dengan film-film populer pekan ini seperti Nobody 2, Demon Slayer: Infinity Castle, La Tahzan, dan The Conjuring (Reissue).

Meski hanya tayang terbatas, Endiarto berharap ada “mukjizat” agar film ini bisa mendapat tambahan layar, terutama di luar Pulau Jawa. Ia menyebut bahwa pihaknya tengah berupaya menggandakan DCP dan poster untuk memperluas distribusi.

Sinopsis Film Merah Putih: One for All

Film animasi Merah Putih: One for All bertema tentang menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Di mana terdapat sekelompok anak yang menjadi “Tim Merah Putih” untuk menjaga bendera pusaka, yakni bendera yang selalu dikibarkan pada setiap upacara 17 Agustus setiap tahunnya.

Akan tetapi, tiga hari sebelum upacara, bendera tersebut hilang. Delapan anak dari berbagai latar belakang budaya, mulai dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa, bersatu dalam misi heroik: menyelamatkan bendera merah putih pusaka yang hilang secara misterius.

Mereka berpetualang mencari Bendera, dengan menelusuri hutan, sungai, dan menghadapi konflik batin. Film ini disutradarai oleh Endiarto dan Bintang Takari, dengan mengangkat tema semangat menyambut hari kemerdekaan. Produser film ini adalah Toto Soegriwo, sedangkan produksi dilakukan oleh Perfiki Kreasindo.

Dengan format 2D dan semua umur, film ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih memahami dan menjaga semangat nasionalisme.

Drakor Jung Il Woo Capai Rating 2 Digit, Terbaru Our Golden Days

Drakor Terbaru Jung Il Woo: Our Golden Days Mencuri Perhatian

Drama Korea terbaru yang dibintangi oleh aktor ternama, Jung Il Woo, yaitu Our Golden Days, telah menayangkan episode pertamanya pada 9 Agustus 2025 lalu. Drama ini langsung mencuri perhatian para penonton dengan meraih rating dua digit sebesar 13,9 persen. Ini menunjukkan bahwa Jung Il Woo kembali memperlihatkan kemampuan aktingnya yang mumpuni dalam membawakan berbagai genre drama.

Jung Il Woo tidak asing lagi bagi penggemar drama Korea. Banyak drama yang ia bintangi selama ini berhasil mendapatkan respons positif dari para penonton. Berikut empat drakor yang sukses meraih rating dua digit dan menjadi bukti ketangguhan Jung Il Woo sebagai aktor.

1. 49 Days (2011)

49 Days adalah drama pertama yang dibintangi oleh Jung Il Woo dan berhasil meraih rating tinggi. Drama ini mengusung genre fantasi melodrama dan mencapai puncak rating hingga 17,1 persen pada episode terakhirnya. Cerita ini mengisahkan Shin Ji Hyun (diperankan oleh Nam Gyu Ri), seorang wanita kaya yang akan menikah dengan Kang Min Ho (Bae Soo Bin). Namun, kecelakaan tragis membuatnya koma. Di sana, ia bertemu dengan Scheduler (Jung Il Woo), malaikat maut yang memberinya kesempatan kedua untuk hidup dengan syarat harus mengumpulkan tiga tetes air mata tulus dari orang yang benar-benar menyayanginya dalam waktu 49 hari.

2. The Moon Embracing The Sun (2012)

Di tahun berikutnya, drama yang dibintangi Jung Il Woo kembali sukses meraih rating tinggi. The Moon Embracing The Sun merupakan drama sageuk yang mencatatkan rating tertinggi hingga 47 persen pada episode ke-18. Cerita ini mengisahkan kisah cinta antara Raja Lee Hwon (Kim Soo Hyun) dan Wol (Han Ga In). Jung Il Woo berperan sebagai Pangeran Yang Myung, yang juga terlibat dalam cinta segitiga bersama Wol.

3. Diary Of A Night Watchman (2014)

Drama Diary Of A Night Watchman juga berhasil meraih rating dua digit. Drama ini mengikuti kisah Pangeran Lee Rin (Jung Il Woo), yang memiliki kemampuan melihat hantu. Ia membentuk tim penjaga malam untuk melawan roh jahat dan mengungkap kebenaran di balik kematian ayahnya. Drama ini menggabungkan unsur supranatural dan drama keluarga.

4. Our Golden Days (2025)

Terbaru, Our Golden Days menjadi drama terbaru Jung Il Woo yang sukses meraih rating tinggi. Drama ini mengambil tema keluarga dan slice of life. Cerita ini mengikuti kisah Lee Ji Hyeok (Jung Il Woo), seorang pemuda yang sukses di tempat kerja dan sedang jatuh cinta. Meski tampak dingin, ia memiliki selera humor yang tinggi. Drama ini menampilkan karakter-karakter yang kompleks dan saling terhubung satu sama lain.

Genre yang Beragam dan Kemampuan Akting Jung Il Woo

Dari 49 Days hingga Our Golden Days, drama-drama yang dibintangi oleh Jung Il Woo selalu menampilkan genre yang beragam. Mulai dari fantasi, melodrama, sageuk, hingga slice of life, semuanya bisa ia bawakan dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa Jung Il Woo adalah aktor yang sangat versatile dan mampu memenuhi ekspektasi penonton.

Jika Anda belum menonton Our Golden Days, ini adalah kesempatan untuk menikmati karya terbaru dari salah satu aktor terbaik Korea Selatan. Dengan cerita yang menarik dan karakter yang kuat, drama ini pasti akan membuat Anda betah menonton hingga akhir.

Film Animasi Merah Putih One For All Tayang 14 Agustus Tanpa Revisi Meski Dikritik

Film Merah Putih One For All Akan Tayang di Bioskop Indonesia

Film animasi Merah Putih One For All telah dipastikan akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia sesuai jadwal, yaitu pada hari Kamis, 14 Agustus 2025. Meskipun film ini sempat mendapat kritik setelah trailer-nya dirilis awal bulan Agustus lalu, sutradara sekaligus penulis naskah film tersebut, Endiarto, menegaskan bahwa tidak ada revisi yang dilakukan terhadap film ini.

Endiarto mengatakan bahwa pihak produksi tetap berkomitmen untuk menayangkan film ini tanpa perubahan apapun, meskipun banyak kritik yang muncul dari masyarakat, khususnya di media sosial. Ia menjelaskan bahwa niat awal pembuatan film ini bukan untuk tujuan komersial, melainkan untuk memeriahkan perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Endiarto, film ini ditujukan kepada pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia menyampaikan bahwa konsep film ini dibuat dengan sederhana, agar mudah dipahami oleh anak-anak. Tujuannya adalah untuk menanamkan rasa nasionalisme sejak dini, bukan untuk bergabung dalam festival atau mencari profit.

Jumlah Layar Tampil Terbatas

Endiarto juga menyebutkan bahwa film ini hanya mendapatkan izin tayang di 16 layar bioskop, termasuk jaringan XXI dan Sams Studio. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah layar yang tersedia cukup terbatas, sehingga penggemar film harus lebih proaktif dalam mencari informasi tayangan.

Asisten sutradara, Arry WS, menambahkan bahwa pihak produksi sudah menawarkan film ini ke berbagai bioskop jaringan Sams Studio dan XXI. Ia memberikan apresiasi terhadap bioskop-bioskop tersebut yang telah menerima film ini dengan baik. Menurut Arry, jika penjualan tiket meningkat, maka itu akan menjadi kabar gembira bagi seluruh tim.

Sams Studio: Bioskop Berbasis Budaya dan UMKM

Jaringan bioskop Sams Studio, yang dikabarkan akan menayangkan Merah Putih One For All, merupakan perusahaan pengelola bioskop di Indonesia yang didirikan pada tahun 2024. Didirikan oleh Sonu Samtani dan Raffi Ahmad, Sams Studio memiliki konsep standalone—artinya tidak terintegrasi dengan pusat perbelanjaan, tetapi memiliki gedung sendiri.

Tujuan utama Sams Studio adalah menjadi pusat kebudayaan serta mendukung UMKM. Fokusnya adalah daerah-daerah di Pulau Jawa yang bukan kota besar, seperti Cibadak, Cianjur, Garut, dan lainnya. Selain itu, Raffi Ahmad juga terlibat dalam proyek ini, termasuk dalam penyediaan makanan dan minuman di bioskop melalui RANS Entertainment.

Anggaran Besar, Kualitas Animasi Diperdebatkan

Merah Putih One For All adalah film animasi Indonesia bertema nasionalisme yang dijadwalkan tayang mulai 14 Agustus 2025. Film ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail, dengan Toto Soegriwo sebagai produser utama dan Endiarto serta Bintang Takari sebagai sutradara dan penulis naskah.

Meski anggaran produksinya mencapai Rp 6,7 miliar, kualitas animasi film ini dinilai buruk dan kaku. Beberapa pengamat menyebutkan adanya dugaan penggunaan aset visual stok dari situs animasi seperti Reallusion. Trailer film ini yang dirilis di YouTube juga dibanjiri kritik dan meme, membuat film ini menjadi sorotan publik.

Plot Film yang Mencerminkan Persatuan

Cerita film ini berfokus pada sekelompok anak yang terpilih menjadi “Tim Merah Putih” untuk menjaga bendera pusaka, bendera yang selalu dikibarkan pada setiap upacara 17 Agustus. Namun, tiga hari sebelum upacara, bendera tersebut hilang. Delapan anak dari berbagai latar belakang budaya seperti Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa bersatu dalam misi heroik menyelamatkan bendera pusaka yang hilang secara misterius.

Mereka melakukan petualangan menelusuri hutan, menyusuri sungai, hingga menghadapi konflik batin. Film ini penuh dengan momen lucu, menegangkan, emosional, dan menggugah jiwa, sarat nilai persatuan, persahabatan, dan semangat cinta nasionalisme anak-anak Indonesia masa kini.

Informasi Lengkap tentang Film

  • Produser: Toto Soegriwo
  • Sutradara: Endiarto, Bintang Takari
  • Penulis Naskah: Endiarto, Bintang Takari
  • Produksi: Perfiki Kreasindo
  • Durasi: 1 jam 10 menit
  • Format: 2D
  • Rating Umum: Semua Umur

9 Episode Running Man di Rumah Anggota, Seru Sekali!

Keunikan dan Kenangan Episode Running Man yang Berlatar Rumah Anggota

Variety show Running Man dikenal dengan konsep acaranya yang selalu segar dan kreatif. Mulai dari misi seru hingga perlombaan penuh strategi di lokasi-lokasi tak terduga, setiap episode selalu membawa kejutan yang menarik perhatian penonton. Di antara semua formatnya, episode yang berlokasi di rumah para anggota menjadi salah satu favorit penggemar. Momen seperti ini menghadirkan nuansa intim dan personal yang jarang terlihat, serta menampilkan sisi kehidupan sehari-hari para anggota di balik layar.

Dari rumah Kim Jong-kook yang dipenuhi alat olahraga hingga kunjungan tiba-tiba ke rumah Lee Kwang Soo yang penuh kejutan, tiap episode semacam ini selalu membawa tawa sekaligus rasa keakraban yang hangat. Tak jarang pula para member diminta untuk membantu bersih-bersih, menjalankan misi rahasia, atau sekadar menggoda pemilik rumah dengan gaya hidupnya. Berikut adalah sembilan episode Running Man paling berkesan yang mengambil latar di rumah para anggotanya.

1. Episode 247 (Rumah Lee Kwang Soo)

Episode 247 Running Man dibuka dengan aksi para anggota yang menyelinap ke apartemen baru Lee Kwang-soo tanpa sepengetahuannya. Di sana, mereka melakukan berbagai misi tersembunyi dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Mulai dari mencari rambut sepanjang 30 cm, menemukan makanan kadaluarsa di kulkas, sampai menemukan celana dalam legendaris yang sering dikenakan Lee Kwang Soo.

Di episode ini, Lee Kwang Soo akan menjadi bintang utama, di mana anggota lain harus berusaha memenangkan hatinya untuk menghindari hukuman. Namun, ternyata misi utama para member adalah membuat Lee Kwang Soo percaya bahwa dia adalah “bintang” utama dan pemilik kekuatan penuh dalam episode tersebut, padahal justru dialah target utama dari misi rahasia.

2. Episode 256 (Rumah Ji Seok Jin)

Pada episode 256, boy group 2PM datang dengan anggota lengkap di Running Man. Mereka kemudian bergabung dengan Song Ji Hyo dan membentuk sebuah tim. Sementara itu, anggota Running Man lain bersama dengan Baek Jin Hee akan menjadi tim lawan.

Misi yang dilakukan pada episode ini adalah menemukan rumah seorang penggemar. Kedua tim pun bersaing untuk mengumpulkan berbagai petunjuk lewat beberapa misi seru. Semua petunjuk ternyata mengarah ke apartemen milik Ji Seok Jin, dan ternyata penggemar yang turut berpartisipasi di sepanjang misi adalah Ji Hyun Woo, putra semata wayang dari Ji Seok Jin.

3. Episode 274 (Rumah Kang Gary)

Pada episode 274, setiap anggota Running Man akan dipasangkan dengan para bintang tamu. Di antaranya ada Niel (Teen Top), Kim Kwang Kyu, Min Kyung Hoon, Jo Jung Chi, dan Park Soo Hong. Namun, berbeda dengan anggota lain, Kang Gary dan HaHa yang sama-sama anggota tetap dan dikenal sebagai rival abadi malah berpasangan dalam episode ini.

Permainan dimulai dengan mereka saling menjemput di rumah tamu masing-masing, termasuk HaHa yang mengunjungi rumah Kang Gary. Di sinilah terungkap rumah baru dari Kang Gary yang cukup mewah dengan jendela menghadap Sungai Han. Penonton juga bisa melihat interior rumahnya yang tertata rapi, lengkap dengan rak yang penuh dengan koleksi sneakers, serta studio rekaman pribadi tempat Kang Gary menciptakan karya-karyanya.

4. Episode 349 (Rumah Yang Se Chan)

Kini giliran Yang Se Chan yang kedatangan para anggota di rumahnya secara tiba-tiba. Sebelumnya, para anggota telah diberi misi untuk membeli sebuah kado berupa barang yang diyakini tidak dimiliki oleh Yang Se Chan. Sayangnya, banyak anggota yang harus kehilangan poin karena ternyata Yang Se Chan telah memiliki barang tersebut.

Karena merupakan salah satu bagian dari rangkaian Global Project, pada episode 349 ini, mereka berusaha memenangkan misi agar terhindar dari hukuman ekstrem. Masih bertempat di rumah Yang Se Chan, berbagai misi sederhana dilakukan. Di misi akhir, mereka melakukan pemungutan suara rahasia untuk memilih siapa yang harus menerima penalti.

5. Episode 504 (Rumah Jeon So Min)

Rumah Jeon So Min muncul di segmen akhir Running Man episode 504. Kala itu, Lee Kwang Soo dan Yang Se Chan pergi mengunjungi Jeon So Min yang tengah absen selama beberapa episode karena sakit. Bukan tanpa alasan, kunjungan dari dua anggota Running Man ini didasari dari hadiah yang diterima Yang Se Chan, yakni kesempatan untuk mengunjungi rumah Jeon So Min, meskipun sebenarnya bukan hadiah seperti itu yang ia harapkan.

Sementara itu, Lee Kwang Soo hadir untuk menemani Yang Se Chan karena dirinya merasa akan canggung jika hanya datang sendirian. Lucunya, Lee Kwang Soo malah terlihat terabaikan seakan menjadi “nyamuk” bagi kedua rekannya yang memang terlibat love line di acara ini.

6. Episode 610 (Rumah Kim Jong Kook)

Di episode 610, Kim Jong Kook mengadakan pesta rumah baru. Rumah Kim Jong Kook sendiri sebelumnya sudah terekspos di acaranya yang lain, yakni Mom’s Diary. Namun, ini pertama kalinya ia mengizinkan para anggota Running Man untuk syuting di kediamannya itu.

Mereka kemudian diberi lima misi, di mana setiap misi bernilai 500 dolar jika sukses dijalankan. Salah satu misi yang mereka lakukan adalah menebak kata-kata awal dari sebuah peribahasa, di mana setiap anggota mendapatkan tiga kesempatan. Di akhir episode, tingkat stres setiap anggota diukur. Anggota yang menunjukkan peningkatan stres paling tinggi akan mendapat hukuman.

7. Episode 741 (Rumah Kim Jong Kook)

Running Man kembali mengunjungi rumah Kim Jong Kook untuk menjalankan misi. Tepatnya pada episode 741 mereka melakukan pertandingan bertajuk “Lomba Zona Pembersihan Berat S.O.S”. Sebelumnya, kru produksi menerima informasi dari para anggota mengenai kondisi rumah Jong Kook yang penuh dengan barang-barang, termasuk kantong plastik dan barang bermerek yang tidak terpakai.

Sesuai judulnya, mereka akan membantu membersihkan rumah Kim Jong Kook. Mereka juga diberi kesempatan untuk memilih barang yang diinginkan, untuk mendapatkannya mereka harus memenangkan sebuah misi terlebih dahulu.

8. Episode 747 (Rumah Choi Daniel)

Running Man menyambut aktor Choi Daniel sebagai anggota sementara dalam episode 747 yang berjudul “Let There Be a New Family Race”. Bahkan, Yoo Jae Suk, HaHa, dan Yang Se Chan pergi ke rumah Daniel dan ditugaskan untuk membawanya ke lokasi syuting lebih awal tanpa memberitahunya secara langsung. Uang yang didapatkan dari misi ini akan digunakan selama syuting. Namun, jika Daniel mengetahui misi rahasia tersebut, anggaran yang diterima akan semakin berkurang.

Perlombaan berlangsung seru dengan Daniel yang memperlihatkan keunikannya di antara para anggota. Semakin sedikit uang yang mereka miliki, maka semakin banyak anggota yang harus menerima hukuman.

9. Episode 762 (Rumah Ji Ye Eun)

Terakhir adalah episode 762, di mana mereka mengunjungi rumah anggota baru Running Man, yakni Ji Ye Eun. Untuk menyambut para anggota, Ji Ye Eun sempat mengajak mereka untuk melakukan tur di rumah barunya tersebut. Ia menunjukkan sisi-sisi rumahnya yang terlihat sangat estetik.

Setelah itu, mereka berkumpul untuk membuka setiap hadiah yang dibawa anggota lain untuk Ji Ye Eun. Namun, suasana menjadi tegang ketika Ji Ye Eun menunjukkan sisi perfeksionis dan memberikan penilaian ketat terhadap setiap hadiah yang diterimanya. Para anggota pun berusaha keras agar hadiah yang mereka bawa lolos seleksi.

Episode-episode berlatarkan rumah seperti ini bukan hanya memperlihatkan keunikan karakter tiap anggota, tapi juga menunjukkan kedekatan mereka satu sama lain yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Lewat interaksi spontan dan suasana non-formal, penonton dapat merasa seolah ikut menjadi bagian dari keluarga besar Running Man.